BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
MISI JEPANG



Matahari perlahan mulai menyapa kembali dunia, di mana dunia itu memiliki banyak makhluk yang bahkan hanya di kenal dalam mitologi ataupun dongeng. Shine kini bisa memejamkan mata dan melihat apa saja dahulu yang dirasakan, bulir air mata kembali memupuk. Dan Shine hentikan tak ingin mengingatnya.


Di suatu rumah sederhana di tempat terpencil suci timur, seorang wanita keluar dari rumah dengan baju yang agak tebal, dia melakukan itu untuk melindunginya dari rasa dingin pagi hari yang menusuk poro pori.


"Masih kedinginan?" tanya Leon.


"Sedikit sih, berapa lama kita disini?" tanya Shine.


"Tiga hari paling cepat, ingat dia dulu sudah banyak mengambil uang jelata, aku berusaha ingin mengembalikannya. Jadi aku mempercayai kamu soal ini. Tanpa kamu Shine aku tidak bisa melakukan ini sendirian."


Shine yang mendengar Leondra, ia terdiam dan merasakan sesuatu yang membuat dirinya berbeda dari manusia serakah dan memintingkan dirinya sendiri.


Penglihatan Leon penuh dengan warna, karena kemampuan yang di berikan Sinar pada jari Shine itu, dia jadi bisa melihat sesuatu yang berbeda dengan orang lain.


Wanita yang sudah hampir dua tahun terlahir kembali di dunia itu, dengan status sebagai calon pengganti istrinya terhebat sepanjang masa. Ia memiliki mata Heterochromia seperti kehidupannya yang dulu ia benci, namun sekarang ia menyukai mata itu.


Kemampuan yang di miliki mata yang dulu dia benci, dapat membantu makhluk yang dia temui sehingga dia pun di kenal sebagai malaikat suci.


Ia menghirup udara pagi hari yang segar bersama shine, lalu bersiap untuk pergi mengantarkan potion yang dia buat untuk makhluk yang ada di sana. Tentu saja, mereka bersahabat dengan wanita itu karena selain memiliki kemampuan membuat potion yang manjur, dia juga di hormati karena menjadi anak angkat dari roh pohon agung pelindung hutan suci di zaman kuno.


Seekor kucing gemuk dan imut meregangkan tubuhnya, ia diam di depan Shine yang sedang menunggu sesuatu.


"Sudah hampir dua tahun kamu tinggal di sini, bukan kah waktu berjalan begitu cepat Jie?" lirih Shine saat Leon pergi dari kamarnya.


"Shine, setelah Leon menemukan buku kuno kita, kamu tidak berniat menunda pulangkan? Shine kita harus kembali, membiarkan raga Hawa memang benar benar telah tiada."


"Jie, aku masih membantu Leon mengambil uang yang di curi petinggi manusia rakus, tapi aku merasa kasihan. Bagaimana Leon memiliki mata raja System. Sementara ia bukan pemilik aslinya. Apakah dia juga terlahir kembali, dan sama sepertiku menjalankan misi untuk bisa kembali?"


Shine menatap kucing, Jie meminta Shine tidak tertipu rayuan sikap manusia yang lembut. "Shine, dunia manusia kejam. Kita bukan berasal dari mereka."


"Jie, aku tahu. Tapi aku tidak tau apakah di sini bisa berubah atau tidak, entah kenapa aku memilik hati mirip manusia."


"Tentu saja kau terlahir sebagai manusia, punya hati dan iba. Sedangkan aku kucing yang hanya bisa melompat lompat." marah Jie ia turun dari balkon ke bawah.


Shine melihat kucing Jie, hanya bisa menghela nafas.


Mata Shine terlihat berkilau di bawah matahari pagi, itu karena matanya kini menjadi seperti dua buah kristal yang sangat indah. Awalnya mata Shine hanya beda warna saja, dan tidak berkilau seperti sekarang.


Ia melihat ke sebelah rumah, tepatnya ke arah seorang pria yang tak di sangka sudah bangun dari dunia mimpi, pria itu sedang berlatih menggunakan pedang dia juga memakai pakaian tipis di pagi hari yang dingin ini.


Terlihat dari kejauhan, pedang miliknya mengeluarkan semacam aura berwarna merah sama seperti warna matanya yang indah.


Rambut silver pria itu sedikit berkibar karena angin pagi, tubuhnya terlihat lelah namun matanya masih memancarkan semangat yang membara, Albert sudah latihan sejak pagi tadi bahkan Shine pun tak mengetahui kapan dia keluar rumah.


"Dia sudah bangun sejak pagi buta, aku pikir dia akan kabur atau semacamnya tapi ternyata dia hanya latihan lagi."


Leon sambil menatap tempat yang sama dengan Shine, mata Shine terfokus melihat teknik berpedang yang di lakukan Albert, menurutnya itu indah meski dia tak terlalu mengerti. Jie si kucing sudah berada di samping Albert, yang konon dia adalah klien kedua Shine untuk mencuri data keuangan yang telah mereka ambil.


"Benar, dia sudah terlalu banyak menikmati fasilitas milik rakyat jelata. Sudah saatnya dia dimiskinkan!" ujar Leon.


"Hik, dasar manusia tidak punya hati." cibir Shine.


Shine mengabaikan ucapan Leon, ia berjalan mendekati Albert yang sangat fokus hingga ia tak merasakan Shine mendekat.


"Wah, anda hebat sekali ya tuan."


Shine mengatakan itu sambil berjongkok memperhatikan sesi latihan Albert, keranjang yang dia bawa ia taruh di sebelahnya. Albert menoleh ke arah Shine lalu sedikit mengelap keringat yang ada di dahinya dan tersenyum simpul.


Hal itu membuat jantung Shine kembali berdetak tak karuan, damage pagi hari bagi Shine melihat pria ganteng selalu tak karuan bagai wanita centil dan kepanasan.


"Shine, ingat misi!" pesan dari layar ponselnya itu, dari Leon. Sementara Shine hanya mengehela nafas.


Sedangkan Leon hanya memutar bola matanya malas, ia tahu jika Shine ini tak tahan dengan wajah Albert. "Dasar wanita zaman kuno, apakah di dunia sana tidak ada pria tampan, jelas aku lebih tampan." gerutu Leon dari balik tirai, masih mode memperhatikan Shine.


"Tuan butuh ini?" Shine senyum, memberikan pedang kuno.


"Terimakasih, namun menurut saya ini masih belum cukup kuat."


Shine terdiam saat mendengar ucapan Albert, terdengar banyak beban saat ia mengatakan itu, Shine tak mengerti maksudnya namun ia juga tak ingin menggali lebih dalam. Menurutnya, tak baik jika menanyakan masalah pribadi pada seorang yang belum lama ia kenal. Jadi, Shine berdiri lalu bersiap untuk pergi.


"Jangan berlatih terlalu keras sampai memaksakan diri anda, tuan Albert. Saya akan pergi ke desa para jepang dan menemui ayah angkat saya, anda boleh makan makanan yang ada di meja! saya merasa beruntung bisa bertemu dengan orang penting seperti anda." alibi Shine.


"Tunggu, nona Shine anda berlebihan. Tapi apa saya boleh ikut?"


Shine terdiam sebentar, namun sesaat kemudian ia mengangguk setuju.


"Boleh saja, tapi anda harus berjanji jika nanti anda pergi dari hutan ini, maka anda harus merahasiakan hal yang anda lihat hari ini."


Shine menjeda ucapannya sejenak, ia mengatakannya sambil meletakan jari di bibirnya, lalu menatap Albert di depannya dengan tatapan datar.


"Tapi, jika anda tak bisa jaga rahasia. Maka nyawa anda menjadi taruhannya, karena di makanan yang anda makan kemarin, sudah saya berikan ramuan sumpah yang membuat anda mati jika mengatakan rahasia hutan."


Albert terkejut, "Nona Shine anda bicara apa tadi?"


"Ah, aku tidak bicara Tuan." senyum Shine.


Dengan jentiknya, Shine memutar mata dan menunjuk layar ponsel sandi milik Albert dari jauh, untuk memindahkan data keuangan milik tuan Albert dalam hitungan detik.


'Yes, misi berhasil.' gumam batin Shine, sehingga kali ini Leon senyum dari ujung balkon. Meninggalkan Shine untuk memastikan Albert tidak tahu, jika dirinya sudah miskin detik itu.


Tbc.