BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
SHINE GAGAL FOKUS



Shine lagi lagi menatap pesan, Leon sudah menunggunya di tempat tak jauh dari pusat perbelanjaan. Shine yang bersiap siap, ia segera memesan ojek online. Sementara setelah sampai diruangan bawah, terlihat mama Lora dan papa Gabin menyambut senyum.


"Hai, anak mama udah bangun. Gimana kamu nanti jadi nyusul kan?"


"Ya mah, Shine pasti bakal cepat menyusul ke acara mereka. Shine pasti akan datang, karena kerjaan Shine hari ini benar benar harus selesai hari ini juga."


"Sesibuk apa sih Shine, kamu mintalah sama Leon kerjaan kamu jangan banyak." cetus mama.


"Ga bisa gitu dong Mah. Shine kan kerja, masa nawar." jelas Shine, dan satu tangan lagi yang mengambil sepotong roti.


"Tapi, kamu itu kan wanita spesialnya. Masa ia dibiarin kerja capek banget." protes mama.


"Ya udah! hati hati Han. Terus kamu nanti nyusul acara nanti malam sama Leon kan?" tanya papa.


Shine senyum, lalu mengecup pipi kanan dan kiri sang mama dengan pamit. Shine berusaha mengalihkan untuk tidak menjawab.


"Shine, mama tanya belum kamu jawab?" teriak papa.


"Semoga pah. Bye mama .. Bye papa."


Mama hanya mengoceh sebal, bukan lagi kesal delapan puluh derajat. Tapi memang sikap Shine sudah seperti itu dari pabriknya. Sosok Shine mirip dengan sang papa, bahkan wajahnya saja sangat mirip, dibanding sang mama.


Shine sudah sampai di tempat kerja, seperti biasa ia menaruh barang diloker. Tak lupa membawa dua benda yang ia siapkan sewaktu waktu Leon memberikan kode perintah.


Hingga dimana Shine mengirim pesan pada Leon. Setelah selesai ia menukar flashdisk. Shine meminta Leon bertemu dengannya di rooftop cafe star. Leon yang sedikit bingung, ia tertawa renyah dan mengiyakan lewat pesan suara.


Shine kembali bekerja seperti biasanya, dan satu hal yang membuat Dewi menghampiri Shine saat itu.


"Shine, ini data dari bu Adelia. Kamu disuruh ke ruangannya!" ucap Dewi.


Took! Took.


"Permisi bu, bu Adelia ini berkas dan barang yang diminta." ucap Shine.


"Kamu, taro aja di meja ujung. Kalau sudah boleh keluar." ketusnya.


Shine segera menaruh, lalu kembali pamit. Dan dengan tatapan tak biasa, ia menatap ruangan yang terlihat sepi. Shine lihat jam dinding. Meeting masih membutuhkan dua jam lagi. Shine segera diam diam masuk ke ruang rapat penting. Ia mencari laptop yang Leon biasa gunakan. Mencari data, dan kembali mencuri keuangan asing yang diambil oleh klien licik, hanya dengan jari jentiknya semua pasword, kode dan pengaman lain terbuka.


Dengan tersenyum, ia kirimkan pada layar laptop Leon yang bersifat rahasia. Tak mudah diretas, selagi masih ada Shine, manusia sakti karena cahaya system, akan tetapi menetap dibumi.


Dalam meja oval terdapat delapan laptop. Bahkan di depan ruangan. Yang mungkin para bos duduk berada di tengah tengah, Shine segera menyalakan dan mengecek laptop mana yang akan Leon pakai, rapat hari ini.


Tanpa ragu, ia segera menyalin data dan menukar flashdisk dalam waktu yang tersendat cukup singkat.


"Astaga, tiga puluh menit. Keburu datang gak ya klien lain rapat, di ruangan ini?" gugup Shine.


Dalam waktu menunggu lama, dengan waktu tiga puluh detik lagi. Benar saja beberapa orang sudah akan masuk kedalam ruangan meeting. Shine segera mengumpat dibawah meja bangku yang Leon biasa gunakan. Mungkin jika dalam ruang rapat, ia tidak akan terlihat karena posisinya paling depan.


"Ya ampun, gara gara Leon, aku terjebak dibawah mejanya. Leon sialan, semoga yang rapat benar benar Leon. Jika pak Hartawan atau Jacky yang gantikan, aku benar benar mati, bingung menjelaskannya." gerutu Shine.


Shine berhasil mencabut flashdisk, dan benar saja semua telah berkumpul. Dan Shine terjebak dikolong meja tak bisa keluar. Suara serak basah terdengar jelas kala Leon menyambut semua yang hadir.


Namun Shine pengap, karena menatap sebuah tengah celana, bergelembung di saat dirinya berada ditengah kolong meja, memandangi kaki Leon yang lebar meski dalam balutan celana bahan.


Tbc.