
Grey berdiri di belakang pintu sesaat setelah dia menutup pintu kamarnya, entah mengapa kejadian tadi membuatnya sedikit sesak, air matanya luruh tanpa sadar dan membuatnya tersenyum kecut.
Ah, ini memalukan, bukan? Menangis hanya karena makanannya ketumpahan air, bahkan itu adalah ketidak sengajaan yang dilakukan oleh Argan, tapi kenapa dia harus sakit hati?.
Bukan, bukan karena itu masalahnya tapi itu adalah puncaknya, moodnya sedang buruk hari ini karena merindukan kedua orang tua dan adiknya tapi mereka tak bisa dihubungi entah karena apa, semakin menjadi kerinduannya saat masakan yang dibuat oleh Aira adalah makanan kesukaanya yang biasa dibuat oleh maminya, tapi harus dia tinggalkan karena insiden tadi.
"Abu-abu?"
Grey menghapus jejak air matanya saat mendengar Argan memanggilnya. Yah, dia tahu jika itu adalah Argan karena hanya lelaki itulah yang selalu memanggilnya dengan sebutan demikian.
"Kenapa?"
"Lo nggak apa-apa?" tanya Argan saat mendengar suara Grey yang sedikit parau
"Nggak"
"Nggak apa?, bisa buka pintunya nggak?" Semakin merasa bersalah saja Argan pada Grey mendengar jawaban singkat gadis yang berada di dalam kamar itu.
"Buat apa?"
"Gue cuma mau mastiin kalau lo ngg-"
"Gue nggak apa-apa, lo bisa kembali ke dapur."
"Buka pintunya!" titah Argan terdengar datar, dia tak suka kata 'tidak apa-apa' saat jelas orang yang mengatakan itu sekarang dalam keadaan tak baik.
Dari dalam kamar Grey sedikit tersentak dengan intonasi Argan, lelaki itu tak membentak pun tidak merayu, tapi suaranya cukup membuatnya merinding dengan aura yang dihasilkan oleh Argan meski terhalang oleh daun pintu.
Pelan namun pasti Grey meraih knop pintu hendak membuka pintu dan memang sesuai dugaanya jika lelaki yang berada di depan kamarnya itu pasti sedang menunggunya dengan tatapan dingin sedingin suaranya tadi.
"Gue bawaain lo makan," kata Argan seraya menampilkan senyum manisnya.
Grey speechless melihat perubahan ekpresi Argan, secepat itu lelaki di depannya merubah mimik wajah dari mengintimidasi menjadi semanis itu.
"Gue boleh masuk kan?" tanya Argan yang belum ada jawaban langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Grey
Sedangkan Grey masih membatu di pintu tak mengindahkan Argan yang sudah memanggilnya.
"Y-yah?" Grey berbalik ketika Argan kembali memanggilnya
"Perasaan tadi lo bilang mau ganti baju, kok belum diganti?" tanya Argan mendudukkan diri di ranjang Grey
"Gue baru mau ganti baju, lo bisa keluar kan? "
"Lo ganti baju di kamar mandi saja, gue masih mau disini."
"Hah?"
Grey mendengus namun tak ayal tetap meraih piyama baru di lemari bajunya dan kemudian berjalan cepat ke arah kamar mandi. Hanya sekitar 3 menit dia sudah keluar dengan piyama berwarna maroon melekat ditubuhnya.
Jujur saat ini Grey merasa tak nyaman berada dalam satu kamar dengan seorang lelaki dewasa maka dari itu dia sengaja tak menutup kamarnya agar jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak Grey akan leluasa berteriak dan juga menggampangkan suaranya untuk di dengar. Dia belum tahu sifat asli lelaki yang menjadi trending topik di kampusnya itu.
"Ikut gue ke balkon!" Argan berdiri dan mengambil nampan berisi makanan di sampingnya kemudian berjalan keluar balkon.
"Mau ngapain?"
"Yang jelas bukan buat lempar lo dari balkon, jadi lo nggak usah takut, lagi juga pintu kamar lo udah buka lebar-lebar gitu," sindir Argan, dia tahu jika gadis yang entah berapa lama berada di rumahnya itu sedikit takut padanya.
Jujur sih, Argan sedikit tersinggung dengan tindakan Grey, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa menyalahkan gadis itu, bagaimanapun mereka memang baru beberapa hari tinggal serumah dan masih banyak hal yang keduanya belum tahu dari masing-masing pribadi. Sama halnya sekarang, Argan bahkan tak pernah menyangka jika gadis super cuek dan tanpa ekspresi itu bisa menangis walaupun gadis itu tak mengungkapkannya.
Grey membuang napas pelan setelah itu mengikuti Argan menuju balkon. Argan duduk di salah satu kursi dan meletakkan nampan tadi di atas meja, lelaki itu menoleh pada Grey yang berdiri di sampingnya.
"Lo mau duduk di kursi atau di sini?" Argan menepuk pahanya niat menggoda
Grey mengernyit tak menghiraukan, dia berjalan melewati Argan dan duduk di kursi seberang Argan dengan diam, sedangkan Argan hanya tersenyum tipis dan sialnya itu terlihat manis.
"Lo mau ngapain sih?" tanya Grey cepat mencoba mengalihkan tatapan Argan yang terus menjurus padanya, meski tatapannya terlihat biasa tapi Grey tetap tak menyukainya.
"Makan dulu!"
"Dua porsi?"
"Nggak usah maruk, satu porsinya buat gue," ucap Argan mengambil 1 porsi nasi yang sudah diisi dengan lauk
"Lo?" Grey memastikan takut-takut jika pendengarannya sedang terganggu.
"Iya gue belum makan, gue laper makanya gue bawa dua porsi kesini,"
"Bukannya lo udah makan di bawah?"
"Bawel juga lo yah?, nggak usah banyak nanya, makan aja cepat, lagi pula gue nggak bisa makan kalau ada orang yang lagi nangis gara-gara gue,"
"Siapa yang nangis? gue nggak nangis kok"
Argan terkekeh mendengar Grey yang mengelak, "Gue nggak bilang lo yang nangis, emang lo tadi ada nangis?"
"Nggak tau," kilah Grey, "Lo bukannya lapar? makan yang cepat terus keluar dari kamar gue, gue mau istirahat," ujar Grey smbari menyuapkan nasi ke mulutnya
Argan hanya bisa mengangkat sebelah alisnya seraya menarik garis tipis di bibirnya, seharusnya dia tak mengharap lebih akan respon gadis di depannya, kepribadian Grey sepertinya memang sudah di atur seperti itu, dingin, cuek, dan tanpa ekspresi.
"Makanannya habisin, jarang loh makan berdua sama orang seganteng gue."