
"Pagi sayang, sarapan udah aku buat." kecup Leon.
Shine membuka matanya, ia masih saja malu, menutup wajahnya dengan selimut tebal. Leon meraih tangan Shine, lalu berkali kali Shine di buai dengan ketulusan.
"Aku malu, Leon. Aku pasti jelek bangun tidur, aku belum mandi." ujar Shine dengan wajah sembab.
"Kamu tetap cantik Shine! dan aku ingin kamu tidak memikirkan foto dari Jie. Dia hanya ingin kamu kembali, tapi aku berharap kamu tetap bersamaku!"
"Heuumph. Makasih Leon." menutup wajah dengan selimut.
"Baiklah! aku rasa kamu tetap cantik, terlihat natural. Bersiaplah, aku tunggu di meja makan ya. Aku buat sesuatu untukmu." menyapu poni Shine yang tertutup.
Heuuumh! Shine mengangguk, ini adalah perasaan Shine yang tak pernah ia rasakan. Shine terasa sangat perih dibagian inti.
Shine masih mengingat jelas aksi semalam, beberapa kali Leon meminta nambah bagai, membeli makanan yang ditambah porsinya. Shine menjatuhkan kakinya ke lantai. Tubuh nya terasa remuk dan benar benar tidak nyaman.
"Ya Tuhan, apa sesakit ini rasanya. Lalu bagaimana rasa sakit melahirkan, apakah rasanya lebih perih." gumam Shine merasa takut.
Shine yang meminum susu, ia segera menghabiskan setengah. Lalu membersihkan diri seperti biasa. Air yang jatuh dari atas shower membuat Shine segar, melekat wangi sabun yang sangat harum.
Leon yang masih menyiapkan makanan, ia menatap daging asap dengan penuh ceria. Lalu mematikan ponselnya, jujur Leon sengaja ke dapur chef hotel. Karena ia ingin membuat makanan hasil dari tangannya sendiri, sehingga setelah berhasil ia segera menyiapkan sebelum Shine bangun dari lelapnya.
Shine yang telah berhanduk piyama, dan kepala yang di untal handuk kecil. Ia senyum menyapa suaminya. Lalu berlari ke arah rak! hingga akhirnya Leon mendekat dan merangkul pinggang Shine. Mendekat dengan memeluk.
"Sayang, apa kita berlibur hari ini juga?"
"Kemana, bukankah klien dari paris akan datang?" menoleh Shine, ketika wajah Leon sangat dekat.
"Sepertinya aku yang mengunjunginya, aku ingin kamu ikut!"
"Heuumph! suamiku, lalu aku ngapain disana?"
"Bersantai, tunggu aku didalam hotel. Berbelanja atau sekedar menunggu suamimu ini di ruangannya. Kalau perlu kamu ikut ke dalam ruangan meeting, tetap di sampingku melihat para klien money heist yang sedikit curang. Gimana?"
"Heeuh. Hahah, sumiku sayang. Aku tidak pantas membuntutimu yang sedang mencari nafkah. Apa kata klien nanti?" bisik Shine.
Gleeuk, alis Shine mengrenyit sebelah.
"Leon sayang, jangan berlebihan."
"Tidak apa, aku hanya ingin tau. Jika istriku ini selalu rindu dengan suaminya."
'Hah! rasanya aneh, seperti aku saja yang tergila gila padanya.' batin Shine.
Beberapa saat, Leon menghubungi Jacky. Ia meminta di persiapkan segalanya untuk ke paris.
"Selesai, bagaimana setelah ini kita ke furniture?"
"Apa tidak terlalu capek suamiku sayang."
"Aku sih tidak, tapi jika istriku tidak ingin.." mode mikir tempat yang ingin di kunjungi.
Dan saat Shine ingin membela dirinya, lagi lagi tali ikat di pinggang sudah terbuka. Shine sudah duduk di atas meja rias. Entah dari mana Leon sudah membuat mata Shine terpedaya, sehingga mereka kembali memadu kasih, membuat Shine terkejut dan berakhir melayang, dan kembali mandi bersama.
TEPAT SIANG HARI.
Shine sudah kembali membawa kopernya, begitu pun juga Leon. Mereka saling berpegang tangan, bak coklat dan permen yang manis dan selalu berdampingan. Bak coklat dan mede yang selalu berdempetan dan bersama, tak bisa di pisahkan.
"Sudah membaik kan? mau aku gendong?" goda Leon.
"Heuuhmh! ga perlu sayang, aku bisa. Lalu kopernya gimana Leon?"
"Lihat, bantuan datang sayang."
Tak lama pelayan datang dengan santun, menawarkan untuk membawakan koper miliknya. Sehingga Leon menarik Shine ala bridel style, Leon tahu Shine sulit berjalan mereka menuju ke loby parkir, tanpa memperdulikan pelayan yang membawakan barang barangnya.
Tbc.