
Setelah Shine tahu, jika kamarnya sudah ada seseorang. Shine merasa kecewa, karena mama tidak memberitaunya jika Lara keponakannya tinggal di kamarnya saat ini.
"Mah, kenapa Lara ada di kamarku?"
"Iy, ga ada kamar lain sayang. Jadi mama bilang buat tidur di kamar kamu aja. Lagian kamu udah nikah, jadi gimana dong?" enteng mama Lora.
Duh, benar benar membuat hati Shine sakit. Ia lalu menghubungi Leon, agar segera menjemputnya. Atau Shine segera pergi menginap di hotel saja. Mama Lora meminta Shine berbagi kamar, hingga akhirnya Lara menemui Shine dan menyikapi berkata baik baik.
"Kak! aku hanya satu pekan menginap disini. Kost aku soalnya jauh dari tempat kuliah. Lara minta izin ya."
"Heeumph! mau ga mau, sudahlah. Kamu di luar dulu, aku mau pakai kamar mandinya." ucap Shine membuat Lara diam.
Shine yang membuka tirai, tubuhnya sedikit sakit. Kini rasa perutnya benar saja sudah membaik setelah meminum vitamin. Juga obat herbal yang dikirimkan Leon. Shine sedikit tersenyum ketika menatap pesan chat dari Leon. Tapi ia buyarkan untuk bersikap layaknya pasangan baik.
'Andai saja pria yang perhatian itu suaminya, meski dipertemukan dengan tidak baik. Tapi Shine merasa Leon tipekal setia. Shine tahu, jika Leon menikahinya karena Hawa kekasihnya. Dan Shine hanya perantara kehidupan baru.'
Shine membuyarkan pikirannya, ia merasa tidak perlu lagi bersikap dengan hati. Tujuannya adalah dendam, untuk apa juga bersama pria berlama lama di bumi.
Shine kembali turun kebawah anak tangga dengan hati hati, ia membuka pintu kala Lara sang keponakan sudah senyum padanya.
"Macet ya kak? ayo kak! kita makan bareng!"
"Enggak duluan aja!"
"Shine, mama ga bisa ikut, kurang fit nih, tadi kamu antar paket ke rumah eyang dulu ya besok. Mama nitip lagi."
"Iy mah."
"Shine, ga datang acara tunangan Bimo?"
"Ga mungkinlah Lara." ujar mama Lora.
"Owh! pantas, dadakan juga sih ya. Ya udah, kita langsung aja tante. Om Gabin mememintaku cepat datang, ke acara Bimo. Tante hadir juga ya."
"Ga tunggu suami kamu dulu, kalau dia nyariin gimana Shine?" ucap mama.
"Ga akan mah! lagian buat apa coba nyari. Nanti juga ketemu. Soal papa mertua, sudah dikirim pak Sapul juga."
Mama Lora kembali makan, lalu banyak tanya pada Lara yang kuliah di bidang apoteker. Ia berusaha ingin membuat sebuah racikan obat untuk orang yang membutuhkan.
"Lara ga bisa lama tante. Maaf kalau Lara besok izin pagi pagi keluar. Takut tante belum bangun."
"Iy, sampai nginep ya. Satu lantai di booking kaya hotel. Susah kalau orang kaya. Acara kamu Lara pasti meriah di kampus. Kamu kalau kemaleman, terlalu jauh. Pulang kesini aja ya! pintu terbuka kok."
"Iy makasih tante." senyum Lara.
"Iy, benar sih tante. Makasih ucapannya."
Shine mengitari sebuah pandangan pada jalan. Matanya tertuju pada sebuah gedung besar menjulang. Yakni Apartemen movie yang pernah Shine tau. Yakni itu adalah kediaman Lara tinggal. Lara juga ikut menyadari, jika tatapan Shine tertuju pada sebuah gedung berlantai. Ia tahu jika Shine tak suka dirinya terlihat akrab dan manis pada mama Lora.
"Lihat apa, pernah kesini Shine?" tanya mama.
"Itu kediaman seseorang perebut kebahagiaan. Lihat Mah! mobil itu keluar parkir kan?" jelas Shine yang ikut tersentag hatinya. Kala menunjuk sebuah video dari tablet.
Lara menoleh ke wajah Shine. Lalu menarik nafas dan meminta Shine untuk tidak goyah tujuannya.
"Kamu ga cinta sama dia kan? lantas kenapa kamu kaya cemburu gitu Shine?"
"Cemburu, mama salah tunjuk. Bukan foto pria, tapi yang ini!" ketus Shine. Membuat Lara menelan saliva.
"Loh, itukan Lara tinggal disana. Iya kan Lara?"
Tbc.