Anti Romantic

Anti Romantic
Perkara Fotocopy



Bosan, itu yang saat ini dirasakan oleh Grey. Sudah sekian kalinya dia mencoba untuk memfokuskan dirinya pada layar monitor yang menampilkan lembar word yang dipenuhi tulisan dengan font Times New Roman di depannya. Tapi seakan otaknya tak ingin membantu fikirannya tertuju pada satu kalimat tanya dari Fathir yang menari di ingatannya.


"Grey, seperti apa type cowok yang lo suka?"


Grey tak tahu, Grey sama sekali tak tahu type cowok seperti apa yang dia suka. Dari awal dia merasakan masa pubertasi tak sedikitpun dia mengetahui bagaimana rasanya menyukai laki-laki terlebih memiliki type untuk cowok yang akan dia sukai.


Dia normal bahkan sangat normal, tapi kepribadiannya berbeda dengan orang lainnya, tertutup dan menutup itulah yang menjadi ciri dirinya.


Dipasrahkannya tubuhnya menempel pada sandaran kursi lantas menutup laptopnya pelan sembari menghela nafas berat. Matanya tertutup menikmati hembusan angin yang menyentuuh wajahnya.


"Gue bahkan nggak tahu seperti apa cowok yang gue cari," monolognya


"Memang seperti apa?"


Grey terdiam dengan mata yang masih tertutup, seingatnya tak ada siapapun yang berada di dekatnya bahkan Argan yang biasa mengganggunya pun tak akan pulang cepat dikarenakan ada makan malam bersama dengan client penting malam ini.


Pelan Grey membuka matanya dan langsung melotot saat dia melihat Argan telah bersandar di bingkai pintu balkonnya sembari tersenyum tipis.


"Matanya nggak usah melotot gitu, gue bukan hantu," ucap Argan seraya menarik kursi rotan untuk dia duduki.


"Lo ngapain ke kamar gue?" tanya Grey datar


Argan mempoutkan bibirnya, tangannya terangkat memperlihatkan sebuah paper bag dengan logo sebuah tempat makanan cepat saji dan meletakkannya di atas meja yang sebelumnya Argan telah menggeser laptop milik Grey.


"Lo belum makan, kan?"


Alis Grey berkerut, "Lo tahu dari mana?"


"Bunda yang ngasih tau, katanya lo nggak mau makan,"


"Gue bukan nggak mau makan, tapi gue masih kenyang," elak Grey


"Kenyang karena nungguin foto copy buku cara menarik per—"


"Itu bukan buku gue." Cepat Grey memotong kalimat Argan, dia tahu apa yang akan dikatakan oleh pria berwajah rupawan itu.


"Gue cuma disuruh buat foto copy buku itu"


"Lo tahu kan kalau buku itu tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan terlebih pekerjaan mu," ujar Argan


Grey terdiam tak bisa mengelak karena apa yang dikatakan oleh Argan adalah kebenaran, Grey paham akan hal itu tapi bagaimanapun menjadi seorang karyawan magang dan junior bukanlah sebuah kesopanan menolak perintah dari senior.


"Sorry"


"It's okay," balas Argan seraya mengelus puncak kepala Grey pelan. "Sekarang Lo makan ini,"


"Gue masih kenyang, Ar," tolak Grey sambil mengambil buku yang pernah dipinjamkan oleh Argan.


"Bukannya ini perintah?"


Ditatapnya Argan saat pertanyaan itu terucap, apakah Argan mengerti perasaan tak enaknya untuk menolak?, itulah yang difikirkan oleh Grey sekarang ketika Argan membuka paper bag dan mengeluarkan isi di dalamnya.


"Ayo makan!" titah Argan sembari menyodorkan makanan yang dia bawa


"Ar.."


"Gue tahu apa yang lo rasakan saat disuruh oleh senior lo di kantor, dan apa yang gue lakukan sekarang sama dengan mereka,"


"Sorry,"


Bahkan saat Grey tak menceritakan aktivitasnya di kantor, Argan sangat tahu bagaimana gadis berambut indah itu menjalani waktu penambahan nilainya selama sebulan di perusahaannya.


"Lo punya hak untuk menolak melakukan sesuatu yang tidak termasuk dalam pekerjaan mu, contohnya seperti tadi siang,"


"Tapi, Ar, Lo bilang tahu bagaimana perasaan kami sebagai karyawan magang saat disuruh untuk melakukan sesuatu oleh senior, bukannya segan untuk menolak?" tanya Grey menohok


Pria yang baru beberapa menit sampai di rumah itu tersenyum seraya mengangguk menyetujui. "Memang segan, tapi lo juga harus tahu menolak bukan selamanya nggak sopan, tapi karena lo itu profesional dan juga berprinsip bahwa tugas Lo itu mencari nilai bukan untuk melayani mereka yang nggak tahu aturan kerja," ujar Argan dengan mata yang fokus menatap Grey dari samping.


"Lo tahu?"


"Nggak!" Reflek Grey menjawab yang membuat Argan berdecak


"Gue belum selesai ngomongnya," gemas Argan


"Yah udah lanjut, kenapa?"


Disandarkannya tubuhnya kemudian melanjutkan kalimatnya. "Apa yang lo lakukan tadi itu menimbulkan beberapa kerugian perusahaan."


"Hah?"


Argan mengangguk dengan bibir yang mencebik.


Tak terima dengan ucapan Argan membuat Grey merotasikan tubuhnya menghadap pria pemilik box smile itu. "Ar, gue cuma foto copy kurang dari 100 lembar kertas HVS, dan lo bilang perusahaan rugi banyak, are you serious?" Grey menggeleng tak habis pikir


"Yes, bukan hanya itu, Grey," balas Argan juga menghadapkan tubuhnya pada gadis tersebut.


"What?" Grey mulai menampilkan sisi datarnya


"First, waktu karyawan gue terbuang sia-sia hanya karena melakukan pekerjaan yang bukan seharusnya,"


"Second, pekerjaan lo jadi terbengkalai dan lo telat makan siang, itu bisa buat lo nggak fokus bekerja, you know?"


"Third and most detrimental, hasil dari apa yang dicetak seperti tinta, kertas, dan yang lainnya itu sudah mengurangi perlengkapan kantor."


Grey mendengus mendengar penjelasan Argan namun kemudian tersenyum tipis sembari bergumam. "Perhitungan." Tanpa Grey sadari senyum spontan yang dia terbitkan dibibirnya itu menjadi perhatian oleh pria di sampingnya.


Argan terpaku dengan senyuman Grey terlebih anak rambutnya yang menyapu wajahnya, terlihat menawan meski tanpa riasan.


"Lo cantik kalau senyum kayak gini,"


Secepat Argan memberi pujian, maka lebih cepat pula garis melengkung itu berubah datar disertai dengan tatapan memicing tak suka.


"Gue serius, Grey," ucap Argan diselingi kekehan melihat ekspresi tak suka dari anak Arum itu. "Lo udah cantik dan semakin cantik kalau lo senyum kayak tadi," lenjutnya tulus


"Lo makan yah, gue nyalain lampu utamanya." Argan baru saja ingin berdiri tapi dengan cepat Grey mencegahnya.


"Nggak perlu, Ar, nanti gue makan." kata Grey sambil meraih makanan yang berada di mejanya.


"Ya udah, gue ke kamar yah gerah banget gue,"


Grey tak bersuara hanya kepalanya yang bergoyang ke bawah dan ke atas untuk mengiyakan. Putri dari Deana itu membuang nafasnya lega setelah kepergian Argan dari kamarnya, di letakkannya kembali makanan yang dia pegang ke atas meja kemudian menyentuh kedua pipinya.


Dia mendongak melihat lampu besar yang berada di atas kepalanya, saat ini dia bersyukur tak menyalakan lampu utama dan hanya menyalakan lampu kecil sebagai penerangnya mengerjakan tugas, kedua pipinya merona karena ucapan Argan dan lebih beruntung lagi baginya karena pria itu tak menyadarinya.


"What is wrong with me?"