
"Ada apa?" Argan bertanya sesaat setelah dia mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi.
Sebelah alis pria itu terangkat menandakan bahwa dia yang kebingungan akan respon gadis di sampingnya, Grey yang diam dengan wajah yang ditekuk membuat Argan merasa aneh.
"Ada sesuatu yang buruk di dalam?" tanya Argan kembali
"Nggak" jawab Grey singkat seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela
Mengetahui jika perasaan orang yang berada satu mobil dengannya itu dalam keadaan tidak mood akhirnya Argan mulai menyalakan mesin mobilnya hendak untuk melaju meninggalkan butik.
Ini bukanlah sifat Grey sebelumnya, menjadi orang penuh ekpresi hanya dalam waktu kurang dari dua bulan membuat gadis itu seakan lupa tentang wataknya sendiri. Dalam benaknya hanya tanya yang selalu terbesit 'ada apa dengannya?'.
Susah untuk menutupi apa yang dirasakan jika watak dan perilaku sudah dipahamai oleh orang lain, berubah sedikit akan menjadi pertanyaan bertubi-tubi dari orang disekelilingnya. Dan itulah yang dialami oleh Grey sekarang.
Meski tak terlalu merespon setiap pertanyaan atau kalimat dari Argan, tapi nyatanya dia mendengar dengan jelas dan memahami apa yang dikatakan oleh pria tersebut.
Pandangannya hanya berfokus pada langit malam yang nampak semakin menggelap, angin sejuk sudahpun menusuk pada kulit membuat remang pada tangannya.
"Tutup jendelanya, Grey!" Titah Argan yang melihat bagaimana Grey mengusap kedua tangannya
Tak ada jawaban dari Grey namun tangannya spontan mengikuti perintah dari pemilik mobil.
"Sebenarnya nggak aneh kalau lo bersikap diam sama seperti biasanya," jeda Argan, "Gue cuma penasaran ada yang buat lo nggak nyaman di butik tadi?" lanjutnya bertanya sambil melirik Grey
"Jangan berfikir macam-macam," jawab Grey datar
Argan hanya tersenyum tipis menanggapi jawaban Grey, walau tak puas dengan apa yang dia dengar tapi setidak gadis itu sekarang mau berbicara.
Rencana Tuhan memang tak ada yang tahu, saat diri ingin merencanakan kelancaran maka Tuhan memberikan kesempatan yang berarti. Hanya sepersekian menit setelah Argan menyuruh Grey untuk menutup jendela karena angin malam yang begitu dingin, namun tiba-tiba suara petir disertai guyuran hujan deraspun membasahi bumi.
"Argghhh..!" Grey memekik kaget dengan kedua tangan yang di tempelkan ditelinganya serta mata yang menutup rapat.
Kilat dari petir yang terlihat dari kaca mobil membuat Grey secara impulsif meringkuk ke arah Argan hingga pria itu pun spontan menghentikan mobilnya, beruntung saat itu Argan hanya melajukan mobilnya pelan karena mengantisipasi jika hujan tiba-tiba turun.
"Ar, gue mau pulang!" lirih Grey
"Iy, Grey. Kita akan pulang, lo tenang yah." Argan berusaha menangkan Grey sambil tangannya mengusap pundak gadis itu
Putra tunggal Raufan itu kembali melajukan mobilnya namun baru beberapa meter melaju alam kembali mempermainkannya, langit seakan tak ingin membuatnya sampai di rumah dengan cepat.
"A-ada apa, Ar?" Tanya Grey
Pria itu menghela nafas kasar ketika mobilnya berhenti secara mendadak, beberapa kali dia mencoba menyalakan mesin tapi nihil usahanya tak berarti.
Argan menoleh pada Grey lantas menggeleng pasrah. "Mogok" katanya singkat
"Are you kidding me?" Grey nampak merosotkan bahunya
"Gue serius," ucap Argan dengan wajah yang cukup meyakinkan, "Ini mobil Ayah, dan sebelumnya gue nggak pernah pake mobil ini jadi gue nggak tahu kalau bakal kayak gini," jelas Argan seraya menyandarkan punggungnya
"Ah sial..!" Gerutunya ketika melihat ponselnya yang meyala tapi tak bisa digunakan untuk melakukan panggilan karena daya baterai hanya tersisa beberapa persen
"Kenapa?" Grey semakin dibuat kalut mendengar gerutuan Argan, jelas dia tahu jika masalah belum selesai dan itu diperparah dengan dia yang juga melupakan ponselnya. "Ponsel gue ketinggalan di rumah," ucapnya sebelum Argan bertanya
Mendengar ucapan Grey membuat Argan menggigit bibirnya kesal, ini pertama kalinya dia berada dalam situasi demikian terlebih ponselnya yang juga baru pertama kali dia tak perhatikan daya baterainya.
"Ar.."
Argan yang dipanggil namanya pun menoleh, mataya tiba-tiba sendu melihat mimik wajah anak dari Arum yang sarat akan rasa khawatir dan takut.
Dia menghadapkan tubuhnya pada Grey kemudian mengangkat kedua tangannya memegang bahu Grey yang masih merosot.
"Jangan khawatir, kita pasti cepat pulang," ujar Argan lembut berusaha menenangkan dengan tangan yang sambil mengusap bahu Grey.
Gadis berkulit putih itu mengangguk patuh, untuk saat ini dia harus percaya pada pria di depannya.
"Lo tunggu disini, gue mau keluar sebentar cari bantuan." Titah Argan sembari melepaskan tangannya dari bahu Grey
"Aarghhhhh.." Kembali suara petir menyambut hingga Grey dengan cepat menarik tangan Argan yang hendak membuka pintu.
"Ar, gue takut" lirihnya
Melihat Grey seperti ini mengurungkan niatnya untuk keluar, adalah pertama baginya melihat Grey dalam keadaan takut yang benar-benar terlihat jelas dari wajah manisnya, Argan tersenyum lirih lantas mendekatkan tubuhnya kemudian menarik Grey dalam pelukannya.
Terlalu banyak pengalaman pertama bagi Argan malam ini dan itu ditambah dengan Grey yang membalas pelukannya tak kalah erat.
"Ar, gue takut," ucap Grey lirih
"Lo nggak usah takut, ada gue disini!" Untuk kesekian kalinya Argan berusaha menenangkan Grey.
Pria berwajah rupawan itu mengangkat tangannya lantas mengusap kepala Grey lembut, ingatan saat pertama kali bertemu dengan Grey yang masih bayi itu pun langsung terputar dalam otaknya.
Grey yang langsung minta digendong saat Argan kecil baru pulang dari sekolah, begitupun dengan Argan yang langsung menyukai Grey kecil. Momen yang menjadi alasan Argan menginginkan seorang adik perempuan.
Pertemuan yang hanya hitungan jam itu begitu berkesan bagi Argan, menjadi seorang kakak dalam sehari membuatnya bahagia dan sempat membuatnya merengek kepada kedua orang tuanya saat Grey dan keluarganya pulang ke kampung neneknya dan itu membuat Argan kecil menangis selama seharian penuh.
Dan kini, dalam keadaan dan waktu yang berbeda namun dengan orang yang sama, perasaan itu kembali, perasaan bahagia yang jelas berbeda pula dengan perasaan beberapa tahun silam.
Yah, wajah Grey yang tenggelam dalam dekapannya membuat pria itu tersenyum tipis, meski dalam keadaan genting seperti saat ini tapi tak bisa dipungkiri jika dia sedang bahagia karena secara tidak langsung dia mengetahui bahwa baik dulu maupun sekarang gadis kecil itu masih nyaman dalam pelukannya.
"Grey?" Merasakan tak ada pergerakan dari gadis yang berada dalam pelukannya itu membuat Argan menundukkan kepalanya berusaha mengintip wajah Grey.
Argan tersenyum kemudian mengusap kembali puncak kepala Grey ketika mendapat gadis itu malah tertidur nyaman dalam dekapannya.
"Tidur lah, Grey!" bisik Argan seraya mencium puncak kepala Grey