Anti Romantic

Anti Romantic
Cari menantu



Senja sore ini tak menampilkan kilau keemasanya yang memukau, awan berwarna abu-abu seakan bersaing dengan warna yang menenangkan itu dan sengaja menutupi keindahan yang selalu dinanti oleh setiap orang tersebut. Langitnya mendung menandakan bahwa sebentar lagi Tuhan akan menurunkan berkahnya dalam bentuk kucuran air hujan.


Sudah tiga hari lamanya Grey tinggal di rumah keluarga Raufan, dia tidak merasakan kehilangan perhatian dari orang tua sejauh Grey menerima perlakuan dari sahabat kedua orang tuanya itu. Namun, tak bisa dipungkiri jika rindu yang  teramat masih sering dia rasakan, seperti seperti sore ini.


Grey berdiri sembari tangannya yang berpegang pada pagar balkon memperhatikan lalu lalang kendaran yang terekspos dari lantai dua kamarnya, pakaiannya santai hanya menggunakan celana training panjang berwarna hitam dan tank top berwarna ungu muda, rambunya dia biarkan terurai membelai punggungnya.


“Lo nggak kedinginan?”


Grey sontak menoleh pada asal suara baritone itu berada, nampak Argan berdiri tak jauh dari tempatnya, lelaki itu juga tengah menikmati sore yang sejuk di luar balkon dengan satu cangkir coklat panas di tangannya.


“Nggak” singkat Grey menjawab


“Cuacanya lagi nggak bagus, mending lo ambil jaket dulu!” Argan memperingati sambil menyeruput minumannya yang beruap itu. “Ah, enak” gumamnya


Grey diam tak menimpali pun tak bergerak dari tempatnya, dia meraih ponsel di saku celananya saat dering panggilan terdengar, Grey mengernyit sekilas melihat nomor yang tak dikenal tercantum di layar ponsel bercase beruang coklat miliknya, tanpa menunggu sampai deringan itu berhenti dia langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


Argan yang merasa terganggu dengan suara deringan itu langsung menyahut. “Ponsel lo kenapa nggak diangkat?” Argan meletakkan cangkirnya pada meja kecil yang berada disana


“Nggak penting” jawab Grey acuh


Pria berkaos hitam dan celana training itu mengangkat sebelah alisnya bersamaan dengan ujung atas bibirnya yang juga tertarik sekilas, selama tiga hari satu rumah dengan gadis manis itu dia bisa menghitung berapa kali dia berbicara dengannya.


Argan membalik tubuhnya hendak masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu yang sekiranya dibutuhkan oleh gadis abu-abu itu, hanya berselang beberapa menit pria bernama lengkap Argan Dyantara itu sudah kembali


dengan jaket  mantel berwarna coklat di tangannya.


Argan mendekat pada pagar balkon dan mencondongkan tubuhnya ke depan berusaha untuk meraih pagar balkon kamar Grey. Mereka memang berada di balkon tapi bukan di tempat yang sama, balkon kamar Argan memiliki jarak


sekitar 30 cm dari balkon kamar Grey dan saat ini gadis itu tengah berdiri tepat di ujung pagar.


“Lo nungguin gue buat pakein lo jaket yah? Biar romant—“


Kalimat Argan menggantung saat Grey langsung membalik badannya dan meninggalkan Argan yang sedang dalam posisi setengah membungkuk, seketika wajah Argan tertekuk masam matanya dia pejamkan sesaat kemudian melemaskan tubuhnya menggantung pada pagar.


"Ah, dasar bocah abu-abu!" teriaknya.


***


Argan terpaku di depan cermin meneliti tampilannya dari ujung rambut hingga kaki, wajahnya dia gerakkan maju dan mundur mendekat pada cermin meyakinkan jika wajahnya masih sama tampannya dari dulu dan sekarang.


"Masa sih tuh anak nggak ada tertariknya sama gue" monolognya menyentuh dagunya


"Benar-benar ini anak bikin gue penasaran."


"Siapa yang bikin penasaran?" Suara Raufan menginterupsi kelakuan Argan.


Reflek Argan berbalik, lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayahnya itu kini sedang berdiri di bingkai Pintu sambil menyenderkan tubuhnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Lelaki itu masuk ke dalam kamar sang putra menuju ranjang king size dengan bedcover putih gading. Dia duduk diatasnya meletakkan kedua tangan di kedua sisi sebagai penopang tubuhnya yang dia condongkan ke belakang.


"Ayah ngapain ke kamar Ar?" tanya Argan tho the point


"Memang ada larangan kalau ayah nggak boleh masuk kesini?"


"Bukan gitu, Yah. Tapi kan biasanya ayah ke kamar ku kalau ada yang penting." Argan meraih ponselnya hang berada di atas nakas kemudian membaringkan dirinya tepat di samping sang ayah.


"Karena ada yang penting makanya ayah kesini, ada yang mau ayah tanyakan."


Argan melipat dahinya bingung, dia mengintip dari balik ponselnya mencoba menerka apa yang akan dibahas oleh lelaki tua di sampingnya itu.


"Langsung ngomong saja, Yah," kata Argan saat melihat ayahnya seakan ragu untuk menyampaikan kalimatnya.


Raufan menghela nafas singkat kemudian beralih pada Argan. "Kamu tau nggak.."


"Nggak"


sebuah tabokan mendarat pada paha Argan yang berasal dari tangan Raufan, lelaki itu merasa jengkel karena kalimatnya yang di potong oleh pria yang sayangnya adalah anaknya itu.


"Sakit, Yah" keluh Argan mengusap pahanya


"Makanya kalau orang tua ngomong itu jangan dipotong, nggak sopan"


"Wes dah, lanjutlah king"


Raufan mencibir kemudian kembali memasang wajah seriusnya. "Tadi siang Ayah sama Bunda habis dari kondangan anak kolega Ayah."


Argan langsung memutar bola matanya malas, jika demikian dia sudah tau kemana arah pembahasan berikutnya, biasanya untuk hal yang satu ini peran dari orang tua yang paling dominan adalah seorang ibu, tapi berbeda dengan kasus Argan. Raufan lebih gigih memperingati dan mengingatkan jika putra semata wayangnya itu sudah lah cukup untuk mencarikannya menantu.


"Kamu suka Grey, bukan?"