
"Ar, sepertinya sebentar lagi type gue bakalan berubah."
Argan mendengus mendengar penuturan Dimas, sudah biasa dia mendengar kalimat itu saat sahabatnya itu melihat seorang gadis yang menarik tapi ujung-ujungnya akan berakhir kembali ke tipe awalnya wanita dewasa dengan body yang aduhai sertai make up yang bold.
Yah, kedua sehabat itu memang memiliki tipe yang sama, tapi berbeda dengan Dimas yang bebas untuk menyentuh pasangannya, Argan malah risih jika terlalu banyak kontak fisik dengan seorang wanita, pria itu hanya menjadikan mereka pacar dan menyenangkannya menggunakan materi yaitu belanja dan setelah merasa bosan maka Argan akan meninggalkan tanpa alasan yang jelas.
"Lihat di belakang lo!" Titah Dimas mengerucutkan bibirnya menunjuk dua orang yang berada di belakang Argan
Meski tak yakin Argan tetap menuruti keinginan Dimas, dengan malas pria itu menyerong tubuhnya untuk melihat apa yang dilihat oleh pria yang seumuran dengannya itu.
Matanya membulat saat dia melihat dua orang gadis yang salah satunya adalah orang yang sangat dia kenal, gadis itu menggunakan dress berwarna peach nampak feminim dengan sepatu teplek berwarna putih menutupi kakinya.
"Gue kok kayak nggak asing yah sama cewek itu"
Argan tak menimpali, pria itu masih fokus menatap Grey yang nampak tak melihatnya, gadis itu bersama dengan Hana memilih tempat duduk yang berada di belakangnya hanya tiga meja dari tempatnya duduk.
"Ar!"
"Y-yah?"
"Kenapa lo?"
"Gu-gue kenapa?"
Alis kanan Dimas terangkat merasa bingung dengan respon Argan. "Lo ngerasa nggak asing juga sama tuh cewek?" tanyanya
"Yang mana?" Meski tahu siapa yang dimaksud Dimas tapi Argan berusaha untuk tak terlalu memperdulikan.
"Yang pakai dress," ucap Dimas serasa matanya yang masih tertuju pada Grey. "Gue kayak pernah lihat dia," sambungnya
"Salah orang kali lo," elak Argan
"Ah gue ingat." Reflek Dimas memukul meja pelan saat dia teringat dengan gadis yang pernah dibawa ke UKS kantor oleh Argan.
"Inget apa lo?"
"Dia cewek yang pernah lo bawa ke UKS, kan?"
"Salah orang gue bilang"
"Ingatan gue masih bagus, Ar." Dimas dengan senyum smirknya nampak membuat Argan mendesis
Pria itu tahu jika jiwa playboy yang beberapa hari ini tersembunyi dari status jomblo Dimas itu sekarang kembali muncul.
"Vibesnya bedah jauh banget di kantor dan sekarang," ujar Dimas menggebu
Merasa tak senang dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh pria di depannya reflek membuat Argan berucap. "Nggak usah macam-macam lo!"
"Satu macam ajah kok," balas Dimas acuh
Argan mendengus, "Gue aduin lo sama Linda,"
"Ya ampun Ar, lo lupa yah gue udah putus sama Linda 2 bulan yang lalu," kata Dimas sembari terkekeh
"Putri?"
"Udah putus 3 bulan lalu,"
"Nita?"
"Setahun yang lalu" jawab Dimas malas
"Terus Mila?"
"Gue juga udah putus sama dia seminggu yang lalu."
"Mantan lo kok banyak banget sih?" Argan menggeleng tak habis pikir tanpa dia sadari jika dirinya tak jauh beda dendan sahabat karibnya itu.
"Yang jelas gue sekarang jomblo, saatnya gue untuk mencari penggannti dan hari ini gue udah dapat kandidat."
"Bocah?" Pertanyaan itu diangguki oleh Argan beberapa kali sembari membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya.
Ujung bibir Dimas tertarik tipis, tangannya mengaduk hot chocolate yang sudah dingin kemudian menenggaknya habis. Sepertinya sebuah tugas penting akan segera dia kerjakan tak lama lagi.
"Lo benar Ar, dia bocah dan hanya cocok untuk bocah."
Argan mendongak dengan alis yang bertaut heran dengan apa yang tiba-tiba dikatakan oleh Dimas, pria dewasa yang tadi semangat membahas kandidat calon kekasih baru sekarang bersuara dengan nada sedih sambil kepalanya yang menggeleng pelan.
"Kenapa lo?"
"Gue kalah sebelum berperang, Ar."
"Maksudnya lo apa sih?" desak Argan tak sabar
"Gue kalah saing, dia udah punga pacar,"
"APA?" pekik Argan tak sadar terlebih mata Dimas yang mengisyaratkannya untuk berbalik ke arah dimana Grey berada
Seorang pria muda dengan jaket denim nampak mendekati dua gadis itu, pria yang tak lain adalah Fathir tiba-tiba datang dan memilih duduk di samping Hana yang berada di depan Grey.
Mereka akrab dilihat dari Fathir yang mengelus kepala Hana dan Grey yang tersenyum pada mereka, tanpa sadar Argan menghembuskan nafas kasar serta tangannya yang berada di atas meja mengepal pelan.
Bahasa tubuh yah diperlihatka oleh Argan tak lepas dari perhatian Dimas. Pria yang bersahabat dengan Argan dari masa kuliah itu mulai tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Argan darinya.
"Ayo kita balik!" Argan berdiri dari duduknya sembari mengeluarkan uang pecahan 50 ribu sebanyak enam lembar dari dalam dompetnya.
Sadar atau tidak mood Argan tiba-tiba anjlok melihat pemandangan di belakangnya. Gadis yang selalu tak ramah padanya ternyata bisa seleluasa itu tersenyum di depan orang lain.
Meski tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Dimas tentang pria ith adalah pacar dari gadis bernama Grey tapi saat ini apa yang dia lihat itu sangatlah menggaggunya.
"Emang sesi curhat lo udah selesai?" sarkas Dimas menahan tawa
"Curhat apa?
"Yang masalah si bocah,"
"Lo mau ikut gue balik atau nggak?" gemas Argan tak ingin menimpali pernyataan Dimas yang malah menyenderkan tubuhnya di kursi.
Pria itu semakin gencar memperhatikan interaksi tiga orang yang berada tak jauh dari mejanya, hingga salah satu dari mereka melihatnya.
"Hai, Kak Dimas, Kak Argan!"
Hana yang termasuk salah satu dari pengagum Argan dan Dimas setelah seminar beberapa bulan lalu itu mendekati meja kedua pria tersebut, dia bersemangat mendapati dua orang yang selalu dia bahas dalam grup chat kampus berada di dalam cafe yang sama dengannya.
"Benar Kak Dimas dan Kak Argan, kan?" tanyanya memastikan
Dimas yang masih duduk di kursinya mengangguk sambil tersenyum kemudian melirik Argan yang masih berdiri mengisyaratkan untuk pria itu kembali duduk.
Argan tak menolak, meski tak tahan dengan apa yang dilihatnya tapi pria yang memakai kaos berwarna hitam dan celana pendek selutut dipadukan sepatu sporty berwana biru itu harus tetap menjaga kesopanan.
Dengan malas dia kembali duduk dan membalas senyuman Hana yang masih tak luntur dari bibirnya.
Mereka tahu jika gadis di depannya ini adalah junior mereka dan juga sudah pernah bertemu sebelumnya saat seminar.
"Kakak udah mau balik yah?"
"Belum, kita juga baru nyampe kok," jawab Dimas bohong dan membuat Argan melotot sedangkan Hana mengerutkan keningnya tak yakin terlebih dengan apa yang dia lihat di atas meja.
"Kalian mau gabung sama kita nggak?" Dimas menawarkan
"Boleh?" Hana langsung membalik tubuhnya ke arah Grey dan Fathir meminta persetujuan setelah dijawab anggukan oleh Dimas.
Dengan cepat Hana berjalan ke arah mejanya kemudian meraih tangan Grey dan Fathir, keduanya berjalan terseok karena ditarik oleh Hana yang bersemangat menuju meja Argan dan Dimas.
"Kak, kenalin ini Grey dan ini Fathir" Hana memperkenalkan Grey dan Fathir yang disambut oleh Dimas
"Senang bisa bertemu disini dengan anda, Pak"