BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
PERNIKAHAN



Gedung di hotel ternama milik Hartawan, membuat seluruh kerabat berdatangan. Mama Lora dan papa Gabin yakni kedua orangtua Shine yang terlihat sumringah.


Acara akad sore tadi begitu lancar, Jie yang datang kini sebagai kucing lagi, naik ke atas balkon menuju tempat tidur pengantin. Shine merasakan sentuhan tangannya yang di genggam dan di sematkan sebuah cincin, tapi begitu menatap kedua orangtua mereka, Shine pun mencibir.


"Haah! kenapa dengan pernikahan seperti ini aku merasakan tidak bahagia,"


"Shine, itu hanya di lakukan oleh orang yang saling mencintai. Bukan seperti kita yang terjebak. Jadi aku pahami apa yang kamu takuti!" ujar Leondra.


"Leon, aku akan panggil kamu Leon. Ingat, sesuai janji. Kita bersama karena sebuah kesepakatan tanpa ada kontak fisik!"


"Ya, aku paham."


Lora dan Gabin menjamin seluruh tamu pak Hartawan. Hotel yang megah meski beberapa jam saja, cukup membuat lelah Shine dan leon. Hingga akhirnya mereka kembali ke kamar pengantin bersama, kala sikap manis di depan keluarganya mereka tampillkan.


"Sayang, mama akan langsung pulang. Selamat berbulan madu. Kamu anak mama yang cantik, sudah semakin besar."


"Bulan madu, bagaimana bisa bulan di satukan dengan madu yang biasa mama buat sandwich?"


Eheeeum!! "Bukan itu sayang, maksud mama setelah pernikahan akan ada hal manis di kamar pengantin, Loendra suami kamu akan memberitahunya." bisik papa Gabin.


Retno dan Hartawan selaku mertua sedikit tertawa karena menantunya sangat polos, ia pikir bulan dari langit bisa di campur madu lebah. Sehingga tatapan Leondra yang paham, ia lalu terdiam pucat ketika Shine menatapnya tajam.


'Jangan harap kamu memegang sedikit pun diriku nanti!' menatap Leon, lalu Shine lebih dulu naik.


Kedua orangtua Shine dan orangtua Leondra kembali makan malam, mereka sudah menuju pertemuan lain adat pesta yang di hadiri mereka berempat. Membiarkan Leon dan Shine beristirahat.


Dalam hati Shine ia merasa ambigu, mengapa seorang ayah bisa bercerai dan mudah tidak tinggal bersama, tapi saat ia menikah ia datang dan menemui sok jadi pasangan bahagia. Gerutu Shine hingga menepi kamar hotel.


"Shine, karena seorang gadis akan menikah, ia harus di walikan oleh ayahnya. Meski ayahnya seburuk apapun, atau telah berpisah sekalipun maka hari seperti inilah." ucap Leon.


Shine melirik tegas," Aku tidak sedang bertanya padamu Leon."


"Tapi aku mendengar kamu mengoceh, jadi aku merasa harus menjawab semampu ku."


Krek!


Pintu pengantin terbuka, Shine menatap seluruh bunga bertebaran di lantai, satu lampu ia nyalakan dan perlahan hingga lampu kelima begitu terang. Shine bingung menatap seluruh lantai dan seisi rungan seperti sampah.


"Fungsi bunga ini di lantai, di bathub, kasur. Untuk apa Leon?" tanya Shine.


"Hanya hiasan saja." balasnya.


"Merepotkan, lalu untuk apa ada di kamar pengantin jika semuanya menyusahkan, apa setelah jadi pengantin harus membuang seluruh bunga ini. Panggil petugas ob sekarang leon!"


"Petugas kebersihan biasanya akan kembali bekerja besok pagi Shine."


Leon menarik Shine, kala itu mereka menatap sejajar berdiri, posisi Leon sejajajr menatap bungkuk, hingga tangannya menarik pinggang Shine kala itu dan semakin erat.


Plaak!! tamparan mendarat.


"Mau apa kamu?"


"Shine, aku sedang memberitahu padamu. Jika setelah menikah, kegunaan kamar pengantin seluruhnya adalah seperti ini." ujar Leon merapatkan tubuhnya, hingga sejengkal mereka menatap.


"Tidak perlu, kita tidak perlu melakukan hal lebih. Apa manusia setelah berpelukan seperti tadi akan mempunyai anak?"


Leon tertawa, benar benar jiwa bukan manusia, tapi raga manusia. Aneh dan lucu.


Shine yang langsung mendorong tubuh Leon, ia segera menjauh dan mencari keberadaan jie.


"Jie." teriak Shine.


"Kamu panggil kucing itu Jie?" tanya Leon kebingungan, kala kucing Shine sudah ada di sana.


"Ah! aku lupa, benar. Benar sekali, dia Jie kucingku. Sama dengan temanku." ungkap Shine yang lupa masih ada keberadaan leon di belakangnya.


"Baiklah, sepertinya malam ini keberadaan orangtua kita sudah tidak ada di hotel. Lagi pula aku sudah memberitau pada seluruh staff hotel, jika ada apa apa beri tahu aku Shine!"


Shine menatap Leon yang mengambil pakaian ganti, sementara Jie menutup mata dengan tangan kucingnya, karena malu. Ia bicara saat sudah berdua saja dengan Shine.


"Shine kau tau, aku hampir mati kala kamu sangat dekat seperti itu. Ah! andai aku tidak berubah jadi kucing." ungkap Jie.


"Dasar kucing me-sum. Kau ini bisa bisanya seekor kucing punya pikiran pengantin. Bisa Jie, kau harus cari kucing kampung jantan di pinggiran rumah kita. Jika sudah ketemu, aku akan bantu nikahkan ya." tawa Shine dengan menggoda Jie.


"Heuumph! awas saja kau Shine, aku akan dapatkan pangeran tampan, jauh dari pria yang saat ini dekat denganmu!" kesal Jie.


Shine yang sudah berganti piyama, ia merebahkan dirinya di kasur sofa bed besar. Menjatuhkan seluruh kembang dengan sapu lidi, yang kini berada di lantai. Saat ia pejamkan matanya. Benar saja ponselnya berdering.


"Shine, misi pagi besok adalah bertemu klien dari inggris, kamu harus bisa memecahkan meretas nama ip yang kita punya tidak diketahui, dan bantu aku dengan jarimu yang berguna itu agar sistem kerusakan dari mesinnya, bukan sebuah system perusahaan kita yang mengobrak ngabriknya!"


Shine meluruskan jari manisnya, dengan sekejap saja ia bisa tahu siapa orang yang akan ia temui besok pagi.


"Jie, bantu aku untuk melihat misi mereka, apakah mereka curang datang menemui kita?!'


"Tentu Shine, aku akan membantumu. Meooow."


Tbc