Anti Romantic

Anti Romantic
Sakit



Kain berumbai berwarna putih yang menutupi bingkai jendela disibak menampakkan suasana pagi yang masih terlihat gelap. Pukul 6.23 Grey mulai membuka pintu menuju balkon kamarnya dan langsung disambut oleh kicauan burung yang hinggap di pohon di depannya serta bau tanah yang begitu menyengat penciumannya.


Anginnya masih Begitu sejuk menyentuh permukaan kulitnya hingga membuat gadis berusia 21 tahun itu mendekap tubuhnya sendiri. Sekitar 9 jam langit menumpahkan berkahnya dalam bentuk hujan ke permukaan bumi menyisakan embun yang masih menetes kecil di pagar besi yang saat ini Grey sentuh.


Masih begitu jelas diingatannya bagaimana dia melewati ketakutannya akan suara petir dan kilat yang terjadi semalam dengan tertidur dalam dekapan Argan, dan kini saat bangun dia sudah berada di dalam kamar yang menjadi tempat ternyamannya selama hampir dua bulan belakangan.


Grey menoleh ke arah kamar Argan yang nampak seperti tak ada penghuni di dalamnya, lampu balkonnya masih menyala terang menandakan jika sang pemilik ruangan yang berdesain klasik itu masih belum terjaga dari tidurnya.


Anak dari Deana itu mengerutkan keningnya lantas membalik tubuhnya untuk keluar dari kamarnya.


"Baru bangun, Grey?" tanya Aira sesaat setelah Grey keluar dari kamarnya.


Wanita berusia lebih dari setengah abad itu sudah rapi dengan pakaian modisnya, Grey bisa menebak jika bunda dari Argan itu akan menghadiri sebuah acara dan dugaannya itu diperkuat dengan sebuah tas dengan merk yang membuat kantong menjerit itu nampak menggantung pada lengan yang dihiasi oleh jam yang tak kalah merknya.


"Iya, Bund," jawab Grey


Aira tersenyum sembari mengusap pundak kanan Grey pelan. "Bunda udah siapin sarapan, sup asparagus jagung ayam cocok buat cuaca dingin kayak sekarang," katanya yang dijawab anggukan oleh Grey


Baru saja Grey melangkahkan kakinya namun terhenti kala Bi Minah datang dengan satu buah nampan yang berisi satu mangkok sup dan segelas air mineral serta satu botol obat penurun demam di tangannya.


"Siapa yang sakit, Bund?" tanya Grey penasaran


"Argan" jawab Aira seraya memutar knop pintu kamar berbahan jati di depannya.


Wanita itu mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar Argan dan diikuti oleh bi Minah, Grey yang penasaranpun tak ayal mengikuti sahabat dari orang tuanya tersebut. Gadis itu terdiam di belakang Aira ketika matanya menangkap tubuh yang terbaring lemah diatas ranjang king size dengan wajah yang begitu pucat.


Grey menoleh saat mendengar Aira menghela nafas pelan. "Kenapa, Bund?" tanyanya


"Bunda lagi bingung, Grey. Pagi ini Bunda harus menemani Ayah untuk menghadiri acara kolega bisnisnya di luar kota dan pesawatnya satu jam lagi berangkat, tapi Bunda juga nggak bisa ninggalin Ar dalam keadaan kayak gini," jelas Aira panjang lebar terlihat jelas kekalutan dan khawatirnya.


"Bunda butuh bantuan, Grey?"


Secara impulsif Aira menoleh mendengar pertanyaan gadis di sampingnya. "Bunda nggak yakin Grey mau bantuin Bunda," ucapnya ragu


"Selama Grey bisa, Grey pasti bantu Bund," jawab Grey lantas meraih nampan yang masih berada di tangan Bi Minah. "Grey biasa merawat Dennis saat dia sakit," lanjutnya seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang kemudian meletakkan nampan di atas nakas.


Aira tersenyum, "Grey yakin?"


"Bunda percaya sama Grey?, Ar akan sehat sebelum Bunda dan Ayah pulang" lugas Grey berucap membuat Aira terkekeh kecil


"Baiklah, kalau Grey udah yakin," kata Aira kemudian membungkuk mensejajarkan wajahnya tepat di samping telinga anak Deana itu. "Nanti Grey jangan kapok yah!" Bisiknya lantas berdiri dan membalik tubuhnya hendak keluar dari kamar sang putra meninggalkan Grey yang malah terpaku di tempatnya.


"Nanti bunda suruh Bi Minah buat antarkan sarapan mu kesini." Suara Aira terdengar sebelum pintu kamar Argan tertutup sempurna


Grey masih terdiam berusaha menyelami maksud dari wanita yang dia panggil Bunda itu hingga suara erangan terdengar ditelinganya.


Gadis itu menoleh dan melihat Argan mengerutkan hidungnya sembari memijat dahinya.


"Arggh" rintihnya


"Lo udah bangun?" Grey bertanya sambil tangannya memperbaiki posisi bantal Argan


Argan yang belum sepenuhnya terjaga langsung mengerutkan keningnya, dengan mata tertutup pria itu mencoba menajamkan pendengaranuntuk memastikan suara yang dia dengar.


Mata yang awalnya terasa berat langsung terbuka sempurna, Argan tersentak kaget mendapati Grey yang duduk di sampingnya dengan wajah yang masih begitu kentara jika gadis itu juga baru bangun dari tidurnya.


"Lo ngapain di kamar gue?" tanya Argan dengan suara lirih seraya berusaha untuk duduk


"Bunda sama Ayah lagi keluar kota," jawaban yang tak sesuai terucap tanpa beban dari bibir Grey dan Argan tak puas akan hal itu


"Bunda nyuruh lo disini?"


Grey mengangguk mengiyakan, kakak dari Dennis itu kemudian meraih mangkuk sup yang berada di atas nakas lantas mengaduk makanan berkuah itu. "Lo mau makan sendiri atau gue suapin?" Tanyanya


Argan menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Biasanya Bunda nyuapin gue." Imbuhnya yang mengundang senyum tertahan dari Grey


"Nggak usah ketawa Abu-abu!" Meski merasa sedikit malu tapi Argan berusaha untuk bersikap biasa.


Bukan salahnya jika kebiasaan dimanja saat sakit itu melekat pada pria berusia 28 tahun itu, menjadi anak tunggal dari orang tua yang begitu penyayang membuatnya terbiasa dimanjakan oleh sang bunda bahkan diusia yang sebentar lagi menginjak kepala tiga.


"Badan gue semuanya lemas, Grey. Gue nggak bisa pegang mangkok apa lagi dengan satu tangan," elaknya yang memang benar adanya


Pria yang selalu nampak gagah dan berkharisma itu sekarang benar-benar memprihatinkan, mata yang sayup, serta bibir dan wajah yang begitu pucat, dan tak lupa tubuhnya yang juga hangat.


"Lo nggak mau kan kalau sup nya itu tumpah dan menambah tugas lo di kamar gue karena har-"


"Aaa.."


Mulut Argan secara impulsif terbuka saat Grey menyodorkan sendok berisi sup untuk menyuapinya.


"Orang sakit harus banyak makan biar cepat sehat," kata Grey lembut dengan tangannya yang kembali menyendok sup. "Setelah ini lo minum obat," lanjutnya


Kepala Argan mengayun atas dan ke bawah seperti seorang bocah yang tengah diberi nasehat oleh orang tuanya. Meski mulut Argan bergerak dengan semestinya namun pemilik box smile itu masih terdiam dengan mata yang menjurus pada Grey memperhatikan wajah tanpa polesan dengan kulit yang begitu putih disertai perona alami dikedua pipinya.


"Kenapa?"


Argan mengedipkan matanya cepat kala Grey membalas tatapannya dengan mata yang membulat.


"Ng-nggak apa-apa." Argan gelagapan, dia telah tertangkap basah memperhatikan Grey yang notabenenya tak menyukai sesuatu yang seperti demikian


"Ternyata bukan cuma badan lo yang lemas dan sakit yah?"


"Hah?"


"Mata lo juga." Grey berucap sembari meletakkan mangkuk yang isinya tinggal separuh di atas nakas lalu mengambil segelas air mineral. "Buktinya mata lo juga nggak bisa bergerak dan terus natap gue," lanjutnya menyodorkan air kepada Argan


Pria sakit itu tak langsung menerima gelas yang disodorkan oleh Grey, merasa tersudutkan akhirnya dia berucap. "Yassalam Grey, masa iya karena gue sakit mata gue juga harus iku sakit, yah kali gue harus nutup mata sambil makan," dalihnya


"Lagi juga yah lo jangan berfikiran kemana-kemana, gue nggak sengaja lihatin lo itu juga karena ada bekas tidur di bibir lo tuh." tunjuknya pada bibir Grey kemudian meraih gelas di tangan gadis yang langsung sigap berdiri dan berjalan ke cermin itu


Argan berbohong. Yah, putra Raufan itu berusaha menutupi salah tingkahnya dengan mengecoh Grey, dan sementara gadis itu sibuk memperhatikan wajahnya di depan cermin Argan langsung membaringkan kembali tubuhnya.


"Gue ngantuk, Grey. Lo sarapan dulu aja," ucapnya yang tahu jika gadis yang menemaninya itu belum sarapan karena Bi Minah yang sempat membawakan makanan saat dia sedang disuapi oleh gadis tersebut