
Sebuah senyuman tanda kepuasan terukir dari bibir berwarna merah milik Aira, pekerjaannya telah selesai tepat pukul 7 malam.
Nampak menu makan malam telah tersaji di atas meja panjang di ruang makan. Wanita berumur lebih dari setengah abad itu bertepuk tangan setelah meletakkan gelas berisi susu kesukaan Grey di atas meja.
Setelah memastikan semua sesuai akhirnya dengan langkah cepat Aira keluar dari ruang makan hendak memanggil suami dan anaknya.
"Ar, ayo makan dulu, Nak!" Teriak Aira dari pintu setelah sebelumnya sempat mengetuk pintu berbahan kayu berkualitas tinggi itu.
Mendapat jawaban sang anak, Aira beralih ke pintu kamar Grey yang tepat berada di samping kamar Argan. Dia mengetuk pintu perlahan hingga Grey membukanya dan sontak membuat bunda dari Argan itu memekik dengan mata membelalak.
"Kenapa dengan tangan mu, Sayang?"
"Ketumpahan air panas." Jawaban itu bukan berasal dari Grey melainkan Argan yang baru saja keluar dari kamarnya
"Astaga kok bisa?, udah diobatin apa belum?, lukanya parah nggak?"
"Bund, tenang!, Grey nggak apa-apa, lukanya juga nggak parah dan sudah diobati,"
Istri dari Raufan itu menoleh pada sang putra dengan mata memicing curiga. "Dari mana kamu tahu?" tanyanya
"Tentu Ar tahu, itu terjadi di kantor ku." jawab Argan enteng
"Bund, kok malah disini? katanya mau makan malam." Raufan datang dengan satu gelas air mineral di tangannya.
Suami dari Aira itu sempat ke ruang makan tapi tak melihat istri maupun anaknya disana, dan setelah mendengar keributan di lantai dua akhirnya Raufan mendatangi asal suara.
"Yah, lihat tangan Grey!" adu Aira menunjuk lengan Grey yang terlilit perban
Menjadi pusat masalah membuat Grey tak enak hati, disembunyikannya tangannya ke belakang sembari bibirnya yang digigit cemas, ini hanya luka biasa tapi kenapa terlalu heboh. Fikirnya
Sama halnya dengan sang istri, Raufan juga langsung melebarkan matanya kala melihat tangan dari putri sulung sahabatnya berbalut perban. "Apa yang terjadi, Grey?"
"Ketumpahan air panas di kantor anak mu, Yah" Aira menjawab cepat sebelum Grey sempat bersuara
Secara impulsif Raufan menoleh pada sang putra, tatapannya terlihat marah kemudian berjalan mendekati Argan yang berada di belakang sang istri. Melihat tatapan tak bersahabat dari sang Ayah membuat Argan mundur seraya menelan salivahnya secara kasar.
Sungguh ini bukanlah kesalahan Argan, tapi berada dalam situasi dan keadaan seperti ini membuatnya seakan menjadi tersangka yang sangat tersudutkan.
Argan mengangkat kedua tangannya di depan dada kemudian melambaikannya berkali-kali dengan kepala yang juga ikut menggeleng. "Yah, ini bukan salah Argan, malah Argan yang udah bantu Grey buat obatin lukanya." jelas Argan membela diri.
Dia menoleh pada Grey dengan wajah memelas berharap jika gadis itu akan bersuara dan menolongnya. Argan memang dikenal tegas dan ditakuti di perusahaannya tp berbeda saat di rumah pria yang tak menyukai pedas itu akan langsung menjadi anak kucing saat berurusan dengan kedua orang tuanya.
"Yah, benar kata Argan," ucap Grey akhirnya, "Ini hanya kecerobohan Grey saat berada di kantin, Grey nggak sengaja nabrak karyawan lain yang sedang membawa kopi, dan Argan yang bawa Grey ke UKS." Jelasnya
"Jadi benar kamu magang di CoreId Corp?" tanya Raufan yang dijawab oleh Grey dengan anggukan
Bukannya meredah kekesalan Raufan, lelaki yang kepalanya sudah mulai ditumbuhi rambut putih itu malah semakin ingin menjewer telinga sang putra.
"Aww, Yah. Apa lagi?" Raufan meringis berusaha melepas tangan sang ayah yang sudah mengapit telinganya bak kepiting yang bertemu mangsa.
"Benar-benar yah, anak nakal ini berani-beraninya kamu nggak ngasih kabar ke Ayah kalau Grey kamu masukin kesana."
"Yah, Kak Argan nggak tau apa-apa. Grey bisa masuk ke perusahaan Ayah karena rekomendasi kampus, baik Grey atau Kak Argan-kami baru tahu baru hari ini."
Terpaku, Argan dibuat diam dengan mulut yang terbuka mendengar panggilan Grey padanya, terlebih tangan Grey yang mengelus telinga bekas dari jeweran sang ayah.
Dalam diam Argan menarik garis bibirnya, entah Grey sadar atau tidak, palsu atau tidak, tapi saat ini Argan dibuat deg-degan tak karuan dengan panggilan itu, panggilan dari gadis yang sering dia panggil si bocah Abu-abu. Grey memanggilnya dengan sebutan 'Kak'.
Argan menggeleng sekilas mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang entah kemana dan tak tahu jika ternyata kekesalan sang ayah sudah meredah dan sekarang dia hanya berdiri sendiri di depan kamarnya karena sudah ditinggal oleh tiga orang yang sempat bersamanya tadi.
***
Malam semakin larut, Grey sudah berbaring di ranjangnya dengan tangan yang dia letakkan di atas dahinya. Dia tak mengantuk bahkan matanya pun masih siaga untuk menemaninya melewati beberapa jam lagi.
Putri dari Deana itu melirik ke kiri berusaha menajamkan pendengarannya tatkala samar sebuah suara memanggil namanya.
"Abu-abu"
Grey tersentak bangun dari pembaringannya, suara itu semakin jelas di pendengarannya dan itu membuatnyamerinding seketika.
"Abu-abu"
Tunggu, ini bukanlah hantu atau semacamnya. Suara berat dan panggilan itu hanya ada satu orang yang memilikinya di rumah ini. Grey menghela nafas pelan dengan bola mata yang dia rotasikan. Siapa lagi kalau buka Argan pelakunya.
Dengan pelan dia turun dari ranjangnya mengarahkan langkahnya menuju balkon yang belum dia tutup. Semakin dekat dia pada balkon semakin jelas suara itu.
"Aaarggghh."
"Ssstt, diam!"
"Lo ngapain?" Grey mengusap dadanya kasar sembari membuang nafasnya kasar, penampakan Argan yang berada di sampingnya membuat dia sontak memekik di tengah malam.
Argan dengan santainya tersenyum lebar. menampilkan gigi putihnya yang hampir sama dengan warna masker wajah yang dia gunakan.
"Gue kira lo udah tidur."
"Kenapa?"
"Jutek banget sih, Grey"
Kakak dari Dennis itu mendelik. "Gue baru saja mau tidur sebelum gue dengar suara yang manggil gue."
Argan tersenyum. "Tapi lo datangin juga asal suaranya." katanya
"Lo lihat?" Grey menunjuk pada pintunya dan diangguki oleh pria di depannya
"Gue mau tutup pintu." Setelah ucapannya keluar dari mulutnya, gadis itu langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon serta tirai meninggalkan Argan yang malah tersenyum smirk.
Jika dulu keseharian Argan adalah kerja, pacaran, dan nongkrong di cafe bersama teman-temanntnya. Maka, malam ini tanpa sadar Argan telah menjadikan balkon kamarnya menjadi tempat nongkrong favoritnya.