Anti Romantic

Anti Romantic
Menarik Perhatian



"Bagaimana hasilnya?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut Argan kala melihat Dimas memasuki ruangannya dengan satu map berwarna coklat di tangannya.


"Berjalan lancar," jawab Dimas singkat, kakinya berayun mendekati meja Argan kemudian meletakkan map yang dibawanya disana. "Tapi, akan lebih lancar kalau saja lo ikut dalam rapat tadi," lanjutnya


"Sorry, gue hanya nggak mau kalau gue mengacaukan rapatnya," ucap Argan


Mendengar jawaban Argan membuat sebelah alis Dimas terangkat. "Why? Lo ada masalah?" tanyanya


Argan mengedikkan bahunya bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan sahabatnya itu karena sejujurnya dia sendiripun bingung dengan apa yang terjadi padanya.


"Baiklah, lo belum siap cerita sama gue, It's okay." Meski mengetahui kegalauan sahabatnya tapi Dimas memutuskan untuk diam dan menunggu sampai pria dengan kemeja berwarna putih itu memulai sendiri ceritanya.


Tak ada yang bersuara setelah mereka kembali pada perkerjaan untuk membahas berkas kerja sama yang disepakati saat rapat tadi, hingga tiba-tiba Argan terlonjak dari duduknya ketika Dimas memukul meja seraya berseru.


"Astaga hampir saja gue lupa," serunya, matanya memicing sambil menunjuk wajah Argan sampai membuat bosnya itu memundurkan kursinya


"Apa lo?" tanya Argan memukul tangan Dimas


"Nggak usah pura-pura bego lo" tukas Dimas


"Nggak sopan banget lo sama bos." Tak terima karena dikatai 'bego' oleh Dimas reflek membuat Argan berdiri sembari berkacak pinggang.


Dimas tak perduli, jika tadi dia sempat berfikir untuk diam dan menunggu keterbukaan Argan, maka berbeda dengan sekarang. Pria yang menyukai type wanita dewasa itu mendengus tak segan memukul pundak Argan tak mengindahkan ringisan seorang bos yang seharusnya dia hormati.


Sudah beberapa hari berlalu sebuah pertanyaan bercokol di kepalanya tapi karena kesibukan membuatnya terlupa apa yang harus dia tanyakan langsung kepada yang bersangkutan.


"Punya dendam apa lo sama gue, hah?" todong Argan karena Dimas yang masih memukulnya


"Iya, gue dendam banget sama lo," balas Dimas, "Sampai hati lo nolak gue dan milih jalan bareng sama gadis itu."


"Hah?"


"Tapi, lo gercep juga yah?"


"To the point aja lo, nggak usah bertele-tele, mau lo gue pecat?"


Dimas mendecih lalu merapikan kemejanya kemudian menyugar rambutnya yang berantakan karena sempat ditarik oleh Argan.


Begitulah mereka, tak ada status bos dan karyawan jika mereka hanya berdua dan tak perduli masih di area kantor.


"Pantes saja lo cemberut terus saat di cafe, ternyata gadis itu dalangnya?"


Dahi Argan berkerut tak mengerti apa yang dimaksud oleh Dimas. "Gue udah bilang, ngomong to the point, gue nggak suka mutar-mutar bikin pusing" ucapnya


"Malam Senin kemarin, lo kemana?"


"Di rumah."


"Lier"


"Kenapa sih lo?, kayak cewek pms tau nggak?" Argan bergidik di tempatnya melihat kelakuan Dimas yang tiba-tiba bersikap seperti seorang gadis yang posesif


"Nggak usah gitu, gue masih normal." Mengerti dengan fikiran Argan akhirnya Dimas kembali ke mode seriusnya.


...Menghela nafas lega, Argan kembali duduk di kursi kebanggaannya saat Dimas juga duduk di tempatnya, masih tak ada bayangan mengenai maksud dari tindakan Dimas hingga menyebutnya sebagai pembohong ...


"Sebenarnya maksud lo apa sih?" tanya Argan pelan


"Gadis yang lo temani ke Gramedia beberapa hari yang lalu itu anak magang itu, kan?" todong Dimas tak sabar


"Lo lihat?" Tak ingin mengelak, setelah mendengar jawaban Dimas yang men-iyakan pertanyaannya akhirnya Argan mengaku.


Dia menarik nafas panjang dan mengeluarkan dari mulutnya, tak ada yang perlu dia sembunyikan dari Dimas sekarang, dan masalah Grey yang tak ingin diketahui latar belakangnya, Argan hanya perlu menutup mulut Dimas, dan dia tahu jika sahabatnya itu bisa memegang rahasia.


Tak ada yang dia kurangi dari ceritanya dari tentang siapa Grey hingga kebingungannya beberapa hari dalam menyikapi perasaanya terhadap gadis itu.


Grey sama sekali tak masuk dalam kriteria gadis yang dia sukai selama ini, tapi semenjak beberapa bulan berada dalam satu rumah dengan gadis itu membuat typenya bergeser.


Lambat laun dia menyadari jika perasaannya sekarang lebih mendekati ke perasaan suka, bukan lagi karena tanggung jawab yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya untuk selalu membuat gadis itu senang baik di rumah atau di kantor tapi sekarang berubah karena dia memang tak ingin melihat ketidak senangan dari gadis yang dia panggil abu-abu tersebut. Dia turut bahagia jika gadis itu bahagia terlebih karenanya.


"Apa?"


"Lo suka sama gadis itu, karena nggak mungkin seorang bos CoreId Corp mau menggendong seorang karyawan magang dan menunggunya di UKS."


"Nggak salah dan nggak sepenuhnya benar." ditempelkannya punggunya di sandaran kursi lantas menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.


"Saat itu gue belum yakin kalau gue menyukainya, dan itu gue lakukan pure karena orang tua gue." sambungnya


"Tapi nggak heran sih kalau lo suka sama dia,"


"Kenapa?"


"Dari banyaknya karyawan magang di kantor ini, hanya dia yang menurut gue punya daya tarik, sesuai omongan lo dia berbeda."


Argan tersenyum tipis merasa senang dengan pendapat sahabatnya itu, tapi tak berselang lama tiba-tiba matanya melotot saat Dimas bersuara.


"Gue saja suka sama dia."


"APAA?"


***


Hampir satu bulan Grey mendedikasikan dirinya di perusahaan yang dimiliki oleh Raufan Dyantara, bukan hanya melakukan tugasnya sebagai karyawan magang, tapi tak jarang juga dia menemani kepala divisi untuk mengikuti meeting rutin yang dilakukan oleh perusahaan.


Sejauh ini dia bekerja dan belajar dengan baik terlebih ada Fathir yang selalu membantunya, saat pekerjaan yang diberikan oleh seniornya selesai dia akan menyempatkan untuk membantu yang lain.


Dia terampil dan cekatan oleh karenanya sejauh ini dia menyukai apa yang menjadi aktivitasnya.


"Grey?"


"Kamu sibuk, nggak?"


Grey menggeleng sebagai jawaban.


"Tolong dong, kamu ke bawah dan foto copy kan berkas-berkas ini!" titah senior yang bernama Farah


"Semuanya?" tanya Grey memastikan pasalnya berkas yang ditunjuk oleh Farah itu tak seperti sebuah berkas melainkan sebuah buku tebal.


"Iya, kenapa? kamu nggak mau?"


"Bu-bukan gitu, Mbak, aku mau kok" katanya sembari mengambil dua buku yang kata Farah adalah berkas penting.


Baru beberapa langkah Grey meninggalkan mejanya namun kembali berbalik saat Farah memanggilnya.


"Ingat yah, ini berkas penting jangan kembali sebelum semuanya selesai di foto copy!" tukasnya dan diangguki oleh Grey


Dengan rasa kebingungannya Grey berjalan melewati koridor dan memasuki lift sampai ke lantai satu, ini adalah pertama kalinya Farah yang adalah salah satu senior di divisinya mengajaknya bicara, dan sekarang wanita yang memiliki body bak model itu berbicara padanya bahkan menyuruhnya.


Tak ada yang salah dari apa yang disuruh kan oleh seniornya itu, tapi yang membuatnya bingung adalah apa yang ada di tangannya, ini bukanlah berkas perusahaan melainkan buku yang tak ada sangkut pautnya dengan perusahaanya.


"Kenapa dia suruh gue buat foto copy ini yah?" monolognya sembari membolak-balik kan buku di tangannya


Sebuah buku yang memiliki judul besar 'Cara menarik perhatian cowok cuek' membuat Grey bergidik saat membacanya.


Astaga ingin rasanya Grey kembali ke ruangannya dan menolak perintah dari Farah, ini bukan tugasnya bahkan ini bukanlah keperluan divisinya melainkan keperluan dari wanita yang memiliki usia lima tahun lebih tua darinya itu.


"Cara menarik perhatian cowok cuek"


Grey tersentak dan tak sengaja menjatuhkan buku di tangannya, saat ini dia sudah berjalan menuju tempat foto copy dan tak melihat jika Argan berada di belakangnya.


Argan terkekeh gemas saat Grey dengan cepat memunguti barangnya kemudian mendekapnya di depan dadanya.


Pria yang baru saja sampai di kantor dari makan siangnya di luar itu membungkukkan badannya kemudian mendekatkan wajahnya di samping wajah Grey. "Lo mau narik perhatian siapa?" bisiknya


Secara impulsif Grey mundur satu langkah merasa tak nyaman dan tak aman, dia menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan jika apa yang dilakukan oleh bosnya itu tak akan menarik perhatian para penghuni kantor.


Tapi, dia salah. Bukan hanya menjadi bahan perhatian bahkan beberapa sudah ada yang berbisik, entah apa yang mereka katakan dengan mata yang menyorotnya.


"Maaf Pak, saya harus ke pergi."