Anti Romantic

Anti Romantic
Aneh



"Tolong kirimkan saya data calon mahasiswa magang di kantor kita?"


Smirk Argan tertarik sesaat setelah dia mematikan panggilannya ke salah satu karyawannya. 'Hari Kamis untuk orang yang manis' mungkin itulah yang saat ini yang ada dalam fikiran Argan setelah dia melihat salah satu biodata mahasiswa yang di kirimkan oleh karyawannya melalu Email.


"Cukup pintar," monolognya


Pria berkemeja abu tua itu mendekatkan wajahnya ke arah monitor guna memastikan apa yang dia lihat disana kemudian kembali mendaratkan punggungnya di kursi kebanggannya, Argan menggeleng lirih sembari bermonolog, "Bulan kemarin baru genap 21 tahun? muda banget, eh-" Argan tersentak tiba-riba mengingat sesuatu.


"Jangan-jangan hari itu dia ulang tahun makanya suasana hatinya buruk?" Yah, Argan ingat saat dimana dia tak sengaja menumpahkan air ke makanan Grey dan tepat hari itu juga keluarganya tak bisa dihubungi karena cuaca buruk disana


"Lagi lihatin apa lo di laptop sampe serius gitu?" Argan mengangkat kepalanya ketika suara itu terdengar.


Dimas datang seraya membawa sebuah map coklat ditangannya, pria berkulit putih itu mendekat hendak untuk mengintip apa yang sedang dilihat oleh sahabatnya tersebut.


"Dim, gue mau nanya sama lo." ucap Argan membuat Dimas sigap menegakkan badannya yang sempat membungkuk


"Apa?"


"Lo ingat nggak kejadian di Itali yang mengalami insiden dan membuat jaringan disana terputus total selama 3 hari itu kapan?" Tanya Argan penasaran, dagunya bertumpu pada kedua tangannya sedangkan matanya fokus memperhatikan Dimas yang nampak berusaha mengingat sesuatu.


"Tahu, bulan kemarin kan itu?" jawab Dimas sambil mendudukkan dirinya di kursi depan meja Argan


"Gue juga tahu bulan kemarin, yang gue tanya kapan pasti tanggalnya," Balas Argan jengkel, dia benar-benar ingin tahu kapan kejadian itu untuk memastikan jika perkiraannya benar adanya.


Dimas berdecak, "Yah mana gue ingat, Ar. gue nggak terlalu ngikutin berita, lagi juga di depan lo itu ada komputer dan ponsel, jaringan di kantor juga unlimited kan lo bisa cek di gugle. Ribet amat." Dimas tak kalah jengkelnya dengan Argan, tidak tahukah sahabatnya itu kalau dia masih marah karena ajakannya semalam di tolak.


"Ah, nggak guna lo." pria berinisial AD itu melemparkan kertas yang sudah diremasnya ke arah Dimas.


"Ih, GJL, kata pintar mikir jawaban sendiri ajah nggak tahu." Bukannya takut Dimas malah menggoda Argan yang tak lain adalah bosnya sendiri, pria bersurai coklat tua itu langsung terbirit keluar ruangan kala Argan kembali ingin melemparkan dia sesuatu.


Benar kata Dimas, kenapa Argan tidak terfikirkan untuk mencari tahu sendiri kapan kejadian itu terjadi. Terkadang memang hati dan fikiran tidak sinkron dan itu membuat kepintaran Argan tak bekerja dengan baik sekarang, entah mengapa setelah melihat biodata Grey malah membuat dia kepikiran gadis yang sering dia panggil abu-abu itu.


***


"Baru pulang?"


Argan menggigit bibirnya salah tingkah merasa malu dengan pertannya barusan, hanya sekedar basa basi tapi terdengar awkward saat pertama kalinya dia menanyakan sesuatu yang jelas jawabannya nyata di depan mata.


Grey melanjutkan pijakannya melewati tangga yang sempat terhenti karena Argan, tapi baru beberapa langkah berjalan anak gadis Arum itu kembali berhenti tak kala pria yang baru saja dia lewati menarik tangannya secara tiba-tiba.


"So-sorry" Argan secara reflek melepas genggamannya setelah dia tersadar dari kecerobohannya.


Seperti biasa tanpa ekspresi Grey hanya menatap Argan tanpa minat, gadis yang memiliki nama warna itu langsung membalik tubuhnya menghadap Argan kemudian bertanya. "Ada yang mau lo sampein?"


Sial, tatapan lurus yang dibuat oleh Grey membuat Argan seakan terhipnotis terlebih anak rambut Grey yang teriup oleh angin yang entah datang dari mana itu menari di wajah gadis tersebut.


"Kalau nggak ada yang mau diomongin gue mau ke at-"


"Gue udah siapin makan malam buat lo." Argan memotong kalimat Grey yang belum selesai terucap.


"Hah?"


Mengerti dengan respon gadis di depannya, pria perparas bak pangeran Korea itu berdehem sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Bunda dan Ayah sedang menghadiri kondangan jadi cuma kita yang ada di rumah," jelasnya jujur


"Bi Minah?"


"Dia lagi ke Klinik, pinggangnya sakit jadi Mang Karno lagi ngantar dia buat periksa."


"Oh"


"Jangan oh ajah lo." Untuk menutupi kegugupannya Argan berusaha untuk merubah nada suaranya, "Mandi sana, abis itu turun! Gue tunggu lo di meja makan, gue udah lapar," katanya sambil menuruni tangga meninggalkan Grey yang terlihat melipat dahinya bingung.


Grey hanya mengedikkan bahunya kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.


Dari ruang makan Argan tak bisa duduk tenang berkali-kali dia membuka kulkas kemudian menutupnya kembali, itu yang dia lakukan sampai suara Grey terdengar sedang menerima telpon dan membuatnya berlari ke arah meja makan.


Grey nampak ragu untuk duduk di depan Argan apa lagi melihat hidangan makan malam yang lumayan banyak padahal mereka hanya berdua tapi menu sekarang melebihi dari yang biasanya Aira masak untuk keluarga.


"Ayo duduk!" ajak Argan pada Grey yang masih terpaku di tempatnya.


"Oh, i-iya." Meski bingung Grey tetap menuruti keinginan Argan yang hari ini sikapnya agak aneh.