
Leon akhirnya menemukan Shine, ia terlihat pucat dan tubuhnya dingin. Beruntung saat dilarikan ke rumah sakit. Shine tak apa apa, setelah ia siuman pun. Leon senang kala Shine memang benar ia bertemu dengan Ben, tapi endingnya ia yang sudah akan pergi menuju ke rumah. Ia menatap jembatan yang teramat dingin seperti salju. Dan Shine belum terbiasa.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
"Leon dan Shine mau datang, mereka menunggu kita di bukit PE. Kamu bersiap ya!"
"Ya, mas Leon. Aku bersiap dulu, tumben mama ga bilang kalau mau datang. Tapi kalau dia ke desa ini, udah pasti bakal heboh dan bilang ke mama kamu."
"Aku, minta maaf sayang. Sepertinya kita akan pindah tempat lagi, gimanapun kita masih di sekitar banyak musuh. Aku ingin dia ga menemukan kita. Mas minta bantuan juga ke Jacky, karena kamu harus ada yang mengawasi."
"Mas aku baik baik aja kok." jelas Shine.
"Sayang, kandungan kamu rentan. Mas akan menuntut siapapun, dan mas pasti akan jarang di rumah. Kalau mas biarkan kamu sendiri di sini, berapa banyak lagi masalah kecil hingga besar yang harus kamu hadapi sendiri di saat ga ada mas."
Shine memeluk Leon, ia sangat bersyukur kala Leon mengerti ketakutan apa yang terjadi kelak. Beberapa kali ia lemas, pingsan ternyata ada jiwa yang tumbuh di perutnya.
"Kamu benar mas, kita sudah seharusnya tidak diam saja."
Kini Shine sudah duduk diam di dalam mobil, bersama dengan Leon tentunya. Shine itu sosok yang bersuka riang, tidak menyangka kehidupan di saat sakit, Shine masih mau menerima dan mendampinginya.
Leon menanyakan lokasi cafe yang ingin didatangi oleh Jacky dan mama mertuanya saat itu dan membawa istrinya yang terlihat riang bagai anak kecil.
"Ini kan, cafe yang mau kamu datangi?" tanya Leon, saat mereka telah sampai di sana. Shine mengangguk antusias.
"Benar mas, aku pernah ingin datangi tempat ini." terkesan, karena bangunan yang indah dan membuat nyaman pengunjung.
Leon menepis rasa ibanya. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengorek informasi tentang masa lalu Shine yang sudah jelas tak bahagia itu. Leon juga tak punya rencana lain.
"Ini menunya, silahkan pilih mana yang kamu mau," ucap leon seraya mengulurkan kesedihan, selembar menu yang diambilnya dari meja pelayanan saat mereka masuk tadi.
Kedua mata Shine tampak berbinar binar. Leon harus setengah mati menepis rasa bahwa aura bahagia ini membuatnya semakin mempesona.
"Aku mau makan ini! tapi mas, gimana kita membayarnya? aku pesan teh manis aja." seru Shine seraya menunjuk ke arah menu super combo kue red velvet dan cheese cake yang berukuran jumbo. Tapi ingat jika Leon kritis keuangan. Ga jadi deh mas." sedih Shine.
"Ga apa sayang, Kamu yakin ga mau makan, mas yang pilih aja ya, yang tadi kamu mau ya?" tanya Leon tak percaya.
"Iya, udah aku pesan ini!" jawab Shine pasti.
Leon melengos menuju ke counter dan memesan pesanan Shine, yang menurutnya absurd itu.
Tak lama Shine menatap layar ponselnya, dan itu adalah supir Leon, yang membawakan dompet Leon yang tertinggal.
'Leon, supir udah mendekat antar dompet kamu. Boleh aku tambah pesanan lainnya?" gumam Shine, membuat Leon tak percaya jika Shine sangat banyak makan hari ini.
"Tentu boleh sayang." senyum Leon, yang menatap Shine menunjuk makanan berat dan beberapa desert.
Tbc.