
Pukul 20.15 Pm. Suasana disebuah café Nampak ramai dengan orang-orang yang yang menyempatkan quality time bersama dengan pasangannya, kenapa dikatakan pasangan? Karena memang tempat ini banyak dikunjungi oleh muda-mudi berpasangan, hanya ada beberapa orang yang datang bersama dengan temannya dan itu sudah dibuktikan sekarang.
Grey dan Hana duduk disalah satu sofa yang terletak dipojok ruangan dekat dinding dengan sebuah laptop yang menyala di atas meja. Sabtu malam atau malam minggu adalah malam yang begitu ditunggu bagi sepasang kekasih untuk bersantai mengingat besok adalah waktu weekend dan bisa menyempatkan waktu yang lebih panjang dengan orang yang dikasihi.
Namun, berbeda dengan Grey yang niatnya tidak ingin keluar di malam ini malah harus merelakan tubuhnya ditarik oleh Hana untuk menemani gadis itu menikmati salah satu menu andalan di café yang tak begitu jauh dari huniannya.
Dan disinilah dia duduk diantara buku yang dia letakkan di atas meja berdampingan dengan laptop yang terbuka. Matanya bergantian menatap monitor dan buku di sampingnya mengerjakan tugas kampus yang sebenarnya bisa dia kerjakan besok.
“Grey?”
“Hm”
“Otak lo nggak capek, yah?” Tanya Hana sambil membuka lembaran buku di tangannya.
Grey mendongak menatap lurus pada Hana yang duduk di depannya, “Capek kenapa?” Tanyanya dengan alis menukik.
“Selama hampir seminggu ini otak lo udah terkuras dengan persiapan lo sebagai moderator seminar di kampus, gue kasihan sama otak lo yang nggak ada istirahatnya.” Jawab Hana sarkas, sebenarnya dia mengajak sahabatnya
itu keluar hanya untuk membuat Grey menikmati waktu weekend dengan merasakan apa yang biasa dirasakan oleh orang seumurannya.
Namun, siapa sangka waktu yang menurut Hana tepat untuk membuat otak kembali segar malah dijadikan Grey sebagai peluang untuk mengerjakan tugas agar lebih fokus, begitulah Grey tak ada waktu yang akan terbuang sia-sia untuk sesuatu yang tidak penting.
Ah, menyebalkan sekali si abu-abu ini
“Tugas kita banyak, Han.” Balas Grey singkat kembali fokus pada ketikannya di keyboard.
Hana menghela nafas sembari menggeleng prihatin, gadis berponi Dora itu meraih gelas yang sudah terisi dengan vanilla latte dan menyeruputnya hingga menyisakan separuh gelas. Dipandanginya sang sahabat yang masih fokus dengan laptopnya sembari menopang dagungan dan mencodongkan wajahnya mendekat pada Grey.
“Grey, tugas kampus ini bisa lo kerjakan besok loh.” Katanya
“Han, jangan menunda-nunda kerjaan, kalau lo bisa ngerjain sekarang kenapa harus besok? Toh kalau sudah selesai lo bisa lebih menikmati weekend tanpa memikirkan tugas lagi.” Jawab Grey tanpa mengalihkan fokusnya
dari layar monitor.
Hana mencebikkan bibirnya, kembali dia menegakkan tubuhnya. Namun, tak lama dia kembali mendekatkan wajahnya hingga dagunnya menyentuh laptop Grey.
“Tapi, Grey. Lo tadi emang keren banget tau, lo masih bisa fokus dengan tugas lo sebagai moderator padahal lo berada satu panggung dengan dua oppa ganteng.”
“Oppa?”
“Iya, kak Argan sama kak Dimas.” Kata Hana heboh, “Kata anak-anak di kampus kalau kak Argan itu mirip sama Kim Taehyung Oppa, terus Kak Dimas katanya sedikit mirip sama Renjun.” Jelasnya
Diam, Grey sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan Hana dan itu berarti apa yang disampaikan sang sahabat tidaklah penting.
“Lo betulan nggak tertarik sama mereka, Grey?”
Grey menggeleng, “Nggak!” Singkatnya.
Hana melongo mendengar satu kata sanggahan yang di ucapkan Grey dengan pasti, “Grey, lo normal kan?” Tanyanya memicing kearah Grey.
Dihelanya nafasnya pelan setelahnya menyeruput jus alpukat yang sudah dia pesan tadi, tangannya bergerak meraih kentang goreng yang berada ditengah meja kemudian berkata.
“Han, gue nggak tertarik bukan berarti gue nggak normal, gue masih suka laki-laki kali. Hal yang wajar kalau seseorang tidak tertarik dengan apa yang disukai oleh orang lain, setiap orang punya pilihan dan tipe sendiri.”
“Dan lagi pun, gue bukan orang yang langsung tertarik pada seseorang hanya sekali bertemu, tapi nggak menutup kemungkinan kelak gue ketemu dengan orang yang bisa membuat gue tertarik.” Jelas Grey panjang lebar.
Hana manggut-manggut tak lagi menimpali penjelasan Grey, dia begitu paham dengan sikap sang sahabat yang sangat susah untuk diajak membahas sesuatu yang menurutnya sebagai surganya gadis-gadis seumurannya, cogan dan perhaluan.
Tanpa kedua gadis itu sadari jika ada dua orang pria yang duduk bersebrangan dengan tempat duduk mereka. Pria yang tak lain adalah pria yang menjadi topik hangat selama seharian penuh dan mungkin akan berlanjut hingga hari-hari berikutnya, topik yang tak menarik bagi Grey.
***
“Lo yakin mau makan disini?” Tanya Dimas ketika baru saja menginjakkan kakinya di salah satu café yang lumayan rame.
“Emang kenapa?” Argan menghentikan langkahnya memutar badannya mengarah pada Dimas yang berjalan di belakangnya.
“Lo lihat Ar, disini itu tempatnya orang-orang yang datang bersama dengan pasangannya.” Matanya berkeliling pada seisi ruangan yang penuh dengan pasangan remaja hingga dewasa. Hanya ada sepasang gadis yang duduk di sofa ujung dengan tumpukan buku dengan laptop yang terbuka di depannya.
Argan ikut mengedarkan pandangannya kemudian kembali beralih pada Dimas, “Disini juga nggak ada peraturan yang bilang kalau mau datang harus membawa pasangan berbeda gender, yang penting kita datang bukan hanya nebeng wifi gratis.” Ucap Argan melanjutkan langkahnya, “Lo lupa, kita ini juga pasangan, bukan?” lanjutnya sembari mendudukkan bokongnya di sofa berwarna coklat, salah satu tempat yang masih kosong.
Dimas hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar mau tidak mau harus mengikuti Argan yang sudah duduk tampan di sofa tersebut seraya membolak balikkan menu yang tersedia di atas meja.
Berselang beberapa menit pesanan mereka sudah tersaji di atas meja, karena perut yang sudah lapar sedari tadi akhirnya tanpa menunggu lama mereka langsung melahap makanan itu tanpa ada yang bersuara, hingga mereka
mendengar seseorang menyebut nama mereka.
Dimas yang duduk menghadap Argan langsung memiringkan kepalanya mengintip seseorang yang duduk di belakang Argan, sedangkan Argan hanya mengangkat alisnya seraya menajamkan pendengarannya.
“Lo betulan nggak tertarik sama mereka, Grey?”
“Nggak!”
“Grey, lo normal kan?”
“Han, gue nggak tertarik bukan berarti gue nggak normal, gue masih suka laki-laki kali. Hal yang wajar kalau seseorang tidak tertarik dengan apa yang disukai oleh orang lain, setiap orang punya pilihan dan tipe sendiri.”
“Dan lagi pun, gue bukan orang yang langsung tertarik pada seseorang hanya sekali bertemu, tapi nggak menutup kemungkinan kelak gue ketemu dengan orang yang bisa membuat gue tertarik.”
Nama itu? Argan tahu nama itu. Dengan pelan dia menoleh kebelakang tepat saat gadis yang bernama Grey itu mengikat rambutnya tinggi hingga memperlihatkan leher putih mulusnya.
Argan kembali membuang pandangannya ketika Grey dan Hana berdiri hendak pulang dan melewati mereka, garis bibir Argan tertarik bersamaan dengan matanya yang tak hentinya menatap kepergian gadis yang mengaku tak
tertarik padanya tapi tak menutup kemungkinan kelak akan tertarik.
“Menarik” Gumamnya.