
"Kenapa tuh jidat?"
Argan yang sementara serius menatap layar komputer hampir saja terjungkal dari kursinya. "Sialan lo!" hardik Argan kesal, sebelah tangannya mengelus dada sedangkan yang satunya dia gunakan untuk melempar pulpen ke arah orang yang telah mengagetkannya.
Sigap Dimas menangkap pulpen yang melayang ke arahnya, dengan pongahnya dia berjalan ke arah Argan tanpa perduli tatapan sinis dari orang yang tengah duduk seraya mendumel di dekatnya.
"Lo bisa nggak ngetuk pintu dulu sebelum masuk ruangan gue?"
"Woles brother, gue udah ngetuk pintu dari tadi, lo aja yang terlalu serius." elak Dimas merasa dia sudah melakukan yang seharusnya.
Argan hanya mendengus, sudah hal biasa mereka bertengkar untuk hal-hal kecil seperti ini. Kembali pria itu memfokuskan pandangannya pada layar komputer berniat menyelesaikan tugas yang sebentar lagi selesai, Argan menghela nafas kasar saat sekali lagi dirinya terganggu, wajah Dimas tepat berada di depan wajahnya dengan jarak yang cukup dekat.
"Lo mau godain gue? Nggak doyan gue sama cowok," ucap Argan
"Ihh, gue masih normal kali." Dimas bergidik geli.
"Sana lo ah, nggak konsent gue lihat muka lo." Dengan kasar Argan menggeser wajah Dimas hingga pria itu sedikit terhuyung. "Lo ngapain sih kesini? bikin mood gue rusak aja," ucap Argan sarkas
Dimas mencebik sekilas setelahnya duduk di kursi tepat di depan meja Argan. "Gue kesini karena penasaran sama gosip yang beredar di kantor," ucapnya
"Gosip?" Argan menautkan alisnya bingung, gosip apa yang tersebar di kantornya hingga Dimas yang notabenenya cuek dengan gosip yang terkesan nyinyir itu menjadi penasaran.
"Iya gosip tentang bos tampan mereka, katanya ada seseorang yang berani menggores wajah tampan sang bos sampai membekas di jidat." Dimas menunjuk jidat Argan dengan bibirnya yang mengerucut.
Argan reflek menyentuh jidatnya paham dengan maksud Dimas. Entah sekeras apa Grey memukulnya semalam hingga luka itu masih berbekas hingga siang hari, lukanya sudah tak ditutup oleh plester tapi masih menyisakan warna kebiruan yang kentara.
Menumpukan sikunya di atas meja, Argan mengusap wajahnya kasar mengingat kejadian semalam ditambah pagi tadi Grey yang nampak tak merasa bersalah saat bertemu dengannya ketika sarapan.
"Lo habis bergelut sama siapa?" tanya Dimas penasaran
"Sama kucing di rumah gue" jawab Argan asal
"Sejak kapan kucing bisa bikin lebam gitu?, biasa juga nyakar taunya"
"Semenjak orang tua gue memutuskan merawat kucing"
"Bukannya lo alergi hewan berbulu yah?"
"Tau ah, cerewet lo kayak emak-emak lagi nawar belanjaan."
Melihat ekspresi jengkel dari Argan bukannya membuat Dimas kicep malah semakin membuat dia penasaran, pria yang sudah dia kenal dari jaman jamet itu adalah orang yang memiliki alergi terhadap hewan berbulu, berjarak satu meter saja bisa membuatnya bersin seharian.
"Kucing di rumah lo kucing apa?" tanya Dimas
Argan merotasikas bola matanya malas, tapi tetap menjawab pertanyaan sahabatnya itu. "Kucing betina"
"Iya"
Dimas menyeringai tipis sudah tau kucing apa yang dimaksud oleh Argan.
"Cantikan mana sama monika mantan lo?"
"Cantikan yang di rumah gue"
Dimas menyemburkan tawanya sembari memukul-mukul meja sampai Argan tersadar dari lamunannya. Yah, tadi Argan sempat melamun sedikit membayangkan Grey saat Dimas menghujaninya dengan pertanyaan.
Dimas merasa lucu dan juga penasaran dengan kucing yang dimaksud oleh Argan, kucing betina yang berhasil membuat satu kantor heboh karena berani memberi bekas biru di jidat paripurna Argan yang selalu tampil sempurna.
Argan yang selalu memperhatikan penampilannya itu harus merelakan diri menjadi bahan gosip dari para karyawati karena ulah Grey yang tanpa dia sadari dia jugalah yang menjadi penyebabnya yang sudah mengagetkan gadis yang tinggal di rumahnya itu.
"Udah puas lo ngetawain gue?"
Dimas melipat bibirnya dalam menahan tawa, tatapan Argan mulai tak bersahabat dia berdiri dari duduknya dan melangkah mengitari meja menuju tempat Dimas berada.
"Ah, gue lupa ada kerjaan yang belum gue selesaikan." Sigap Dimas berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan Argan sebelum dia menjadi sasaran amukan pria yang sering dipanggil bos Oppa itu.
"Mau kemana lo? jangan kabur!"
"Gue penasaran sama kucing lo, mau gue temuin"
***
Matahari cukup terik hari ini membuat tubuh yang tadinya segar dengan bau parfum yang dominan sekarang harus rela bercampur dengan bau keringat.
Jika kebanyakan gadis akan mencari tempat yang sejuk agar terhindar dari cahaya matahari di siang hari, maka berbeda dengan Grey, gadis itu dengan santainya berjalan menyusuri trotoar menuju halte bis.
Hari ini dia tidak menggunakan mobilnya karena dia ingin menemani Hana yang memang biasanya pulang pergi ke kampus menaiki kendaraan umum.
"Grey, cepat napa jalannya, panas banget loh ini." Hana menggerutu kesal karena Grey yang malah melambatkan jalannya padahal halte bis yang sudah dekat.
Grey tak menjawab tapi tetap menuruti keinginan Hana, kakinya mulai melangkah cepat mensejajarkan langkahnya dengan sahabatnya itu. Sebenarnya momen seperti ini adalah saat yang paling Grey sukai berjalan seakan sendiri padahal banyak orang di sekelilingnya.
Orang-orang akan memilih berjalan cepat dan menghindar dari titik yang mampu membuat tak nyaman, Grey suka berada di titik yang tak nyaman itu. Bukan ingin dihindari tapi memang dia menyukai kesendirian.
"Grey, lo yakin mau naik bis? disitu rame loh, gue takut lo nggak nyaman." Tanya Hana ragu pasalnya sahabatnya itu adalah orang yang tak suka keramaian.
"Gue cuma mau merasakannya sekali, siapa tau gue mulai menyukainya."