
Langit masih setia menumpahkan buliran bening ke permukaan, meski tak sama lagi derasnya dari beberapa jam yang lalu tapi udara dinginnya masih mendominasi. Sudah sekitar sepuluh menit Grey berdiri di halte pinggir jalan masih di dekat area kantor menunggu taxi untuk segera kembali ke rumah.
Dia mengangkat tangannya meneliti balutan perban yang menutup lukanya, perih itu masih terasa tapi dia berusaha untuk menahan karena tak ingin merepotkan siapapun termasuk Fathir yang tadi sempat memaksa untu mengantarnya pulang dengan alasan hujan serta kesehatannya.
Grey menolak secara jelas pertolongan pria yang baru sehari akrab dengannya itu, dia sadar kemungkinan yang akan terjadi jika sampai dia diantar oleh Fathir, kemungkinan Fathir akan tahu jika Grey tinggal di rumah Argan sang bos dan Grey tak ingin itu terjadi.
"TIIIN"
Suara klakson membuyarkan lamunan Grey, sebuah mobil Toyota Alphard berwarna putih dengan tipe 2.5 X A/T sudah berada tepat di depannya dan membuat Grey mengernyitkan alisnya bingung, gadis berambut indah itu menoleh ke belakang mencari seseorang yang sekiranya di tuju oleh orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Grey semakin bingung tatkala menyadari tak ada seorangpun yang berada di halte selain dirinya hingga kaca jendela mobil terbuka dan menampakkan sosok rupawan dengan senyumnya yang menawan.
"Ayo masuk!" Titah orang itu
Bergeming, Grey malah mengedarkan pandangannya mencari taxi yang dia harapkan untuk lewat di depannya. Orang itu memutar bola matanya sembari tangannya menumpu di jendela mobil.
"Taxi agak susah didapat kalau hujan gini" ucapnya
"Terima kasih tawarannya, Pak. Saya bisa menunggu sampai taxinya datang."
"Jangan ditunggu terus, menunggu itu membosankan tahu nggak."
"Kalau anda bosan, anda bisa jalan duluan, Pak Argan." Yah orang itu adalah Argan yang datang tanpa di undang.
Argan menggeleng gemas, kepalanya dia condongkan di jendela dan kembali memanggil Grey pelan. "Abu-abu, lo itu cantik kalau nggak keras kepala, jadi gue minta lo buat masuk sekarang."
Grey berdecak, "Gue bisa pulang sendiri." balas Grey tanpa bahasa formal lagi.
Pria yang sudah lelah itu mengarahkan pandangannya pada lengan grey yang mulai basah karena terkena hujan, didorongnya pipi bagian dalamnya menggunakan lidah, terlihat tak sabar dengan penolakan Gadis di depannya itu.
Argan menarik nafas mencoba mengatur pasokan udara di rongga dadanya, berurusan dengan gadis yang bernama Grey itu membuat stok kesabarannya harus ditambah lebih banyak lagi. Sebelum membuka pintu mobil, Argan memasang senyuman lebarnya berharap jika box smilenya itu akan meluluhkan kerasnya si gadis Abu-abu.
“Grey, kamu lihat langit nggak?” Secara impulsif Grey mendongak, nampak langit yang semakin menggelap terlebih jam sudah menunjukkan waktu senja.
“Hujan itu nggak akan berhenti dalam waktu dekat, dan itu akan buat waktu lo sia-sia kalau mau nunggu disini terus.” Jedanya sembari menyapu pandangannya ke area perusahaan yang sudah sepi. “Kalau lo takut kedapatan sama anak kantor, lo nggak usah khawatir gue pastikan nggak ada yang tahu lo tinggal di rumah gue,” lanjutnya meyakini dengan wajah memelas.
Sebenarnya Argan sudah lelah dengan aktifitasnya seharian di kantor. Tapi karena mengingat satu tanggung jawabnya yang bertambah mengurungkan niatnya untuk pulang terlebih dulu. Dia memutuskan tetap di ruangannya hingga jam para karyawan pulang agar dia bisa pulang bersama Grey.
Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Grey mengangguk setuju, memang tak ada yang perlu dia khawatirkan sekarang melihat tak ada lagi karyawan yang berada di area perusahaan dan itu artinya Argan menunggunya?
Grey sontak kembali menoleh pada Argan hingga pria itu bertanya pasrah. “Apa lagi Grey?”
“Lo nunggu gue?”
“Menurut lo?”
Grey menggeleng, “Nggak.”
“Berarti emang nggak, gue cuma nggak sengaja lewat sini terus lihat cewek cantik lagi nunggu taxi dan karena gue baik makannya gue tawarin tumpangan.” Terang Argan asal
Grey merotasikan bola matanya lalu berjalan meninggalkan Argan dan membuka pintu mobil untuk dia masuki. “Hufth, benar-benar yah anak ini,” gerutu Argan kemudian ikut memasuki mobil.
***
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit itu akhirnya berakhir saat kendaraan beroda empat yang di kemudikan oleh Argan berhenti tepat di depan rumahnya. Sebelum dia membuka pintu mobil Argan sekilas menoleh pada Grey yang sedang melepas seatbeltnya lalu membuka laci dashboard dan mengeluarkan satu plastik berisikan obat-obatan.
“Gue tau, lo pasti nggak ke apotek buat nebus obat, jadi gue yang ambilkan.”
“Ta-“ Grey baru saja akan berucap saat Argan memotong ucapannya, pria berusia 28 tahun itu melambaikan tangannya di depan dada dan dengan percaya dirinya dia berkata.
“You’re welcome”
"Hah?"
"Gue tahu lo pasti mau bilang thanks, kan?
Tanpa menjawab Grey langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan satu plastik yang sama persis dengan apa yang diberikan oleh Argan tadi. "Gue udah beli tadi," katanya
Dengan tertawa yang dibuat-buat, Argan berusaha untuk menahan malunya. "Hahaha, Ya ampun, berarti kita sehati dong, kok bisa sih kita beli obatnya sama persis kayak gini?" ucapnya sembari menggaruk tengkuknya.
Grey hanya menatap Argan datar hingga membuat putra yang memiliki nama akhir Dyantara itu canggung karenanya.
"Mm.. Kenapa?" tanya Argan mengangkat satu alisnya
"Lo minta lagi sama dokternya?"
"Apanya?"
"Itu." Grey melirik kantong plastik yang ada di tangan Argan
Argan menghembuskan nafasnya pelan. "Iya, gue fikir lo nggak akan perduliin luka lo, makanya gue inisiatif buat tebus obatnya."
"Orang tua gue bakalan ngamuk kalau mereka lihat luka ditangan lo ini, apa lagi lo sekarang magang di perushaan gue." Jelas Argan
"Tapi, gue udah bilang gue yang akan beli obatnya"
"Ya udah, lo simpan saja buat antisipasi kalau terjadi hal yang kayak gitu lagi,"
"Lo doain gue?"
Sontak Argan melipat bibirnya dalam seraya mengumpat dalam hati, niat yang baik malah disalah artikan karena kata-kata yang tak sesuai. Nasib.
Grey mendengus kemudian membuka pintu mobil setelah itu keluar meninggalkan Argan yang masih merutuki dirinya di dalam sana. Sebelum benar-benar meninggalkan mobil Grey kembali menunduk di samping jendela mobil.
"Lo aja yang simpan, kali aja lo butuh suatu saat!"
Argan tersenyum smirk melihat tingkah Grey yang ternyata juga bisa menampilkan ekspresi marah di wajahnya. Dia berfikir jika Grey hanya memiliki satu ekspresi di wajahnya. Tapi, hari ini pria itu melihat bagaimana si gadis Abu-abu itu menampakkan berbagai ekspresi.
Bukan hanya datar. Tapi, kesakitan, malu, dan marah.
"Ah sial. Dia menarik," gumam Argan gemas