BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
BERDAMAI KARENA ORANGTUA



"Leon, kenapa mama dan papamu ada dirumah. Jika begini kita harus tinggal satu kamar dong?"


"Benar itu, tapi tidak sudi juga aku satu ranjang tidur denganmu. Aku dikasur, kamu di sofa."


"Dasar pria aneh, kau harusnya yang di sofa!" sebal Shine, setelah mereka kembali dari markas pengap dan gelap.


Nyatanya mereka tidak mendapatkan apapun kecurigaan money heist yang ditekuni mertua Shine saat ini. Hanya saja setiap ia menaikan telunjuk, ada banyak tenaga yang terkuras.


"Shine Hawa."


"Leon saat itu, apa kau mau menikah dengan aura cahaya?"


"Enggak. Kalau bukan karena bakti orangtua." cetug Leon.


"Lalu apa wajahku, benarkah kupingku lancip mirip kancil?" Shine makin melengking


"Benar sangat cantik, tapi namanya aja sih,"


"Leon kau menjengkelkan." makin jengkel Shine mendengar celetukan yang menyulutnya.


"Nona Shine, sabar, Bu." tukang kebun mencoba menenangkan, saat yang bersamaan, ibu Lora datang, juga merasa makin tak nyaman memperhatikan temperamen Shine yang sering ambekan.


"Shine, kamu lama sekali sih. Mama udah tunggu loh, kenapa sih kamu jadi sering uring uringan." cetug sang mama.


"Shine masuk dulu mah, capek. Nanti Shine turun ikut bergabung." jelasnya.


"Mama Lora!" hormat Leon pada ibu mertua.


"Leon, ada apa dengan Shine?"


"Bukan apa apa, mungkin hanya ingin kawin saja." tawa Leon ikut masuk, hingga lupa akan perkataannya tadi.


"Apa?"


"Bukan, maksudnya kucingnya kesepian. Shine berusaha mencari kucing jantan, tapi kucing Shine mengamuk. Mama mertua, Leon masuk dulu ya."


"Oh ok, baiklah."


Hampir lupa apa Leon, ingin masuk kamarnya. Tapi Shine sudah berada di kamar kedua dan, Leon berusaha mengendap ngendap menuju kamar utama, lewat balkon kamar Shine.


Shine yang sedang memakai handuk berteriak, kala Leon tiba tiba saja masuk.


"Bisa diem gak, sory. Ga liat aku liat kamu doang pake handuk. Aku mau ke kamar, jalan satu satunya ya itu. Lewat balkon kamu, jangan berisik napa. Dasar wanita kuno." ketus Leon yang berlalu tanpa dosa, ia membuka jendela kamar Shine saat itu.


"Dasar manusia ga punya perasaan kamu."


Sesal dalam hati Shine, yang tak tahu bagaimana cara berpikir. Mama sampai setuju menikahinya dengan Leondra. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa lapuk miliknya, dengan hati tak tenang. Di temani kilat Jie si kucing yang kini datang, dan kilat merubah dirinya menjadi wanita cantik.


Kriing!!


"Astaga, kucing sihir. Kau berubah wujud ga kasih intro sih, bikin kaget aja." ucap Shine.


"Sory Shine. Kamu darimana tadi?"


"Markas Money Heist. Kamu tau jie, kapan kita bertemu pesawat kita."


"Sepertinya aku tahu, kamu tadi melewati kotak berlumut daun mint kan. Sepertinya jika kita bersatu, kita akan kembali pulang Shine. Satu minggu, berikan aku waktu satu minggu. Aku akan pergi dengan tugasku. Dan kamu selesaikan tugasmu dengan manusia pencari uang itu. Jangan lupa pamit!"


"Leondra, maksud kamu dia?"


"Siapa lagi, lagian kalian menikah hanya asal buat kedua orangtua kalian bahagia saja. Maksud aku ibu dari Hawa, tentu saja mata Leon melihat kamu itu Shine wanita zaman kuno yang terjepit di raga Hawa."


Shine ingat pernikahannya dengan Leon sebatas bisnis, dan mereka setelah itu tidur di masing masing kamarnya. Itu memang dilakukan di hotel ternama milik keluarga Leondra.


Selepas Leon setuju, pak Hartawan sigap mencari penghulu. Pernikahan ini tak mewah. Orang biasa sebut nikah bawah tangan, alias pernikahan yang hanya akan disahkan secara hukum agama. Tapi sebelum ijab kabul berlangsung, Leon sudah berkali kali mencoba mengulang pengucapan nama calon istrinya, Hawa Deluta menjadi Shine Hawa.


Seperti kebanyakan orang, yang jarang bicara menggunakan bahasa Indonesia. Biasanya H di baca S itu sesuatu yang lumrah. Tapi tidak untuk Leon menatap permintaan Shine, dia ingin sesuatu yang perfect. Shine Hawa ingin di panggil dengan perfect dengan julukan my Queen dia dahulu di zaman kuno, saat memanggil terdengar lembut dan tegas.


Tak lama, ketukan pintu membuat Shine membulat tajam. Ketika mama memintanya turun kebawah.


Tok Tok!!


"Sayang, turun kita makan bersama. Ajak suami kamu ya, atau mama buka saja pintunya?" teriak Lora.


"Mama, tidak mama. Kami pasti akan turun," balas teriak Shine, sebelum Jie berubah kilat kembali menjadi kucing.


'Astaga, melelahkan menjadi kucing diam diam.' guman Jie yang merengkut.


Tbc.