Anti Romantic

Anti Romantic
Terbiasa



Keadaan lobi kantor nampak ramai pagi ini, kesibukan bagi hampir semua karyawan sangat terlihat disana, beberapa orang yang bekerja sebagai cleaning service nampak disibukkan dengan pekerjaan tambahan yang diperintahkan oleh kepala bagiannya.


Grey mengangkat tangannya melihat jam yang melingkar dipergelangannya memastikan bahwa dia tak terlalu pagi sampai di kantor karena biasanya jam segini bagian cleaning service hanya membersihkan sebagian kecil saja setelah jam sudah menunjukkan pukul 8.30. Tepat satu minggu Grey bekerjaan di perusahaan itu dan dia mulai hafal kebiasaan yang terjadi setiap paginya.


“Apa hari ini ada acara?” Grey bertanya penasaran, matanya menyapu pada keadaan di ruangannya yang nampak sama dengan apa yang terjadi di bawah sembari meletakkan tasnya di atas meja


Gadis yang memakai blouse berwarna putih itu baru saja sampai di depan pintu dan mendapati semua orang yang berada dalam divisinya sedang sibuk membersihkan meja dan segala perlengkapan dibantu oleh dua orang cleaning service.


Fathir yang mejanya tepat berada di samping Grey pun menoleh. "Eh, lo baru datang?" Grey mengangguk


"Ada acara apa?" ucap Grey mengulang pertanyaannya


Fathir menghentikan gerakan tangannya yang sementara menyusun lembaran yang berada di atas meja kemudian tersenyum. "Grey, gue fikir lo cuma cuek tapi ternyata lo juga pelupa yah?" tukas Fathir yang membuat Grey mengerutkan alisnya bingung.


Gadis itu berusaha mengingat hingga kepalanya dia pukul pelan, melihat apa yang dilakukan oleh Grey reflek membuat Fathir menahan tangan gadis itu kemudian mengelus kepalanya


Nampak Grey semakin mengerutkan alisnya, tak ada bayangan apapun dalam otaknya sekarang.


"Hahaha, lo kayak gitu kelihatan lucu banget, Grey." ucap Fathir seraya terkekeh lucu, "Hari ini kan para petinggi perusahaan akan datang," beritahunya


Sekilas Grey menutup rapat matanya, kebiasaanya yang hanya memperdulikan sesuatu yang penting menurutnya membuatnya seakan tuli saat adanya info yang tersebar di kantor mengenai akan adanya pertemuan penting di kantor kemarin.


"Kalau nggak salah pemilik perusahaan juga akan datang," lanjut Fathir


"Pak Raufan Dyantara?"


“Lo kenal?”


“Iya”


Menyadari jawabannya tadi membuat Grey dengan cepat  menggelengkan kepalanya kasar seraya melambaikan tangannya di depan dada. “Maksudnya bukan kenal secara personal tapi kenal sebatas nama, bukannya seharusnya memang kita sudah tahu mengenai pemilik perusahaan sebelum kita diterima untuk magang disini?”


Fathir mengangguk setuju, memang sebelum mereka diterima untuk magang di CoreId Corp mereka dianjurkan untuk mempelajari seluk beluk tentang perusahaan itu.


"Grey!"


Gadis itu menoleh pada asal suara yang memanggilnya setelahnya berjalan mendekatinya. "Iya, Mbak?"


"Mbak bisa minta tolong nggak?" tanya mbak Nita


"Ada apa, Mbak?"


"Tolong kamu bawa barang-barang ini ke gudang bawah yah!" ucap Nita sembari menunjuk tumpukan map beserta kotak yang sudah tak terpakai. "Kalau kesusahan kamu bisa minta bantuan Fathir."


Sigap Fathir yang disebut namanya pun langsung mendekati Grey kemudian mengangkat tumpukan kotak yang memang lumayan berat. "Grey, kamu bawa map-map itu saja." tandasnya


Grey hanya mengangguk setelahnya mengambil map yang dimaksud, mereka berdua keluar dari ruangan melewati koridor menuju lift khusus karyawan untuk turun ke lantai satu dimana gudang kantor berada.


Dan sekarang sebuah pertemuan penting akan diadakan hari ini, segala persiapan telah dilakukan sesempurna mungkin, dari kebersihan kantor hingga kerapian para penghuni kantor tak lepas dari penilaian.


“Bagaimana lengan mu?”


Fathir membuka suara saat mereka berada dalam lift, berada di dekat Grey membuat pria itu harus berinisiatif membangun suasana dikarenakan Grey adalah type orang yang akan diam jika tak ada yang perlu untuk dibahas, dan Fathir paham akan itu.


Grey mengangkat tangannya yang bebas seraya menggerakkannya. “Sudah mendingan, tinggal tunggu lukanya benar-benar kering," jelasnya


Pria dengan kemeja berwarna putih itu mengangguk sembari bibirnya dia gigit pelan, dia bingung bagaimana dia harus membangun keakraban jika gadis yang berada di sampingnya saat ini hanya menoleh dan berbicara semaunya saja.


Fathir membuang nafas pelan. "Ada apa Thir?"


"Hah?"


"Kalau berat lo bisa kasih sebagian barangnya ke gue." Grey menunjuk barang yang berada di tangan Fathir


Meski pelan ternyata Grey bisa mendengar bagaimana pria di sampingnya menghembuskan nafasnya hingga membuat Grey tak enak.


Fathir menggeleng. “Nggak apa-apa  Grey, ini nggak berat kok,” katanya seraya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


Ting


Hanya membutuhkan waktu sekian menit saat pintu lift terbuka dan bertepatan dengan itu nampak beberapa orang dengan setelan jas rapi dan wibawa yang sangat jelas berjalan ke arah Grey dan Fathir tepatnya ke arah lift yang berada di samping mereka.


Sepanjang mereka berjalan melewati lobi menuju lift semua karyawan yang melihatnya nampak membungkuk hormat tak terkecuali Grey dan Fathir yang masih berdiri di depan lift, hingga gadis yang dikenal cuek itu tiba-tiba menjatuhkan tumpukan map yang dia pegang.


“Hi, Dek.”


Sapaan yang terdengar tepat di telinganya itu membuatnya bergidik hingga tak sengaja melepaskan map yang dia pegang, dengan cepat dia menunduk tak enak dengan tatapan orang-orang besar di depannya.


“Maaf, Pak." ucap Grey sembari memunguti map yang terjatuh di bawah kakinya


Sama halnya dengan Grey, Fathir yang berdiri di samping gadis itupun turut berjongkok membantu Grey untuk mengambil bawaanya dan itu tak lepas dari perhatian dari orang yang sempat membuat Grey bergidik.


Argan yang awalnya tersenyum karena berhasil menggoda Grey tiba-tiba langsung mendatarkan garis bibirnya tatkala melihat pria yang bersama Grey seakan mengambil kesempatan untuk dekat dengan gadis itu, tanpa sadar bibirnya mencibir.


"Dasar" gumamnya


Melihat pria disamping Grey membuat mood Argan tiba-tiba jelek, niat ingin membuat Grey tersipu karena sapaannya malah berbalik membuatnya jengkel tanpa sebab.


Yah, sudah seminggu setelah kejadian Grey memanggilnya 'Kak Argan' dan itu sukses membuatnya seperti seorang remaja yang semakin gencar ingin mendengar kata itu terus setiap hari, tapi bukan Grey namanya jika dia akan mengatakan kata itu untuk seterusnya, dia melakukannya hanya untuk menolong pria yang selalu dipuji tampan tersebut dari amukan kedua orang tuanya.


Meski Argan tahu alasan Grey mengucapkan panggilan itu padanya tapi tak sedikit pula yang membuat Argan semakin ingin mendengar kata atau kalimat lain yang terlontar dari bibir gadis bernama Abu-abu itu.


Walau hanya sebatas marah tapi sadar atau tidak Argan mulai terbiasa dengan suara Grey yang tak pernah bersikap lembut padanya.