BEHIND THE QUEEN

BEHIND THE QUEEN
PENYATUAN MISI



Leon yang panik, begitu Shine datang ia langsung memeluk erat bagai anak kehilangan ibunya, Shine terdiam dan bingung ada apa dengan Leon saat ini.


"Tubuhmu ga panas? kenapa keringat dingin?"


"Sampai kapan kamu menjauh?"


"Leon, aku tidak kemana mana. Hanya ada teman datang, lagi pula aku akan mengambil tas. Aku pulang mengambil barang papa, lihat mamaku datang lagi menjaga pagi ini."


"Aku ikut!" ucapan Leon, membuat Shine terdiam.


Shine pamit pada mama Lora, ia meminta sang mama untuk menjaga sang papa dengan sabar. Meski Shine tau, jika hubungan mama dan papanya tidak bersatu layaknya pasangan sah, tetap saja ikatan mereka begitu kuat karena dirinya..."


"Mama, baik baik ya! nanti Shine kembali siang."


"Ya sayang, hati hati kamu juga. Leon jangan ngebut!"


"Ya mah." saut bersamaan.


***


Di rumah.


Suara gemericik shower dari dalam kamar mandi terdengar memenuhi kamar saat Leon datang.


"Sepertinya Shine sedang mandi," bisik Leon di dalam hati. Sekujur tubuhnya seketika berdesir penuh damba.


Di sela sela suara seorang wanita yang tengah bersenandung lirih, sayup sayup ia dapat mendengar kecipak suara telapak tangan yang sedang meratakan busa sabun ke seluruh badan.


Hasrat purba Leon pun bangkit seketika. Ia usap bagian bawah perutnya yang mulai menggeliat seperti binatang lapar.


Bagian tubuh kebanggaan Leon yang memiliki ukuran di atas rata rata itu mulai mengeras di balik celana yang ia kenakan.


Perlahan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara, Leon menutup kembali pintu kamar serapat mungkin dan menguncinya.


Leon melangkah tanpa melepas tatapannya dari sosok tubuh wanita di dalam kamar mandi yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya sama sekali.


Pintu kamar mandi tampak berembun karena uap air panas.


Melalui pintu kaca kamar mandi yang berembun itu tampak samar samar, tubuh seorang wanita yang membelakangi pintu.


Sesaat kemudian wanita itu tampak membungkukkan badannya untuk menyabuni bagian kaki sehingga Leon dapat melihat bagian pinggul belakang yang indah dan menggugah selera.


Leon menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering.


Ia merasa darah di sekujur tubuhnya menderu deru seperti aliran sungai setelah hujan lebat.


Tanpa sadar, Leon kembali mengusap bagian bawah perutnya yang kini sudah mengeras sempurna seperti tongkat pentungan satpam seolah memberontak minta agar cepat cepat dibebaskan dari sarangnya.


Leon menunduk memperhatikan celana di bagian bawah perut yang tampak menggembung seolah ia tengah menyembunyikan seekor anak kucing di balik celananya.


Cahaya matahari sore bersinar cerah membanjiri kamar, melalui jendela samping yang tirainya dibiarkan terbuka lebar.


Seolah baru tersadar dari lamunan, Leon langsung menarik tirai jendela kamar hingga tertutup rapat dan segera melepas satu per satu pakaian yang ia kenakan.


Pakaiannya berceceran di lantai dekat pintu kamar mandi.


Sambil melepas celana mini, Leon mendongak memandang pada tubuh wanita di dalam kamar mandi yang tampak meliuk liuk di bawah kucuran air, seolah mengundang dirinya untuk segera bergabung di bawah pancuran.


"Apakah tepat jika aku meminta Shine melakukannya saat ini?" gumam Leon masih menyipitkan matanya.


"Kamu mau kan?" bisik Leon sambil menunduk memandang miliknya yang tampak mengangguk angguk seolah menyatakan kalau bagian tubuh kebanggaan Leon tersebut sudah siap untuk diajak bertempur.


Leon membasahi bibir menggunakan ujung lidahnya dan perlahan mengulurkan tangan mendorong pintu kamar mandi.


Suara kucuran air dan percikan air hangat langsung menyambut Leon begitu pintu terbuka.


Berdiri membelakangi Leon. Shine tampak sedang menikmati sekali kucuran air hangat yang mengucur dari shower.


Dengan gerakan yang terampil, Shine meratakan busa sabun ke bagian dadanya dengan gerakan memutar.


Tak mau membuang waktu lagi, Leon langsung menubruk tubuh Shine dari belakang.


Ia lingkarkan kedua lengannya ke dada Shine.


Di detik itu juga, wanita dalam dekapan Leon itu menjerit dan meloloskan tubuhnya dari belitan kedua lengan Leon.


Wanita itu membalikkan badannya dan Leon langsung merasa seperti disengat aliran listrik.


"Leon, sedang apa kamu disini?"


"Shine, a-aku. Aku ingin ikut berendam." gugup Leon, hawa panas yang menggelora membuatnya gugup mengatakan jujur.


"Gila ya. Kamu mau sentuh aku ya? Awas aja. Aku bakal laporin, kita itu tidak sah karena belum melakukan ritual. Leon, aku harus berpuasa dengan banyak larangan dan pantangan. Aku belum seutuhnya jadi.."


Huuph!! Leon tidak peduli, ia menutup rapat bibir Shine dan berkata dengan banyak satu hal yang membungkam Shine.


"Tapi kita sah, secara agama kita menikah selayaknya manusia. Larangan dan ritual antara serpihan cahaya dan masa lalu kita, biar kita hadapi bersama Shine! Shine aku mencintaimu." bisik Leon.


Shine menutup mata, memulai deserin apa yang tumpah disana. Aliran air berirama sama dengan penyatuan tubuh mereka, keringat bersatu dan seluruh bagiannya menempel sempurna dengan mata yang saling berhadapan. Kala Leon merapatkan miliknya dan pinggang Shine mendekat rapat.


"Aaaaahkh."


"Aku akan pelan Shine, kita adalah pasangan paling bahagia, tidak lagi zaman dulu yang merebut kebahagiaan kita!" bisik Leon yang sudah membuncah alirannya tersalurkan.


Sehingga lubuk hati Shine dan Leon kembali memutar zaman ia sebelum disatukan karena keegoisan seseorang. Mereka hampir disatukan dan menjadi ratu dan raja yang akan bersama, tapi sengatan listrik membuat mereka mati terlempar hingga berpisah.


Semua ketakutan Shine akan bencana ini bermula saat Raja System mengkhianati ratu cahaya yang ia pimpin.


Queen yang manipulatif dan haus kekuasaan telah mencuci otak lebih dari separuh anggota dan memimpin mereka untuk menggulingkan kepemimpinan yang sah.


Perang sesama anggota pun tak terhindarkan. Banyak yang mati, dan banyak juga serpihan yang mental ke dasar bumi. Sehingga mereka terlahir hidup dengan dunia serta profesi yang berbeda.


Shine bersuara keras, ia menyalakan air keras agar terdengar keras suara air, tidak enak jika bibi yang bekerja di rumahnya mendengar keluh kesah suara mereka yang menyatukan raga dan jiwa.


"Leon, seperti inikah penyatuan manusia?"


"Shine, ini adalah kehidupan kita yang terbaik. Nikmati saja, aku akan selalu membuatmu bahagia. Percayalah!"


Leon kembali melepas, hingga Shine yang terdiam memegang pinggir bathub. Merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan, ia menoleh pada wajah Leon yang tampak bersemangat.


"Shine apa yang kamu lakukan?"


Shine senyum mengeringkan air di bathub. Lalu membiĺas dengan air shower di atasnya, perlahan Shine maju dan mengecup milik Leon yang kembali bangun. Disanalah pernyatuan mereka kembali terjadi berulang ulang.


Tbc.