Anti Romantic

Anti Romantic
Dia memang cantik



Bukan hal mudah menutupi ketidak nyamanan untuk medapat nilai plus dalam lingkungan atau kelompok, tak sedikit orang akan merubah perangai diri agar bisa dipandang baik oleh sekitar tak terkecuali apa yang dirasa dan dilakukan oleh Grey Diovanka Arum sekarang.


Berada diantara orang-orang pilihan yang mendapat peran penting dalam perusahaan membuatnya harus menelan ludah kekesalan saat tatapan seorang pria berusia diatas 30 tahun itu terus menjurus padanya dari awal meeting hingga berakhirnya pertemuan itu.


Ya, kakak dari Dennis itu harus bisa memanfaatkan kesempatan berharga tatkala dirinya ditunjuk untuk menemani kepala divisi untuk melakukan sebuah meeting bersama dengan orang-orang dengan jabatan tinggi di perusahaan termasuk sang Direktur yaitu Argan Dyantara.


Tak masalah baginya diberi tugas demikian diantara banyaknya senior yang mengharapkan posisi tersebut karena baginya nilai adalah yang terpenting. Yah, dia ingin mengejar nilai akhir yang baik sebelum benar-benar lepas dari julukan mahasiswa.


Sebuah gawai berukuran 10 inch akhirnya terbebas dari tangannya saat dia harus memberikan hasil dari garis besar untuk pembahasan selama meeting berlangsung, dengan senyum tipis yang dibuat senatural mungkin


Grey mulai menjelaskan kesimpulan dari apa yang dia catat kepada kepala divisinya.


“Pak Ahmad, apa dia karyawan magang yang anda maksud spesial?” Bisik pria yang berada di samping Pak Ahmad kepala divisi Grey. Pria itu tersenyum dengan tangan yang menyentuh dagunya sembari menatap Grey yang berdiri di samping Pak Ahmad.


Pria yang berusia 45 tahun itu mengangguk. “Iya, namanya Grey. Dia adalah karyawan magang yang sejauh ini bisa menyaingi para seniornya,” selorohnya


Meeting memang sudah berakhir tapi orang-orang yang berada dalam ruangan masih berada di dalam sana sekedar merapikan berkas dan saling bergurau.


Pak Ahmad sendiri adalah orang yang cukup asik terlepas dari posisinya yang patut disegani, dia orang yang gampang mencairkan suasana dalam ketegangan bekerja, oleh karenanya baik karyawan lama sampai yang masih magangpun merasa nyambung dan nyaman saat bekerja dan bercanda dengan pria yang usianya 5 tahun lagi setengan abad tersebut.


“Saya bisa melihatnya, Pak. Bahkan dilihat dari bagian manapun dia lebih unggul,” balas pria dengan rambut potongan slick-back itu.


“Ehm!” Suara deheman itu terdengar cukup keras hingga semua orang yang berada dalam ruangan langsung terfokus pada pemilik suara.


“Pak Rey, apa anda masih ada keperluan penting disini?”


“Hah?”


“Mungkin anda sebaiknya cepat kembali ke ruangan anda, saya rasa project ini akan lebih berfokus ke divisi yang anda pimpin,” ucap Argan menohok


Yah, suara deheman yang membuat orang sedikit tersentak itu berasal dari Argan yang sedari tadi diam memperhatikan obrolan Pak Ahmad dan Rey serta ketidak nyamanan Grey yang menjadi topik pembicaraan.


Awalnya dia masih fokus pada hasil  meeting yang diberikan oleh sekretarisnya, tapi setelah telinganya mendengar nama Grey diucap dan sebuah pengakuan yang sedikit ambigu yang terarah pada anak dari sahabat orang tuanya itu fokusnya langsung menghilang.


Telinganya panas bahkan matanyapun merasakan hal demikian terlebih melihat ekspresi pria yang menatap Grey di depannya.


“Ba-baik, Pak Argan.” Pria yang bernama Rey itu langsung berdiri dari duduknya sedikit tak nyaman karena ditegur di depan orang-orang yang masih berada di ruangan.


“Jangan merasa tersinggung, Pak Rey. Saya hanya mengingatkan anda bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk menilai kinerja anda apakah memang layak untuk memimpin atau yaah..-” Argan sengaja menggantung kalimatnya.


“Ti-tidak masalah, Pak. Saya paham dan saya akan berusaha untuk memberikan hasil yang baik,” jawab Rey percaya diri.


Argan tersenyum sembari mengangguk . “Baiklah, saya tunggu hasilnya, sekarang kamu bisa kembali, Pak Rey,” ujarnya kemudian bersandar pada kursi.


Setelah kepergian Rey, Argan kembali pada fokusnya sedangkan yang lain sudah bersiap untuk keluar begitu pula dengan Pak Ahmad dan Grey, baru saja gadis berusia 21 tahun itu ingin melangkahkan kakinya keluar dari pintu namun terhenti ketika Argan kembali bersuara.


“Grey Diovanka Arum!” ujar Argan yang seketika membuat Pak Ahmad yang berada di depan Grey turut berhenti.


“Ikut ke ruangan saya sekarang!” titahnya


“Grey, Pak?” Bukan Grey yang bertanya melainkan Pak Ahmad yang tiba-tiba merasakan kecemasan karena nama gadis yang diperintahkan adalah orang yang berada dalam divisinya, pria berkaca mata itu khawatir jika ada kesalahan yang dibuat oleh Grey selama meeting berlangsung yang tak disadari olehnya.


Argan mengangguk sebelum berucap, “Iya. Grey Diovanka Arum, karyawan magang yang di tempatkan di divisimu, Pak Ahmad,”


“A-apa ada kesalahan yang dilakukan oleh Grey, Pak?”


“Anda tak perlu khawatir, saya hanya akan membahas sesuatu yang mungkin sedikit penting dan harus saya bicarakan di ruangan saya.” Ucap Argan


***


Hening, sudah sekitar 5 menit kedua orang yang berada dalam ruangan dengan aroma oceanic air itu terdiam


Pria yang telah melepas jas dan hanya menyisakan kemeja putih di tubuh atletisya itu menggelengkan kepalanya seraya mendesis gemas, bukan sebuah pilihan tepat menurutnya jika harus menunggu gadis di depannya untuk memulai obrolan.


Dengan berdehem kecil sembari mendekatkan dirinya ke meja Argan mulai bersuara. “Jelasin!” satu kata yang


terkesan memerintah itu membuat Grey mengernyit tak mengerti.


“Maksud gue, gimana perasaan lo tadi selama meeting?” lanjutnya


“Bapak memanggil saya ke ruangan ini untuk menanyakan itu?” tanya Grey


Argan menghela nafasnya. “Bukan itu intinya, gue menanyakan itu sebagai pemanasan obrolan aja biar lo nggak


kaku,” guraunya dengan ekspresi wajah serius


“Saya banyak belajar dari pembasan tadi, saya menikmati setiap detiknya dimana saya bisa menangkap point


penting setiap permasalahan atau solusi  yang dibahas oleh para peserta meeting,” jelas Grey lugas


"Yah, gue nggak meragukan kemampuan lo untuk menangkap dan mengingat hal seperti itu, tapi yang gue masksud mengenai situasi disana apa lo merasa nyaman?” Mata Argan bergerak atas ke bawah memindai pakaian Grey


“Maksud anda?”


Untuk kesekian kalinya Argan menghela nafasnya panjang, dia tahu jika apa yang dia maksud sangat dimengerti oleh gadis di depannya, tapi dia pun paham jika apa yang akan dia bahas bukanlah konteks yang sesuai dengan wewenangnya.


Pria yang memiliki postur tinggi itu terdiam namun kakinya dengan cepat menggeser kursinya memberi jarak untuk  berdiri, dia lantas berjalan menuju sebuah ruangan meninggalkan Grey yang hanya memperhatikannya dengan kebingungan, tak ada satu katapun yang terucap dari bibir Argan hingga dia kembali ke hadapan gadis cantik itu.


"Pakai ini!" Titahnya sembari menyerahkan sesuatu


Nampak raut kebingungan di wajah putri sulung Arum itu saat Argan yang tak lain adalah bosnya mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah blazer panjang berwarna putih padanya.


Sedikit ragu namun akhirnya Grey menerima dan menyampirkan di lengan kirinya. "Ar, apa ini tentang pakaian gue?" ucap Grey sadar, dia tak lagi berkata formal karena apa yang dia bahas inipun bukan mengenai pekerjaan.


Argan tersenyum disertai anggukan tanda mengiyakan perkataan Grey. "Gue senang lo nggak se formal tadi," balasnya


Tanpa menghiraukan kalimat Argan, Grey kembali bertanya memastikan. "Jadi benar karena pakaian gue?"


"Lo tahu, Grey, gue punya banyak teman dan sedikit banyaknya gue tahu bagaimana watak mereka sama halnya dengan karyawan di perusahaan ayah ini," Jedanya kemudian tangannya terangkat menyentuh kedua bahu Grey. "Masalahnya bukan dari pakaian lo, tapi dari isi fikiran dari segelintir orang yang melihat lo." lanjutnya


"Gue nggak akan bilang kalau lo nggak menarik dengan apa yang lo kenakan sekarang, , tapi—“


"Ar, gue nggak berniat menarik perhatian dengan memakai pakaian ini." Mendengar ucapan Argan secara impulsif Grey melepas tangan Argan dari pundaknya, sedikit tersinggung dengan kata menarik yang dikatakan oleh sang bos.


"Bukan itu maksud gue, Grey." Argan dibuat gelagapan dengan respon anak Deana itu


"Iya, saya paham, Pak"


"Grey.." gumam Argan, dia sama sekali tak bermaksud untuk menyinggung. Tapi, mungkin cara dia yang sedikit salah dalam menyampaikan maksudnya hingga membuat Grey tersinggung.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dikenakan oleh Grey sekarang, sangat normal untuk pakaian seorang karyawati dengan blouse bermarna moca dan rok span di atas lutut, hanya saja tampilannya hari ini sedikit berbeda dari biasanya  make up yang dia gunakan pun lebih terlihat flawless dari sebelumnya.


"Kalau sudah tak ada yang ingin dibicarakan, apa saya bisa keluar, Pak?" tanya Grey datar


"Grey-"


"Saya keluar, Pak. Terima kasih atas blazernya" ucap Grey membuat Argan menggantung kalimatnya, dengan cepat gadis itu memakai blazer pemberian Argan lantas berbalik tak menghiraukan Argan yang gelagapan.


"Ah sial, itu bocah tersinggungan banget sih," gerutunya gemas sembari menendang udara


Dia memasrahkan tubuhnya di sofa masih emosi namun setelahnya garis bibirnya tertarik tipis. "Dia memang cantik banget hari ini," batinnya