Anti Romantic

Anti Romantic
Obat Batuk



Pandangan Grey masih terlihat menyapu pada apa yang dia lihat di depannya antara ingin bertanya dan cuek dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini hingga sang tuan rumah menyiapkan makanan sebanyak ini.


"Lo nggak suka makanannya?" Argan mengernyit melihat gadis di depannya enggan untuk mengisi piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.


"Bu-bukan, gue cuma kaget kenapa lo siapin makanan sebanyak ini buat gue?"


"Nggak usah kegeeran lo Abu-abu, ini gue siapin buat semua orang rumah sebelum gue tau kalau Ayah sama Bunda ada acara diluar." Argan tak akan semudah itu mengakui jika makanan itu memang disiapkan untuknya


Dengan cepat Argan mengalihkan tatapnya dari mata bulat Grey yang nampak menatapnya, pria yang memiliki tinggi 179cm itu mengisi piringnya dengan nasi serta lauk yang malah membuat Grey kembali bertanya heran.


"Lo yakin mau makan sebanyak itu?" Bukan sekedar bertanya namun tangan Grey juga ikut bereaksi


Argan mematung dengan mata yang membulat, jantungnya pun berdetak tiga kali lebih kencang dari biasanya, seakan tiba-tiba bisu Argan tak bisa bersuara hanya bola matanya yang bergerak melihat antara gadis di depannya atau tangannya yang di pegang oleh gadis yang sama.


Ya, Grey reflek menahan tangan Argan yang hendak menyendokkan nasi lagi ke piring pria itu yang sudah menggunung oleh lauk.


"Lo nggak apa-apa?" meski terkesan tak perduli tapi Grey masih memiliki sisi perhatian yang nyata, seperti sekarang Grey mulai khawatir dengan sikap Argan yang sedikit aneh terlebih tangan Argan yang tiba-tiba dingin saat dia sentuh.


Argan mengerjap cepat dan menepis ringan tangan Grey yang masih memegangnya. "Modus lo yah?" tuduhnya


"Modus?"


"Iya"


"Hah?"


"Hah, heh, hah, heh ajah lo, cepat makan! lo nggak usah khawatir sama gue"


Grey berdecak "Gue nggak khawatir sama lo, gue cuma takut kalau lo kesurupan di depan gue, sikap lo aneh dan gue nggak punya penangkal setan buat melindugi diri gue." Setelah mengatakan itu Grey kembali ke mode diamnya, dengan tenangnya dia menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa memperdulikan Argan yang kembali terpaku karena ucapannya.


Sial bagi Argan yang bukannya marah karena ucapan gadis 21 tahun itu tetapi dia malah merasa seakan tertantang dengan sikap gadis tersebut.


Waktu makan malam yang hanya berjalan dalam diam itu akhirnya berakhir, Argan meletakkan gelas yang sudah dia minum airnya hingga kosong, sebelum berdiri Argan sempat melirik pada Grey yang masih setia pada diamnya seakan tak ada dirinya didekat gadis itu.


"Ehmm"


Argan berdehem berusaha untuk mengalihkan atensi Grey padanya, masih ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh lelaki berwajah bak pangeran Korea itu.


"Ehmm" Lagi Argan mengulang dehemannya karena gadis yang tengah membersihkan meja itu masih terlihat tak menghiraukannya.


Argan menggigit bibirnya gemas tatkala dehemannya semakin keras namun gadis itu bak orang tuli yang malah sibuk mencuci piring bekas makan mereka.


"Apa sih?"


Berhasil, merasa terusik dengan sebuah kode tak jelas yang dilakukan oleh lelaki dewasa di belakangnya membuat Grey mau tak mau berbalik.


"Kena?"


Ucapan Grey menggantung ketika melihat sebuah cake bulat berukuran 20cm dengan berbalut butter cream berwarna putih dan terhias potongan gold sheet berada tepat di depan wajahnya.


Senyum Argan tertarik merasa senang melihat ekspresi yang terlukis di wajah Grey, namun tak berselang lama senyumnya seketika menguap saat Grey bersuara.


Bibir Argan berkedut lirih karena ucapan Grey, niatnya yang ingin memberi sebuah penebusan kesalahan malah gagal total karena si pemilik nama dan kehidupan sama yaitu Abu-abu itu tak memiliki kepekaan yang selayaknya kebanyakan gadis miliki.


Lelaki blasteran Korea itu menghela nafas kasar kemudian meletakkan kue yang sudah dia angkat selama hampir 5 menit itu di atas meja, matanya menyipit dengan rahang mengeras setelahnya mendekatkan wajahnya ke wajah Grey hingga gadis berambut coklat tua itu harus melangkah mundur.


"Lo mau ngapain?"


Tak mengindahkan Grey yang sudah was-was Argan malah semakin mendekatkan wajahnya hingga pinggul Grey menyentuh pada wastafel.


"Lo jangan macam-macam, Ar. Gue pernah ikut pelatihan Muay Thai." ucap Grey mencoba untuk terlihat santai


Argan melipat bibirnya dalam, mengetahui jika gadis tanpa ekspresi yang tengah berada dalam kungkungannya itu tengah menahan rasa takut. Ah, sebuah jurus andalan yang bisa dia gunakan kembali nanti.


"Ar, gue peringatin ke lo yah jangan macam-macam"


"Apa sih lo, emang lo ngebayangin apa?" Argan tersenyum smirk sambil meraih gelas yang berada di belakang Grey kemudian menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.


Dia berbalik berjalan ke arah dispenser dan mengisi gelasnya dengan air hangat. "Gue batuk makanya mau minum air hangat"


Grey menghembuskan nafasnya pelan agar tak didengar oleh Argan, setelah itu mengayunkan kakinya meninggalkan dapur tanpa bersuara hingga Argan yang melihatnya dibuat bertanya-tanya.


"Apa bocah itu marah?" monolognya


Sekitar sepuluh menit Argan menunggu di dapur tetapi Grey belum juga kembali, bahkan lelaki itupun melanjutkan pekerjaan Grey yang tertunda karena ulahnya.


"Masa iya sih dia marah?, perasaan yang gue lakuin itu biasa aja deh, apa dia baper? terus takut ketahuan makanya kabur ke kamar dan kamarnya dikunci." tanyanya entah pada siapa


"Ah, kegantengan gue memang nggak bisa dielak," ucapnya percaya diri.


"Oh ya ampun." Argan tersentak kaget ketika sebuah tangan putih tiba-tiba terulur di depan matanya saat dia tengah asiknya membanggakan diri.


"Bisa nggak sih lo kalau muncul itu sambil bersuara?!" pekik Argan sembari tangannya mengelus dadanya


Grey mengerutkan keningnya. "Emang lo lagi ngebayangin apa?" tanyanya datar


"Gue nggak ngebayangin apa-apa." elak Argan seraya memalingkan wajahnya.


Grey mengedikkan bahunya kemudian meraih tangan Argan dan meletakkan sebuah botol berisikan cairan kental berwarna hitam di telapaknya. "Obay batuk, obat itu cocok sama gue, lo bisa minum siapa tahu juga cocok buat lo."


Bahu Argan merosot, semua yang dibayangkan tadi nyatanya hanya hayalan semu, sungguh ini adalah pertama kalinya dia merasa gagal untuk membuat seorang gadis merasa tersihir akan dirinya yang katanya memiliki tingkat kemiripan mencapai 99,9% dengan cowok tertampan dunia 2019 itu.


"Lo makan kue itu!." tunjuknya pada kue yang berada di atas meja kemudian botol obat dari Grey dia masukkan ke dalam saku celananya.


"Emang lo udah nggak mau makan kue ini?"


"Buat lo, gue udah kenyang sama obat batuk yang lo kasih." ucap Argan seraya berlalu meninggalkan Grey gang nampak bingung dengan kalimatnya.


"Ya Tuhan, mimpi apa gue bisa satu rumah sama cewek yang tak punya warna kehidupan?" monolognya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.