Anti Romantic

Anti Romantic
Batita lucu penyuka lollypop



Sontak saja orang yang berada disana menautkan alisnya bingung mengarah pada Argan. Pria itu sama sekali tidak mengingat kedua orang tua Grey tapi mengaku mengingat pada anaknya padahal waktu itu Grey masih berusia 2 tahun.


"Kamu yakin ingat Grey?' Tanya Aira memastikan


"Maksud Ar, Ar pernah lihat dia sebelumnya." Jawab Argan kembali menegapkan tubuhnya yang sempat condong kedepan.


Grey menoleh pada kedua orang tuanya bingung, seingatnya tadi pas dia ke toilet tidak ada orang lain selain kedua orang tuanya dan Om Raufan beserta istrinya yang berada di ruang tamu. Lagipun apa yang dia dengar tadi? Pria di depannya ini pernah melihatnya? Dimana dan kapan?, seingat Grey dia tidak pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya.


"Kita ketemu saat seminar di kampus Grey." Singkat Argan menjeda ucapnnya, "Seminggu yang lalu, aku yang menjadi narasumbernya." Lanjutnya tersenyum terarah pada Grey. Namun, gadis itu hanya merespon datar.


Ok. Sekarang Grey ingat jika menyebut seminar yang diadakan di kampusnya seminggu yang lalu. Tapi, untuk mengingat wajah dari orang yang menjadi tamu pas acara itu sepertinya dia tak ada minat melakukan hal tersebut. Kembali lagi dia hanya memikirkan yang menurutnya penting.


Tak ada balasan walau sebatas basa basi dari bibir Grey hingga membuat pria yang sudah tersenyum tadi mau tidak mau langsung kembali meluruskan lengkungan di bibirnya, datar sangat datar.


"Ah, sial. Malu kan gue" Batin Argan menggerutu


"Maaf yah, nak Argan. Anak tante memang kurang fokus untuk mengingat orang." Ucap Deana merasa tidak enak karena sikap dingin sang anak.


"Ah, nggak apa-apa tante." Balas Argan ramah, padahal dalam hatinya masih mengomel.


Argan menghela nafasnya pelan agar tak didengar oleh kedua orang tuanya kemudian meraih jus orange yang sudah disediakan oleh Bi Minah berniat untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering.


"Ar, Grey ini batita yang dulu pernah kamu mandikan loh, sam--"


"Prufffttthh.. Uhuk.. Uhuk!" Argan tersedak minumannya, sontak dia mendongak menatap gadis di depannya hingga gadis itu mengernyit.


"Ya Allah, Ar. Minumnya pelan-pelan dong!" Aira menepuk-menepuk punggung Argan.


Jika sang bunda yang khawatir berbeda dengan Raufan yang malah menahan senyum melihat ekspresi sang anak yang wajahnya memerah karena mendengar cerita bundanya. Sebagai seorang pria dewasa dia paham apa yang tiba-tiba hadir di benak putra satu-satunya itu. Bagaimana pun Argan bukan lagi seorang bocah berumur 10 tahun, dia adalah pria dewasa yang usianya hampir menginjak kepala 3 tepatnya umur 28 tahun.


Argan berdehem sekilas menetralkan jantung dan fikirannya yang sempat traveling kala melihat ke arah Grey, gadis manis tanpa ekspresi. Pria itu berdiri dari duduknya berasa tak bisa menahan malu jika dia terus-terusan mendengar cerita sang bunda, dia tahu watak wanita yang melahirkannya itu yang akan tetap menceritakan sesuatu yang menurutnya menarik untuk dibahas.


"Bund..?" Panggil Arga menunduk karena dia sudah berdiri.


"Iya, sayang?"


"Tapi nanti balik yah?! Om Arum sama tante Deana bentar lagi pamit pulang."


"Hmm." Argan sudah keluar dari celah kursi dan meja, namun sebelumnya sempat melirik pada Grey yang nampak tak menghiraukannya sebelum kakinya benar-benar melangkah meninggalkan ruang tamu menuju lantai dua dimana kamarnya berada.


Pria yang disebut Kim Taehyung lokal itu berdiam diri dibelakang pintu setelah dia sampai di kamarnya, kepalanya menggeleng sambil ternsenyum miring memainkan lidah di dalam mulutnya. Bayangan 18 tahun lalu yang sebelumnya tak pernah diingatnya tiba-tiba terputar jelas diotaknya bagaimana seorang anak laki-laki berumur 10 tahun dengan riangnya menggendong kesana kemari seorang batita gendut berumur dua tahun.


Seorang batita lucu penyuka lollypop rasa susu, saat itu orang tua Grey membawa Grey ke Indonesia dari Irlandia untuk menjenguk kedua orang tuanya yang berada di Lampung. Namun, sebelum mereka ke tempat nenek Grey - mereka menyempatkan untuk berkunjung ke rumah orang tua Argan.


Argan bahagia bukan main saat mendapati batita mungil berada di rumahnya ketika baru saja pulang dari sekolah, Argan langsung menggendong Grey dan membawa batita itu ke taman, memberikan lollypop rasa susu yang ada di tasnya.


"Adik suka nggak?" Tanya Argan kecil yang dibalas anggukan oleh batita gendut itu.


"Lei cuka, ipop cucu" Jawab Grey kecil


Argan terkekeh gemas menguyel pipi penuh Grey, "Kakak Ar punya banyak lollypop susu, Grey mau nggak kita ambil di kamar kakak? Yuk..!" Argan baru saja menggendong Grey. Namun, tiba-tiba kucuran air membasahi seragam sekolah Argan yang belum dia ganti.


"Mpiss" Aku Grey seraya melebarkan senyumnya


"Grey ngompol yah?" Grey mengangguk cepat membuat poninya berayun.


Dengan cepat Arga lari kedalam rumah sambil menggendong Grey, "Bundaaa!" Pekik Argan. "Adiknya ngompol kena bajunya Argan." Adunya masih setia menggendong batita gendut itu.


"Yah udah Argan ganti baju dulu sana, sekalian mandi!" Titah Aira


"Adiknya biar Bunda ajah yang mandiin."


Argan mundur satu langkah, dia menolak usulan sang Bunda, "Biar Argan ajah yang mandiin, Bund. biar sekalian sama Argan, nanti biar langsung main lagi di taman."


Kedua ibu muda yang sedang membuat makan siang itu hanya mengangguk membiarkan seraya terkekeh melihat kedekatan kedua anak mereka yang bahkan baru pertama kali bertemu,


Argan mengerjapkan matanya berkali-kali sembari menggeleng berusaha menghapuskan bayangan kanak-kanaknya dengan Grey yang bahkan sama sekali tidak mengingatnya, jangankan mengingat, Argan bahkan bisa memastikan jika Grey sama sekali tidak tahu jika mereka pernah mandi bersama.


Kenapa jadi Argan yang malu sih