BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
PERASAAN ANEH



Aku tak tahu kapan aku ada di antara situasi ini, tapi. Kuharap siapapun dapat menghentikan mereka! ujar Leon, yang menatap Shine mengerti. Jika ia bukan memanfaatkan Shine yang mempunyai kelebihan.


Sekarang, Shine dan Leon terlihat sedang saling menatap dengan perasaan tak suka, awalnya aku hanya ingin melihat Albert latihan saja.


Tapi saat aku mengatakan jika aku percaya padanya, dia malah mencium punggung tanganku. Yah aku bukannya tak suka sih, sialnya Leon yang datang entah dari mana melihat kejadian itu, dan sampailah aku ke situasi saat ini.


"Berapa banyak lagi membagikan makanan?"


"Masih ada tiga karung, tugasmu pergi ke sebelah kiri. Jangan kembali sebelum habis, dan ingat jangan pakai kemampuan melayang dengan jarimu itu, jika tidak. Orang akan melihat kamu sebagai Jin."


"Hey, aku bukan Jin." sebal Shine, ia mengambil tiga karung makanan, untuk dibagikan pada penduduk jelata yang membutuhkan.


Ternyata di balik wajah Leon yang tenang dan lembut, ia juga memiliki tatapan tajam dan dingin.


"Aku pikir mereka tak akan sebentar! Shine aku sarankan jika kamu cepat bertindak, sebelum rumah mu di dunia kita hancur karena pertarungan mereka. Ingat hatimu bukan manusia seperti Hawa, bergegaslah misi berhasil untuk kembali pulang!" ucap kucing.


"Jie, kau datang darimana. Bagaimana bisa kamu lihat aku tadi?"


"Jelas, melihat kalian terlihat ada cinta. Hindari Shine, jika tidak aku tidak bisa kembali ke duniaku. Kau berjanji kan, kita akan kembali pulang bersama."


"Stop! aku masih ingat, Jie jangan lagi menggerutu seperti Leon!"


Shine pun membagikan beberapa makanan, ditemani Jie berjalan, meski bentuk kucing. Tapi semua orang mengangguk berterimakasih tak memperdulikan ia diberi berkat oleh orang aneh yang bicara dengan seekor kucing.


"Terlihat sekali mereka kelaparan, selain makanan juga uang. Misi Leon itu kenapa mencuri dan bukan untuknya saja?"


"Tutup mulutmu Jie! itu yang sedang aku pikirkan." balas Shine.


Mungkin sebagian orang akan melihat aneh, ketika Shine memberikan makanan dan sebuah amplop terlihat tebal, tapi Shine berbicara pada seekor kucing seolah mengerti bahasanya.


Dan saat ini, Shine kembali menatap Leon. Jie mengekor dibelakangnya. Seolah menjadi pengawal bagi dua pasangan sejoli yang telah menikah bagi kaum manusia. Tapi mereka tidak bisa sembarang bersatu begitu saja. Hanya sebuah identitas, perjanjian agar mereka bisa kembali ke dunia mereka masing masing.


"Kau sudah kembali, kenapa tidak menungguku?" tanya Leon saat sampai di rumah jepang.


"Aku sibuk membuat potion untuk di antar ke desa beast cheetah. Sekarang pun aku sedang dalam perjalanan ke sana."


Desa cheetah, Leon melepaskan pelukan tangannya di lingkaran tiang. Ia menatap Shine dengan tatapan berbinar.


"Untuk apa, tidak perlu." balas Shine, entah kenapa jika Leon dekat dengannya. Ada perasaan hati yang berbeda tidak karuan dan tak nyaman.


'Apa hati manusia dulu seperti ini, kenapa aku. Tidak misiku ingat Shine, tetap menjalankan misi. Aku tidak boleh punya perasaan lebih pada Leon. Jika tidak, aku tidak akan bisa kembali ke duniaku.' batin Shine.


"Kenapa diam? terbukti bukan, kamu menyukai sesuatu yang imut dariku?" goda Leon.


"Jangan bermimpi, aku tidak menyukai dirimu manusia. Aku biasa saja jika jalan bersamamu." alibi Shine.


Lagi lagi, Shine mengabaikan ucapan Leon. Meskipun memang benar, Leon tertarik pada jiwa Shine, meski seluruh orang akan melihat dirinya adalah Hawa. Tapi Leon mulai hanyut melihat waktu kebersamaannya dengan Shine.


'Aku memang kagum dirimu sebagai Shine, apakah aku bisa mengejarmu. Dan tetap tinggal di dunia modern, sungguh aku sepi dan butuh kamu Shine!' deru Leon.


Setelah itu Shine dan Leon pun berjalan kembali menuju desa beast cheetah, tidak memakan waktu seharian kami hanya perlu berjalan selama empat puluh menit saja lalu kami pun sampai di desa cheetah.


"Ngomong ngomong, mahluk kecil kita semakin imut saja! Aku ingin memeluknya apa boleh!?" ujar Shine kegirangan, lalu melihat Jie yang ikut berjalan dengannya.


Leon menatap Shine dengan tatapan harap, ia sangat suka sikap Shine saat ini, karena dia sangat imut. Leon menatap Shine yang ada di pangkuan kursi pohon.


"Shine, boleh aku bertanya?"


"Soal apa?" tanya Shine yang masih mengelus makhluk kecil di tangannya. Cheetah kecil itu kembali berlari menuju hutan.


"Jika aku menahan kamu untuk tidak pergi dari tubuh Hawa, apakah kamu akan tetap pergi ke duniamu?"


Terdiam Shine bingung dan gugup membalas pertanyaan Leon. Ia sepakat untuk tidak membalas dendam dirinya dahulu, hanya kembali pulang dan mencari ibunya adalah misi Shine saat ini. Meski cahaya bulan sepenuhnya belum ia dapatkan.


"Sampai saat ini, aku akan terus menjadi Hawa sampai waktu yang tidak di tentukan. Tapi tenang saja, aku akan menuruti kemauan ibu dari Hawa. Kuliahku di univ saat ini belum selesai, setidaknya saat aku kembali dan menemukan kekuatanku untuk pulang. Aku akan beritahu kamu Leon." senyum ringan.


Shine tersenyum lega, ada tatapan Jie kucingnya yang menatap tajam pada arah Leon. Ia tau apa yang ada di hati Leon saat ini


'Apa manusia selalu meminta lebih, aku harus hentikan Shine tidak jatuh cinta pada Leon. Meski hanya dia pria satu satunya yang berhasil melihat, siapa itu Shine dari zaman kuno yang terjebak.'


Leon mencoba mencari tau, apa kelemahan Shine agar ia tetap tinggal di bumi. Tidak peduli apa yang akan terjadi, Leon berusaha menarik rambut Shine yang jatuh, dan mengantonginya ke dalam saku.


Tbc.