Anti Romantic

Anti Romantic
Bergandeng



Perasaan memang beragam dan tak pernah direncanakan, kadang yang awalnya biasa tapi dengan adanya pertemuan yang terjadi terus menerus akan menimbulkan kesan yang berbeda dan akhirnya menjadi luar biasa.


Manusiawi bukan?, rasa cemburu timbul tanpa disadari dari pemilik hati, jantung berdegup tak karuan menjadi bukti adanya sebuah rasa yang muncul, mata seakan panas tiba-tiba saat menyaksikan sebuah kejadian yang tak mengenakkan tepat di depan mata.


Argan menatap pantulan dirinya dari cermin berukuran setinggi badannya, dia mendengus seraya memutar bola matanya kemudian mendorong pipi bagian dalamnya menggunakan lidahnya.


Kejadian siang tadi masih terus menari di ingatannya bagaimana Grey yang duduk di depannya bersikap seperti tak mengenalnya, bahkan hanya sibuk dengan makanan serta minuman yang dia pesan.


Bahkan tak jarang interaksinya bersama pria yang bernama Fathir itu membuat atensi Argan terganggu.


"Bocah itu!" gumam Argan gemas


"Ah sial, ada apa dengan gue?" monolognya kesal sembari mengacak rambutnya


"Astaga Argan Dyantara, ada apa dengan lo?, bisa-bisanya mood lo jadi buruk gara-gara kedua bocah itu." Argan menunjuk pantulan dirinya setelah itu mendekatkan wajahnya cermin.


"Lo nggak mungkin menyukai Abu-abu itu, kan?"


"Oh tidak, jangan katakan iya pria tampan."


Argan masih saja berbicara sendiri, kakinya berjalan mondar-mandir di depan cermin sembari


terus mengoceh mencoba untuk mencari jawaban atas keanjlokan moodnya sampai malam ini.


"Ar, lo di dalam?"


Disaat otak Argan masih tertuju pada masalahnya tiba-tiba panggilan yang berasal dari depan kamarnya terdengar, sontak Argan terlonjak kemudian mengelus dadanya kasar.


Argan berjalan hendak membuka pintu tanpa perduli siapa pemilik suara yang memanggilnya, namun saat dia mendapati Grey yang berada di depannya Argan kembali tersentak.


"Ada apa?" tanya Argan ketus


Grey sempat menautkan alisnya sebelum dia menjawab. "Lo dari tadi dipanggil sama Bunda buat makan malam," katanya


"Gue udah kenyang," jawab Argan acuh


"Yah udah, nanti gue sampein ke Bunda." Tanpa menunggu Argan yang ingin bersuara, Grey dengan cepatnya membalik badannya untuk pergi dari hadapan Argan dan kelakuan gadis itu sukses membuat Argan semakin kesal.


Pria yang rambutnya masih acak-acakan itu menutup pintunya kemudian berjalan cepat menyusul Grey yang berada di depannya, niat hati ingin membuat gadis itu merasa bersalah karena telah mengacuhkannya selama di cafe tadi tapi malah berakhir dengan moodnya yang semakin buruk.


Dia lupa jika gadis yang dia hadapi bukan lah gadis yang memiliki seribu kepekaan seperti yang lainnya, tapi saat ini yang dia hadapi adalah gadis yang hanya memiliki satu warna di hidupnya yaitu Abu-abu, maka tak salah jika dirinya tak memiliki rasa bersalah sedikitpun, hidupnya terlalu lurus. Ah sial.


"Anak Bunda kenapa?, kok di tekuk gitu mukanya?" tanya Aira saat Argan baru saja mendaratkan dirinya di kursi


"Nggak apa-apa, Bun, Ar lagi kesel aja sama seseorang," jawab Argan sembari matanya melirik sinis pada Grey yang duduk di sebelah Aira dan itu tak luput dari perhatian wanita berdarah Korea itu begitupun dengan Raufan.


Sedangkan Grey?, jangan tanyakan dia yang memang dasarnya tak merasa bersalah sedikitpun hanya diam menikmati makan malamnya.


Aira dan Raufan saling melirik kemudian terkekeh tanpa suara, melihat anak semata wayangnya bertingkah seperti itu mengingatkan mereka tentang kejadian tempo lalu saat Argan kedapatan berada di kamar Grey. Pria yang lahir ke dunia 28 tahun lalu sempat memberi alasan jika dia ingin mengibur anak dari sahabat mereka yang sedang sedih.


"Yah, Bund." Grey memecah keheningan setelah hampir 40 menit mereka diam menikmati makan malam. Gadis itu bersuara dan mengalihkan atensi tiga orang yang berada di dekatnya.


"Ada apa, Grey?" tanya Raufan


"Apa Grey bisa izin keluar malam ini?" jawab Grey pelan dan sedikit ragu.


"Mau kemana, sayang?" kini Aira yang menimpali


"Grey mau ke Gramedia untuk mencari buku referensi buat skripsi."


"Sayang, apa ini nggak terlalu cepat? lagi pula ini sudah malam,"


"Akan lebih baik jika tugas skripsi cepat dikerjakan dari sekarang, Bund, setidaknya saat kembali kuliah Grey bisa lebih fokus untuk memperbaiki kekurangannya." jelas Grey


Raufan mengangguk setuju dengan alasan putri sahabatnya itu. "Kamu bisa minta Argan untuk menemanimu, Grey," ujar Raufan


"Ar hari ini cape banget, Yah, mau istirahat," Argan menolak kemudian berdiri karena telah menyelesaikan makan malamnya.


"Ar, kasihan loh Grey kalau perginya sendiri," Aira kembali bersuara


"Dia bisa naik taxi online, Bund."


"Supir di rumah kan ada," Argan masih saja mengelak


"Lagi cuti, Ar"


"Nggak apa-apa, Yah, Bund, Grey bisa minta antar sama teman Grey, kebetulan dia juga satu kampus sama Grey,"


Secara impulsif Argan berbalik yang hendak melewati pintu dapur saat Grey bersuara. "Ok, Argan yang antar."


***


Ratusan bahkan ribuan buku tersusun rapi pada rak dengan tinggi yang berbeda-beda, sebuah tulisan yang berada di atas setiap rakpun sebagai penanda tema buku agar para pengunjung lebih mudah menemukan apa yang mereka cari.


Baru 10 menit Grey memasuki ruangan yang berisi ribuan buku dari buku yang hanya sebagai hiburan hingga buku yang menguras otak yang di ikuti oleh Argan di belakangnya, tapi pria itu sudah mendekap 5 buah komik di dadanya.


"Udah mau pulang?" tanya Argan sambil membolak balikkan buku di tangannya.


"Gue aja belum dapat buku yang gue cari, Ar." jawab Grey


"Yang di tangan lo itu apa?" Argan menunjuk satu buku tebal berukuran sekitar 20x26 yang berada di tangan Grey


"Gue masih cari satu buku lagi"


"Buku apa?"


"Choose yourself"


"Lo suka baca buku seperti itu?"


Grey mengangguk sembari mengedarkan pandangannya berharap bisa menemukan buku yang dia maksud dari tulisan yang tertempel di atas rak.


"Kenapa lo nggak bilang dari tadi kalau lo cari buku itu?"


"Hah?"


"Ayo pulang!" Tanpa sadar Argan meraih tangan Grey dan menariknya ke kasir untuk membayar buku yang dia ambil termasuk milik Grey.


"Tapi, Ar, gue belum ketemu buk-"


"Buku kayak gitu banyak di kamar gue, lo bisa pinjam sebanyak yang lo mau."


Entah terlalu nyaman atau memang belum sadar, sepanjang perjalanan dari Gramedia hingga ke parkiran Argan terus saja menggandeng tangan Grey, bahkan pria itu pun membukakan pintu mobil untuk gadis yang sempat membuatnya kesal tersebut.


Dengan menenteng kantong plastik berwarna putih Argan memasuki rumah setelah sekitar 15 menit mengendarai mobil. Tangan dari dua orang yang berbeda usia lumayan jauh itu masih bertaut dan itu membuat dua paruh baya yang menunggu mereka di ruang tamu nampak menautkan alisnya.


Pergi dengan keadaan uring-uringan dan datang dalam keadan berbalik 180 derajat membuat mereka penasaran apa yang terjadi selama kedua anak itu berada di luar.


Diam-diam Raufan dan Aira mengikuti keduanya naik ke lantai dua, Argan yang tak sadar jika diikuti pun tak berniat berbalik saat suara pijakan dari kedua orang tuanya itu terdengar, begitupun dengan Grey yang masih pasrah ditarik oleh Argan.


"Yah, itu anak mu mau ngapai? kok bawa Grey ke kamarnya?" Aira khawatir dengan apa yang ada di fikirannya


"Jangan suudzon, Bund, Ar nggak mungkin macam-macam,"


Dari celah pintu Aira bernafas lega melihat Argan yang keluar dari pintu dimana perputakaan mininya berada sembari membawa tumpukan buku di tangannya dan mendekati Grey yang duduk di single sofa di samping jendela.


"Ini buku yang lo cari, mungkin yang lainnya juga akan lo sukai."


"Bisa gue bawa ke kamar?"


"Terserah, lo mau baca di kamar gue juga nggak apa-apa"


"Nggak, gue baca di kamar gue aja," ujar Grey, "Thanks," lanjutnya kemudian berdiri hendak keluar dari kamar Argan dan diikuti oleh pria tersebut.


"Bunda sama Ayah ngapain di depan kamar, Ar?"


Argan mengangkat sebelah alisnya mendapati kedua orang tuanya saat membuka pintu.


"Nggak apa-apa, sayang, tadi pas Bunda lewat nggak sengaja lihat debu di pintu kamu makanya Ayah sama Bunda bersihin, hehe"


"Hah?"