
"Shine?" bisik Leon.
"Heuump, aku angkat telepon dulu ya."
"Ya," senyum lembut.
Shine segera mengangkat telepon dari Jie. Lalu bicara jika dirinya tak jauh dari villa yang letaknya di kota. Hal itu membuat Shine terdiam, ia tau jika itu adalah milik keluarga dari Leon.
"Jie, kamu kembali bersama Jacky?" tanya Shine.
Sontag membuat Jie gelagap, dan menjelaskan jika dirinya bersama sang ratu keajaiban meminta hidup lebih lama dibumi menemani Shine. Jie juga menjelaskan kala saat itu Jacky mencarinya, juga mengantar sesesorang, yang ada project bersamanya.
Dengan hati kembali tenang, Shine meminta Jie menunggunya. Sekaligus ia ingin menemui Leon terkait hal penting.
"Ok. Aku tunggu ya Jie !" Shine menutup panggilan di ponsel lipatnya. Sejujurnya Shine tau, jika hati Jie ada nama Jacky dan sebaliknya.
Meski dalam hati Shine penasaran, apa yang ingin dilakukan Jie. Bicara hal penting apa sampai Jie kembali, jauh jauh menyusulnya ke bumi.
Tapi rasa kagum dan sulit melupakan sosok Jacky membuat Jie cinta dalam diam. Shine yakin jika perasaan Jie yang tumbuh saat ini akan kembali pergi dan pudar. Hanya menahan rasa sakit adalah hal terbaik, dan memutar pikiran untuk tidak menikah adalah simbol pendirian Jie. Hal itu agar Jie tetap bisa bersama dengan pria impiannya, dan mengalah, ia bisa ikut merasakan jatuh cinta dan betah tinggal di bumi.
"Mah! Jie sedang menuju kesini. Mama gak apa kan, kalau Jie, datang ke sini juga?" ucap Shine mendekat.
"Loh! ga apa dong. Jie itu udah kami anggap keluarga. Shine, Jie itu kan juga teman baik kamu. Sama Jacky juga kan? Leon, kamu undang Jacky ya. Jangan sibuk terus dia jadi detektif!" senyum mama Lora.
"Mama. Malu maluin aja, kaya anak abg aja maunya bakar bakar kaya di film." cetus Shine menggoda sang mama.
"Gak apa dong, detektif sombong dikit. Karena kita maunya villa papamu tetep ramai. Maka iklan dari Jie pasti kebantu,"
Shine terdiam, karena mama Jacky adalah salah satu pengikutnya di tmeet bergambar burung berwarna biru dan i9 berlogo merah dengan kode timbangan pake gram. Hal itu juga membuat Shine termalu malu dan menahan tawa.
"Shine kamu tunggu Leon di sini ya! sambil tunggu sesi kostum iklan berikutnya. Leon temani Shine ya nak! mama mau ada hal penting ke dalam!"
"Ok mah." balas Leon yang senyum sambil menggeserkan mouse pada laptopnya.
Tak lupa mama Lora meminta Shine menunggunya, sambil menunggu kedatangan tamu lain.
Shine hanya senyum sesekali memandang wajah pangeran bumi di depannya. Karena ia kembali di poles make up tipis tipis oleh sang Mua.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Jie telah sampai di villa kota. Karena akses yang Jie punya tak bisa masuk. Ia melewati arah pintu belakang, karena security mengenalnya, dan kali ini saja Leon berada di sana sehingga Jie lebih mudah bertemu Shine.
"Hah, sudah lama banget ga ke tempat ini lagi." lirih Jie, yang telah menjadi manusia juga.
Menepi di jembatan, satu security menunjuk jalan setelah Jie memintanya lokasi kediaman Leon, yang saat ini sedang syuting program iklan. Kebetulan Parno mengenal Jie beberapa kali pernah bertemu bersama Leon.
"Loh, bu Jie ya. Cari Den Leon toh?" sambutnya.
"Iy kang. Boleh anterin saya mau ketemu Shine, istrinya Leon?"
"Of course. Oce oce baiklah."
Jie hanya tertawa, lalu berterimakasih. Karena ia melihat tante Lora, sedang duduk serius bersama dengan Shine di ujung sudut kanan.
Satu sampai lima langkah, Jie terhenti kala pembicaraan itu semakin intens. Jie mendengar perkataan Shine dan mama Lora yang serius sekali.
'Ahaaah, apa maksud mereka?' batin Jie bingung.