Anti Romantic

Anti Romantic
Fokus



"Selamat siang semua"


Grey membelalakkan kedua matanya kala melihat dua orang pria memasuki ruangan, gadis itu kenal salah satunya dan itu membuatnya menyesal akan kecerobohannya dalam mempelajari tempatnya sekarang. Pupus sudah harapannya untuk berada dalam lingkungan kerja tanpa ada orang mengenal dan dikenalinya karena kenyataannya Grey bahkan berada dalam satu atap perusahaan dengan orang yang hampir setengah hari dia temui yaitu Argan Dyantara.


Secara impulsif Grey membalik tubuhnya berharap bahwa pria yang berada diatas sana saat ini tak akan menyadari keberadaannya, sungguh Grey berharap jika pria itu tak mengetahui bahwa dia ada diantara calon karyawan magang, Gadis itu bisa menebak jika Argan akan terus menanyai tentang kesannya terhadap perusahaannya. Tak bisa dia pungkiri jika selama sebulan lebih dia tinggal di rumah keluarga Dyantara membuatnya sedikit banyaknya mengetahui mengenai sikap anak dari Raufan dan Aira itu. Sering mengganggunya.


"Lo kenapa?"


Seorang pria yang berada di samping Grey menyapa, "Lo lagi nyari apa?" tanyanya


Grey berdehem sekilas sebelum menjawab. "Nggak ada, gue cuma sedikit gugup," katanya kembali menghadap ke depan yang sempat berbalik dan menunduk.


Pria itu tersenyum kemudian mengulurkan tangan kanannya. "Lo Grey kan?, gue Fathir."


Grey mengernyit merasa bingung dari mana pria di sampingnya ini bisa mengetahui namanya sedangkan seingatnya ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan pria tersebut.


"Hmm, wajar sih kalau lo bingung." Karena tangannya yang tak disambut akhirnya Fathir menurunkan ulurannya. "Kita satu kampus hanya berbeda fakultas, gue sepupu Hana," lanjutnya berharap jika Grey akan ada sedikit bayangan tentangnya.


"Ah, sorry." Meski tak mengingat dan tak tahu tapi Grey mengiyakan untuk menjaga perasaan pria yang adalah sepupu dari sahabatnya tersebut.


Obrolan yang di dominasi oleh Fathir itu terpaksa berakhir tatkala suara dari seseorang yang berada diatas panggung menginterupsi, keduanya sontak mengalihkan kembali fokusnya pada yang menjadi pusat perhatian.


Senyum tipis Argan tertarik dari susut bibirnya ketika matanya menangkap sosok gadis yang sedari tadi dia cari dan sedetik kemudian kembali kemode seriusnya, Dia mencebik sekilas setelah itu menyugar rambutnya dan itu sukses membuat para calon karyawan dari kaum Hawa itu menjerit tertahan karenanya . Anak tunggal dari Raufan Dyantara itu lantas berjalan ke arah podium meraih sebuah mic untuk menyampaikan sesuatu.


"Mungkin kebanyakan dari kalian yang memilih CoreId Corp sudah mengetahui bagaimana kinerja dari perusahaan ini, untuk mendapatkan hasil yang sempurna maka kita dituntut untuk bekerja sempurna. Disiplin adalah yang utama dan fokus adalah yang terpenting." Argan berbicara lantang dan tegas dengan wibawanya yang mempesona.


"Dan hanya sedikit dari kalian yang tidak tahu, bahwa saya Argan Dyantara adalah orang yang tidak menyukai ketidak fokusan saat saya sedang berbicara." lanjutnya menekan setiap kalimatnya.


Merasa sudah membuat sang bos tersinggung dengan ketidak fokusan mereka akhirnya semua orang yang berada dalam ruangan itu langsung menunduk tak berani untuk bersuara karena mereka tahu bagaimana sosok dari pria yang tengan memandang mereka dengan mata tajamnya itu saat benar-benar marah.


Tapi, berbeda dengan putri sulung dari Arum Abyan, Grey Diovanka Arum yang sering dipanggil Abu-Abu oleh Argan itu hanya menghela nafas pelan sembari fokus membalas tatapan dari sosok yang tak ada dalam benaknya untuk dia temui hampir 24 jam.


"Nice" Gumam Argan reflek melihat keberanian Grey


"Saya bukan bermaksud untuk menakuti kalian, saya hanya memberi gambaran agar kalian siap dan mampu untuk menerima tekanan selama berada disini." Kembali Argan bersuara namun dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya


Hanya sekitar setengah jam Argan dan Dimas menampakkan diri di antara para staff yang bertugas untuk membimbing para karyawan magang sebab setelah itu keduanya bergegas keluar untuk mengikuti meeting yang sebenarnya sudah telat setengah jam yang lalu.


Dimas mengikuti Argan yang berjalan tergesa-gesa sambil terus mengoceh akan kelakuan bos sekaligus sahabatnya itu, ini adalah yang pertama selama dia bekerja dengan Argan melihat pria yang memiliki senyum kotak itu sengaja terlambat untuk mengikuti meeting hanya karena menyempatkan untuk melihat para mahasiswa magang yang sebenarnya selalu bisa dikerjakan oleh para karyawannya.


"Gue benar-benar nggak habis fikir sama lo, Ar"


"Bagus, memang seharusnya lo nggak kehabisan fikiran selama jadi sahabat gue." Balas Argan sarkas tanpa merasa bersalah.


Dimas hanya mencebik tak bisa membalas dikarenakan mereka sudah sampai di depan pintu ruang rapat.


***


Tugas pertama berakhir, hanya beberapa dokumen kecil yang menjadi permulaan untuk Grey kerjakan setelah diajari oleh seniornya.


"Lo nggak makan siang?"


Grey tersentak hampir menjatuhkan ponselnya karena Fathir yang tiba-tiba bersuara dibelakangnya.


"Eh, sorry sorry udah buat lo kaget."


"Nggak apa-apa kok."


Fathir menghela nafas saat Grey kembali menyibukkan dirinya pada monitor, menurut pria itu pekerjaan yang diberikan oleh senior masihlah sedikit tapi melihat Grey yang sepertinya masih sibuk membuatnya ragu untuk berucap.


"Grey"


"Ya?"


"Lo nggak lapar?"


"Lapar"


Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sepupu dari Hana itu berharap jika Grey bisa mengucapkan lebih dari satu kata yang setidaknya bisa menjadi kalimat untuk bisa dia beri jawaban berikutnya.


"Gue masih nungguin Mbak Nita." Seakan mengerti dengan keadaan Fathir, Grey mulai bersuara.


Seperti seseorang yang mendapatkan sebuah kesempatan berharga Fathir langsung tersenyum. "Oh iya, gue sampe lupa, tadi pas lo ke kamar kecil Mbak Nita pesan katanya dia lagi ada urusan dengan kepala devisi jadi dia minta lo sama gue buat turun duluan" Katanya jujur


Grey sekilas mengintip dari balik bahu Fathir yang membelakangi ruangan dari kepala devisi dan memang benar jika Nita yang adalah senior mereka itu memang tengah berada di dalam sana.


"Gue nggak bohong kok Grey," gurau Fathir


"Gue tahu," Balas Grey singkat sambil merapikan mejanya.


Keduanya kemudian berjalan berdampingan keluar dari ruangan melewati koridor, tujuan utamanya adalah ke kantin perusahaan untuk mengisi perut karena waktu istrihat yang sudah berjalan 10 menit yang lalu.


"Grey"


"Hm"


"Lo nggak masalah kan kalau kita turun berdua gini tanpa Mbak Nita?"


"Kenapa"


"Gue nggak mau aja lo nggak nyaman, soalnya kan tadi lo nungguin Mbak Nita."


"Gue nggak tau maksud lo apa, cuma menurut gue selama lo nggak ganggu, itu nggak jadi masalah,"


"Lagi pula koridor, lift, bahkan kantin adalah tempat umum, jadi gue nggak ada hak untuk melarang orang-orang untuk berjalan di dekat gue."