Anti Romantic

Anti Romantic
Jantung bermasalah



Sebuah kotak berisikan perlengkapan untuk pertolongan pertama sudah tersedia di atas meja di samping brankar serta seorang dokter yangjuga turut untuk mengeksekusi korban. Seperti seseorang yang tengah menahan malu Grey hanya bisa menutup matanya tak ingin melihat ekspresi yang dipasang oleh kedua perawat yang juga ikut dilibatkan dalam mengobati lukanya.


Ya Tuhan, ingin rasanya Grey memaki Argan saat ini. Tindakan berlebihan yang dia perlihatkan saat baru saja sampai di UKS setengah jam yang lalu masih sangat membuatnya malu.


“Dok, cepat tolong dia!” Suara Argan saat baru saja membuka pintu UKS sontak membuat seorang dokter dan dua orang perawat yang tengah menikmati makan siangnya langsung tersentak kaget bahkan salah satu perawat sampai menumpahkan air ditangannya.


“Dia kenapa, Pak?”


“Dia ketumpahan air panas, tangannya sekarang melepuh. Jadi aku minta kalian untuk mengobatinya, aku nggak mau ada bekas sedikitpun dari lukanya, lakukan sebaik mungkin!” tukas Argan tegas


Bisa dipastikan jika orang lain yang diperlakukan demikian oleh sang bos, maka mereka akan merasa tersanjung dan merasa dispesialkan. Tapi, berbeda dengan Grey. Gadis berlesung pipi itu malah merasakan risih luar biasa


terlebih pandangan dua orang perawat perempuan yang berada di depannya itu lekat menjurus padanya.


Argan yang masih setia menemani Grey pun tak luput dari perhatian kedua perawat tersebut, entah merasa terpana oleh tampang bosnya atau karena rasa penasaran mengenai hubungan apa sang bos dengan anak magang yang


bahkan baru sehari bergabung di perusahaan itu.


Pria dengan potongan rambut relaxed quaff itu meremes tangannya sembari berjalan  mondar-mandir di belakang dokter, sesekali dia mengintip dari balik bahu dr. Jeremi sebatas memastikan apakah proses pengobatan lengan Grey sudah selesai atau belum. Nampak jelas diwajah rupawannya rasa khawatir yang teramat. Ya, dia takut jika harus berurusan dengan tanduk sang ayah - Raufan Dyantara.


"Dok, gimana? nggak parah kan? nggak akan berbekas kan?" Pertanyaan beruntun Argan layangkan pada dokter laki-laki yang sepuluh tahun lebih tua darinya.


Sang dokter menggeleng seraya berjalan ke arah mejanya. "Dia nggak apa-apa, Pak. Pertolongan pertama yang langsung dia dapat sangat membantu sehingga panas nggak menjalar ke jaringan yang lebih dalam," jelasnya


"Untuk masalah bekas mungkin harus menjalani pengobatan beberapa hari dan paling lama hitungan minggu. Luka yang dialami oleh Mbak –?" Dokter yang bernama Jeremi itu menjeda ucapannya kemudian menoleh kepada Grey untuk membaca name tag yang menggantung di leher gadis itu.


"Mbak –?"


"Grey Diovanka Arum." Ucapan dr. Jeremi menggantung saat Argan dengan cepatnya mengucapkan nama Grey


"Ya, Mbak Grey. Lukanya masih terhitung ringan, jadi anda nggak perlu khawatir, Pak Argan," ucap dr. Jeremi sambil menyodorkan satu lembar kertas bertuliskan resep obat yang harus di konsumsi oleh Grey. "Anda hanya perlu menebus ini di apotek dan pastikan selama penyembuhan Grey harus rutin mengkonsumsi obatnya."


Seakan tak sadar dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh sang dokter, Argan langsung menerima kertas tersebut kemudian berjalan menuju brankar dimana Grey terduduk sambil meniupi lengannya. Putra tunggal Raufan itu langsung duduk di samping Grey lantas mengusap kepala Gadis itu hingga membuat sang empunya mendongak kaget dengan mata yang membelalak.


"Tenang, Dok. Saya akan pastikan Grey akan rutin meminum obatnya." ucapnya lugas


Grey memejamkan matanya sembari menggigit bibirnya gemas, dalam hatinya dia mengumpat setengah mati akan kelakuan Argan, Bisa Grey rasakan hawa panas dari tatapan membunuh dari dua perawat yang berada di depannya saat dia membuka kedua matanya.


Dengan menghela nafas ringan, Grey menurunkan kakinya dari brankar hendak untuk berdiri. "Pak, maaf, saya harus kembali masih ada tugas yang harus saya kerjakan," katanya lalu mengambil resep obat yang ada ditangan Argan. "Dan untuk obat ini, saya yang akan menebusnya. Terima kasih untuk bantuannya, Pak." lanjutnya kemudian berjalan meninggalkan ruangan melewati dua perawat yang masih memandangnya dengan tatapan julidnya.


Grey kembali menghembuskan nafasnya kasar sesaat setelah dia keluar dari ruangan itu, sebelum melanjutkan langkahnya, gadis yang baru sehari bekerja sebagai karyawan magang itu menoleh ke arah pintu, dia hanya berharap jika apa yang terjadi tadi tidak akan membuat hari-harinya dalam mencari nilai akan bermasalah nantinya.


"Apa yang kalian lihat?"


"Ma-maaf, Pak?"


"Dok, tolong periksa saya juga!"


"Anda juga sakit, Pak?"


"Sepertinya jantung ku sedang bermasalah."


***


Meja yang awalnya dipenuhi oleh lembaran kertas dan tugas itu kini sudah tertata rapi, Grey mengernyit ketika dia membuka lacinya dan menemukan dua bungkus roti beserta susu rasa vanilla yang menjadi kesukaannya.


Gadis itu mengedarkan pandangannya berharap menemukan siapa yang meletakkan makanan itu di dalam lacinya.


"Lo udah balik?" Grey mengangguk


"Gimana luka lo, nggak apa-apa kan?" Dia Fathir yang datang menemuinya setelah keluar dari ruangan kepala devisi.


"Thanks untuk pertolongan pertama lo tadi, dilihat dari lukanya ini nggak terlalu serius." ucap Grey


"Syukurlah."


"Thir?"


"Hm?"


"Roti ini-" Grey mengangkat satu bungkus roti tepat di depan Fathir.


"Iya, itu dari gue. Lo tadi belum sempat makan siang makanya gue sempatin beli roti dan susu itu di kantin sebelum balik kesini."


"Thanks."


"It's okay, Grey." Fathir menepuk bahu Grey pelan seraya tersenyum kemudian berbalik hendak kembali ke mejanya.


Sejujurnya jauh di dalam hatinya, Fathir sangat penasaran dengan apa yang terjadi tadi, bagaimana bos yang dikenal seantero kantor sebagai pria yang tegas bersikap seakan sangat khawatir dan mengenal Grey yang notabenenya adalah orang baru sama sepertinya. Tapi, meski dilingkupi oleh rasa penasaran Fathir memilih untuk diam, bagaimana pun menurutnya langkahnya masih sangat jauh untuk bisa bertanya hal yang menjadi privasi untuk gadis yang dia idamkan dari awal masuk kuliah tersebut.