Anti Romantic

Anti Romantic
Cobaan atau anugrah



Sedikit penolakan dilontarkan oleh Argan saat kedua orang tuanya memberi tahu jika kamar yang akan ditempati oleh Grey tepat berada di sebelah kamarnya, namun penolakan hanyalah penolakan yang tak ada hasil memuaskan nyatanya baik Raufan maupun Aira masih bersikukuh untuk menempatkan Grey berada disana.


Dan disinilah Argan berada dengan mata yang memicing sinis membawa dua koper sampai ke dalam kamar dan meletakkannya di samping ranjang berukuran single bed dengan bed cover berwarna hijau tosca-pink bergambar kepala kelinci, entah kapan kedua orang tuanya itu menyiapkannya.


"Lo bisa menyimpan pakean lo di lemari itu." Tunjuk Argan pada lemari 4 pintu yang berada di ujung ruangan berjejer dengan meja belajar dan juga rak buku.


Tak bersuara, Grey hanya menoleh ke belakang dimana Argan berada setelahnya mengarahkan pandangannya pada lemari yang dimaksud.


"Lo nggak bisa bilang makasih gitu?"


"Thanks" Cepat Grey berucap, dia tak suka jika ada orang lain yang berada di dekatnya dalam waktu lama, dan menurutnya Argan sudah lama berada disana, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya secepatnya dan berharap jika lelaki yang dipuji tampan kelas dewa oleh teman sekampusnya itu untuk segera keluar dari kamar yang akan di tempatinya entah untuk berama lama.


Argan mendelik tersenyum miring, dia bisa meyakinkan jika gadis di depannya ini tidak akan pernah cocok dengannya dengan kepribadian yang sangat berbeda jauh. Argan menghembuskan nafasnya kasar sembari membalik tubuhnya cepat saat Grey bersuara kembali.


"Gue mau istirahat, lo bisa keluar, nggak?"


Argan berjalan cepat seraya mendumel, "Astaga, tuan rumah siapa tamu siapa."


Grey mendengarnya tapi dia tidak perduli menurutnya itu tidak penting, dia masih berbicara dengan wajar dan pula dia juga sudah pernah menolak walaupun kedua orang tuanya yang minta untuk tinggal di rumah ini tapi kedua sahabat orang tuanya yang tak lain adalah orang tua Argan malah memaksanya untuk tetap tinggal.


Di hempasnya tubuhnya di atas ranjang, satu tangannya dia letakkan di belakang kepala dan satu tangannya lagi menutup matanya, dia lelah dan ingin menenggalamkan diri di dalam mimpi walau hanya sebentar tanpa dia sadari pintu kamarnya masih belum tertutup rapat.


***


"Grey mana?" Aira mendongak melihat sang putra yang baru mau turun dari tangga.


"Ar nggak tau, Bund. Masih di kamarnya kali." Jawab Argan mengangkat kedua bahunya.


"Panggil dulu gih sana!, suruh makan malam gitu." Titah Aira dari bawah tangga.


"Bunda nggak bisa panggil sendiri yah? Atau bi Minah aja gitu." Tawar Argan berusaha menolak.


"ARGAAANN!!"


Argan sedikit mengintip di depan pintu kamar Grey yang tak tertutup rapat seraya memanggil gadis itu pelan. "Abu-abu!"


Argan terkekeh sendiri dengan panggilan yang dia sematkan pada gadis itu, menurutnya itu lebih cocok untuk watak seorang gadis yang tanpa ekspresi seperti dia, padahal 'Grey' dan 'Abu-abu' sama saja hanya membedakan dari bahasa. Tapi, bagi Argan nama 'Grey' terlalu keren untuk gadis yang belum genap sehari tinggal di rumahnya itu.


"Mana dia?" Argan menarik kepalanya kembali menyisir luar kamar saat tak melihat Grey berada di dalam.


"Dia belum turun, kan?" Monolognya, kembali dia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar disusul kakinya yang mulai melangkah masuk, tangannya medorong pintu untuk terbuka lebar sebelum tubuhnya ikut ke dalam.


Argan menyisir ruangan tak terlihat seseorang yang dicari di dalam sana, hanya ada satu set piyama tidur berwana abu-abu di atas kasur. Tanpa sadar Argan malah duduk di samping kasur dan menunggu gadis itu keluar dari kamar mandi. Yah, dia tahu jika Grey berada di kamar mandi karena suara gemericik air terdengar sampai keluar.


"Nggak salah memang kalau dia gue panggil abu-abu, sukanya memang warna itu." Gumam Argan.


Sebenarnya dia bisa saja berteriak di balik pintu kamar mandi untuk menyuruh gadis di dalamnya itu untuk segera turun makan malam setelah selesai mandi, tapi entah mengapa seakan otak pintar Argan tertutup dan malah menunggu sambil memainkan game di ponselnya.


Suara decit pintu terdengar mengubah atensi Argan, pandangannya lurus dengan mata yang membulat melihat Grey yang keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna biru muda melilit tubuhnya hingga atas lutut serta rambut yang ditutup dengan handuk putih.


"Lo ngapain di kamar gue?" Seakan tak ada masalah dengan Argan yang melihatnya dalam kondisi demikian Grey malah bertanya dengan ekspresi datarnya.


Argan mengerjapkan matanya sekilas kemudian langsung berdiri tegap, sedikit susah untuk menelan salivah setelahnya dia berucap, "Lo dipanggil bunda buat makan malam."


"Iya, nanti gue turun." Jawab Grey sambil berjalan mendekat ke ranjang niat untuk mengambil pakeannya.


Argan melirik Grey yang sudah berdiri di sampingnya sambil membungkuk. Tubuh Grey benar-benar membuat Argan menegang di tempat.


"Tuhan, ini cobaan atau anugrah?" Batin Argan sembari menutup matanya.


"Gue risih, lo bisa keluar?" Sarkas Grey tanpa melihat Argan.


"I-iya, sorry." Argan berucap, "Lain kali pastikan pintunya tertutup rapat." lanjutnya kemudian berjalan cepat keluar dari kamar meninggalkan Grey yang tercenung di tempatnya mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat. Salah jika menganggap dia sedang mengalami yang namanya perasaan sama halnya dengan orang-orang yang mulai menyukai seseorang karena sekarang apa yang dia rasakan malah ingin mengumpati dirinya yang begitu ceroboh. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang melihat dirinya dalam keadaan yang menurutnya setengah telanjang dan itu adalah seorang pria.


Sial, sial, sial