Anti Romantic

Anti Romantic
Rencana



Kesibukan para mahasiswa yang sudah memasuki semester 5 dan 6 mulai difokuskan untuk mengurus praktek kerja lapangan (PKL), segala yang dibutuhkanpun sudah mereka siapkan dari yang mencari informasi untuk perusahaan yang akan mereka pilih, mempersiapkan laporan dan proposal untuk magang, hingga persiapan fisik dan mentalpun tak lepas dari perhatian mereka.


Begitu juga dengan Grey yang sudah memasuki semester 6, saat ini dia sedang berada di perpustakaan bersama dengan sahabatnya Hana, sebuah lapotop sudah terbuka lebar berdapingan dengan buku-buku pelajaran yang bertumpuk di depannya untuk mempersiapkan proposal yang dibutuhkan nanti.


"Grey?"


"Hm"


"Lo beneran nggak mau satu perusahaan sama gue?" tanya Hana dengan bibir mengerucut.


Grey mengalihkan atensi kepada Hana yang berada di sampingnya namun tangannya masih berada di atas keyboard laptopnya, "Han, gue bukan nggak mau, tapi dari kampus udah rekomendasiin perusahaan buat gue tempati, gue juga udah pelajari mengenai perusahaannya, gue tertarik buat bisa masuk di perusahaan itu." jelas Grey


"Gue sedih tau nggak bisa ketemu lo setiap hari," keluh Hana menempelkan wajahnya di atas meja


"Kan lo juga bisa ikut gue, kita coba sama-sama."


"Dengar nama perusahaannya saja udah buat gue insecure duluan, Grey. Lo mah enak dapat rekomendasi dari kampus, nah gue otaknya yang mentok di tengah harus usaha mati-matian buat bisa masuk di perusahaan bergengsi macam tu, untung-untung sepupu gue ada kenalan di perusahaan yang akan gue tempati jadi bisa ketolong gue."


"Jadi lo satu perusahaan sama sepupu lo?" Grey melanjutkan ketikannya


"Nggak, dia sama kayak lo"


"Hah?"


Hana menghela nafasnya pelan, "Dia milih perusahaan bergengsi kayak lo, tapi nggak tau dimana"


"Oh"


Kembali Grey melanjutkan aktifitasnya tak menghiraukan gerutuan Hana yang masih asik mengeluh mengenai rencana mereka berikutnya.


Hampir dua jam menguras otak membuat Grey mulai kelaparan, ditutupnya laptop yang sedari tadi setia menemaninya kemudian membangunkan Hana yang ternyata sudah terbuai dalam mimpi setengah jam yang lalu karena bosan menunggu.


"Lo masih mau tidur? gue tinggal yah?" Grey merapikan buku-bukunya ke dalam tasnya dan mengambil laptop untuk dia dekap setelahnya berdiri hendak meninggalkan Hana yang masih setengah sadar.


"Tega banget lo mau ninggalin gue, Grey" Teriak Hana tanpa sadar dan malah membuatnya ditegur oleh pengawas perpustakaan.


"Hehehe, Maaf Pak." Hana langsung terbirit lari mengejar Grey yang sudah keluar dari perpustakaan, dalam hatinya mengumpati Grey yang dengan tak perdulinya meinggalkannya tanpa berbalik untuk sekedar menunggunya, "Dasar sahabat tak ada akhlak"


Setelah berjalan sekitar 5 menit akhirnya mereka sampai di kantin yang sudah hampir penuh oleh para mahasiswa yang juga sedang menikmati makan siangnya. Seperti biasa Grey akan memilih tempat duduk yang tak menjadi tempat pusat perhatian yaitu berada diujung ruangan meski masih ada beberapa meja yang kosong berada di tengah dan mau tak mau Hana pun juga akan mengikuti kemana sang sahabat memilih untuk duduk.


"Lo mau makan apa?" tanya Hana hendak pergi untuk memesan makanan


"Udah gue pesan," jawab Grey seraya memainkan ponselnya


"Kapan?, perasaan kita baru saja nyampe, jangan bilang lo udah ngirim whatsApp sama Bu Ruk, yah?" todong Hana


Grey meletakkan ponselnya di meja kemudian menatap Hana datar, "Iya."


"Serius lo?" Gadis berkacamata bulat itu menggelengkan kepalanya tak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya tersebut, "Bukan main, lo malas atau gimana sih? pesan makan saja harus lewat chat Bu Ruk?"


“Tapi kan, Bu Ruk ng—“


"Han, namanya Bu Rukma bukan Bu Ruk. Kamu tenang saja aku udah pesan secara detail kok yang mau lo makan."


Hana melipat bibirnya tak ingin membantah, apa yang sudah diputuskan oleh Grey berarti itu sudah menjadi final dan tak bisa diganggu, toh apa yang sudah Grey putuskan memang akan selalu sesuai dengan ekspektasi Hana selama ini.


***


Pukul 7 malam di kediaman Dyantara, suara dentingan perlengkapan makan terdengar di dalam dapur, Aira tengah disibukkan oleh tugasnya sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang ibu untuk menyiapkan makan malah untuk keluarga kecilnya, urusan masak memasak memang Aira sendiri yang melakukannya dan hanya dibantu sedikit oleh Bi Minah, karena baik suami maupun anaknya memang paling menyukai masakannya apalagi sekarang juga ada Grey yang tinggal di rumahnya dan dia ingin membuat kesan baik untuk anak sahabatnya itu.


"Grey mana?" Aira mengintip dari balik bahu Argan yang baru saja tiba di dapur


Argan mendengus, "Mana Ar tahu, Bun. Ar kan nggak satu kamar sama dia." ucapnya asal


"Ihs, kamu ini yah! Bunda kan cuma nanya kok malah ngegas gitu sih."


"Bukan ngegas Ma, kan memang benar Ar nggak tahu, lagian juga apa-apa tanyanya sama Ar terus, anak itu kan nggak dekat sama Ar," kilah Argan seraya menarik kursi untuk dia duduki.


Dia sedikit tak terima jika sedang berada di rumah dan menyangkut masalah Grey kedua orang tuanya akan bertanya padanya, menurutnya dia tak sedekat itu dengan gadis yang dia panggil Abu-abu tersebut dan juga itu tak penting baginya.


"Ya udah biar bunda Bunda atur kedekatanmu sama Grey."


Pria berkaos hitam itu langsung membelalakkan matanya mendengar jawaban sang bunda, "Nggak usah aneh-aneh, Bun."


Tepat setelah Argan menyelesaikan ucapannya Grey pun tiba di dapur, gadis dengan piyama spongebob itu langsung menarik kursi setelah sempat disapa oleh Aira dan Raufan yang juga baru sampai disana.


"Grey, maaf yah Bunda hari ini masaknya agak sederhana soalnya tadi telat pulang ada kepentingan diluar." ucap Aira sembari mendekatkan sayur capcay ke arah Grey.


"Nggak apa-apa, Bun. Ini saja sudah cukup kok." Jawab Grey sopan


"Grey, Om lihat kamu belakangan sibuk banget, lagi banyak tugas kampus yah?" tanya Raufan ditengah suapannya


Mendengar itu mau tidak mau Argan ikut melirik pada Grey, beberapa malam ini memang Argan sering melihat Grey berada di balkon dengan laptop dan juga beberapa buku bersamanya.


"Hmm, Iya Om, Grey lagi kerjain proposal untuk magang di perusahaan."


"Sudah mau praktek kerja?" Raufan nampak tertarik dengan jawaban Grey, "Sudah dapat perusaahaan yang mau kamu masukin, belum?"


Diam-diam Argan menajamkan pendengarannya meski tangan dan mulutnya masih melakukan tugasnya dengan baik yaitu menyuap dan mengunyah.


"Om bisa rekomendasiin kamu di peerusahaan yang bagus loh."


"Nggak usah Om, Grey udah dapat perusahaannya di rekomendasiin dari kampus."


"Yah, sayang banget padahal kamu bisa masuk di perusahaan Co—"


"Uhuuk, uhuukk,, tolong air Bun, Ar keselek jagung"