
Sinar senja telah berganti beberapa jam yang lalu dan sekarang cahaya bulan dan bintanglah yang mendominasi langit malam saat ini, sama seperti malam sebelumnya dengan kesejukan yang tak bisa tubuh pungkiri saat hembusan angin menyentuh permukaan kulit yang tak tertutup oleh sehelai kain.
Terasa menenangkan ketika kornea mata menangkap ribuan cahaya bintang di atas cakrawala dan itu yang dirasakan oleh Grey saat ini yang tengah dibuat kalut oleh kerinduannya dengan kedua orang tua serta sang adik Dennis.
Bukan pertama baginya terpisah jauh tapi entah mengapa kepergian keluarganya kali ini begitu membuatnya terlarut oleh rasa rindu dan mungkin itu dikarenakan kepergian keluarganya ini sekaligus pengalaman pertama baginya harus tinggal jauh dari segala kenangannya yaitu rumahnya.
Gadis yang hanya memakai piyama tipis sampai lutut itu mengeratkan pegangannya pada pagar balkon dengan kepala yang menengadah ke atas setelah ponselnya dia letakkan di atas meja, dia baru saja selesai melakukan video call dengan kedua orang tua dan adiknya, tak bisa dia elak jika saat melihat wajah orang yang begitu dia sayang itu membuat air matanya luruh seketika. Dia merindukan suasana rumahnya terlebih keluarganya.
"Jangan ditahan"
Sontak Grey menoleh setelah menghapus kasar pipinya yang basah saat Argan tiba-tiba berada di sampingnya.
"Lo ngapain ke kamar gue?"
"Sorry, gue nggak bermaksud mengganggu privasi lo, tap-"
"Tapi itu yang lo lakuin sekarang." tukas Grey memotong kalimat Argan
Pria itu tak mengelak, kepalanya dia miringkan mengahadap tepat di wajah Grey hingga membuat gadis itu membuang wajah ke samping. "Lo kangen orang tua lo?"
"Bukan urusan lo"
Argan terkekeh melihat ekspresi wajah Grey yang nampak menahan tangis. "Jangan ditahan, kalau dengan menangis bisa buat lo lebih tenang lakukan saja." ucapnya sembari bersandar pada pagar balkon dengan tubuh yang menghadap pada lawan bicaranya.
Grey diam tak menimpali, jujur saja meski Grey terkesan masa bodoh tapi jika dalam keadaan seperti ini dan diajukan pertanyaan yang memancingnya untuk menangis itu akan sangat dia hindari, dan sekarang Argan melakukan itu.
Gadis yang memiliki nama tengah Diovanka itu membelalakkan matanya saat pundaknya ditutup oleh selimut tebal dengan merk yang Grey tahu betul kisaran harganya. Dia menoleh dan mendapati Argan tersenyum padanya dengan mata yang membentuk sabit.
"Lo bisa sedih tapi jangan sampai sakit, gue nggak kuat lihatnya."
Grey kembali memalingkan wajahnya yang sontak membuat Argan tertawa. "Gue bercanda Grey," ucapnya sembari mengacak surai hitam gadis itu.
"Gue tahu lo saat ini kangen banget sama keluarga lo, dan menangis bukan sebuah dosa. Lo bisa lakuin itu selama yang lo mau, lo nggak perlu terlihat cuek atau tak perduli saat sendiri termasuk saat di depan gue."
Grey masih diam berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh pria yang seharian tadi mengganggunya di kantor. Kejadian saat di kantin ternyata menjadi awal baginya berurusan dengan Argan seharian itu, seakan tak membiarkan dia kembali ke ruangannya dan mengerjakan tugas dari seniornya Grey malah ditugaskan untuk menyusun berkas yang berada diruangan khusus dokumen penting yang bukanlah menjadi tugasnya.
Argan tahu jika tugas itu bukanlah urusan Grey, tapi saat melihat kedekatan antara Fathir dan gadis itu membuatnya seakan ingin memberikan kesibukan lain yang tak melibatkannya dengan pria tersebut. Anggaplah Argan mulai tak menyukai ada orang yang lebih dekat dengan gadis yang sudah tinggal di rumahnya selama beberapa bulan itu.
"Maaf untuk tadi siang" ucap Argan pelan, "Maaf karena selalu membuat mu tak nyaman selama tinggal di rumah ini." lanjutnya
"Nggak apa-apa" balas Grey sembari menghapus jejak air matanya yang sempat menggenang saat Argan berbicara tadi.
Putra Raufan itu tersenyum setelah itu berjalan ke arah kursi tepat berada di belakang Grey dan mendudukkan diri disana. Argan menatap punggung Grey sesaat sebelum matanya melihat ponsel Grey yang berada di sampingnya menyala menampilkan sebuah notifikasi wa dari orang yang seharian membuatnya tak tenang.
Argan menghela nafasnya kemudian mencebikkan bibirnya, ingin rasanya dia menyembunyikan ponsel Grey saat ini.
"Lo mau apain ponsel gue?"
Argan terjingkat tatkala Grey langsung bersuara saat dia hendak memegang ponsel gadis itu.
Dielusnya dadanya sembari membuang nafasnya lewat mulut, belakangan ini dia selalu merasakan lemah pada jantungnya, gampang kaget, sering berdebar tidak karuan, bahkan kadang tiba-tiba sesak. Yah, sepertinya itu pengaruh dirinya sudah jarang melakukan olahraga, bukan?.
"Ponsel gue." Tangan Grey terulur tepat di hadapan Argan sembari memasang wajah datarnya.
"Hah?"
"Lo masih mau disini?" tanyanya
"Lo ngusir gue?"
"Nggak baik pria dewasa ada di kamar cewek malam-malah begini" balas Grey
"Lo salah, gue nggak di kamar lo tapi gue di balkon," Argan menjawab tak mau kalah, dia masih ingin berada disana tapi sang empunya kamar malah mengusirnya
Garey mendelik, "Emang lo kesini lewat mana?, terbang dari sana?" tunjuknya pada kamar pria tersebut
Bukan bermaksud buat mengusir, tapi saat ini Grey masih ingin menumpahkan sesaknya, meski sedikit terhibur dengan kehadiran Argan sekarang tapi dia belum terbiasa jika seseorang melihatnya menangis.
"Yah gue lewat kamar lo lah"
"Jadi?"
"Ya elah Grey bentar lagi lah, gue masih mau nikmatin suasana malam yang sejuk disini" elaknya
"Emang di tempat lo siang? kan sama-sama malam, lo bisa nikmatin suasana malam yang lo maksud sepuasnya bahkan sampe suasana berubah jadi pagi juga nggak masalah."
Bukannya menjawab atau menolak Argan malah menarik ujung bibirnya, meski tak membuat Grey tersenyum tapi setidaknya berdebat dengannya membuat gadis itu sejenak melupakan sedihnya karena harus mengomel dan meladeninya.
"Ar, gue aduin lo yah sama Ayah!" ancamnya
"Astaga Grey." Argan menutup mulutnya drama berpura-pura kaget dengan ancaman gadis di depannya. "Lo sekarang mainnya ngancam dan tukang ngadu yah?"
Putri Arum itu memutar bola matanya malas, dia tahu jika Argan sedang bersikap berlebihan hanya untuk menggodanya, tapi jika terus diladeni pria itu akan terus-terus mengganggu dirinya. Ah, ingin rasanya dia menyetet pria itu keluar dari kamarnya sekarang.
"Ayahh!" bertepatan dengan itu Grey melihat ayah dari pria di depannya itu berjalan ke arah pos satpam, dari atas balkon Grey tersenyum jahil.
"Grey, lo apa-apaan sih!" Argan berusaha untuk mencegah tindakan Grey
"Ada apa Grey?" Tak disangka teriakan yang menurut Grey pelan itu ternyata masih di dengar oleh lelaki yang dia panggil ayah itu.
Reflek Grey menutup mulutnya sedangkan Argan dengan cepat membalik tubuhnya dengan mata yang dia tutup rapat.
"Kamu ngapain disitu, Ar?" Dari bawah Raufan berteriak
"Ng-nggak ngapa-ngapain, Yah" balas Argan dengan mata yang melirik sini ke arah Grey di sampingnya yang malah tersenyum mengejek.
"Balik ke kamar mu!, ini sudah jam berapa Grey harus istirahat"
"I-iya Yah!"
Tak ada pilihan dengan kaki yang terasa berat akhirnya Argan melangkah masuk ke dalam kamar Grey hendak keluar dari sana
Dari balkon Grey tersenyum, "Thanks" gumamnya
Argan berhenti, samar dia mendengar satu kata yang diucapkan oleh Grey, dia senang untuk pertama kalinya bukan menjadi pengganggu tapi menjadi penghibur untuk gadis itu meski dengan cara yang berbeda.
Diputarnya tubuhnya kembali menghadap Grey yang masih berdiri di belakangnya dengan selimut yang masih menutupi pundak.
"Jangan kelamaan di balkon, lo bisa masuk angin. Masuk dan tidurlah!" titahnya kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar.