Anti Romantic

Anti Romantic
Karyawan Magang



Kesibukan nampak jelas pada semua penghuni di salah satu gedung pencakar langit yang berada di pusat kota, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang teknologi yaitu  berpusat pada pembuatan Teknologi Elektronik dari televisi, notebook, camera digital, hingga jam tangan. CoreId Corp, perusahaan yang dipimpin oleh pria bernama Argan Dyantara yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang tegas dan disiplin seantero kantor, namun tak banyak yang tahu bahwa pria tersebut memiliki kepribadian yang berbeda saat berada diluar pekerjaan.


Di dalam ballroom berdesign akustik terlihat beberapa kursi yang sudah dipenuhi oleh puluhan orang, mereka adalah mahasiswa pilihan yang akan melakukan prakter kerja di perusahaan tersebut untuk merangkum nilai akhir sebelum melakukan skripsi dan sidang pelulusan.


Meski sudah melakukan berbagai tes sebelum akhirnya diterima untuk bergabung dalam perusahaan tapi tak bisa dipungkiri jika mereka masih khawatir dan nervous jika berada dalam situasi seperti ini, akan bertemu dengan petinggi perusahaan yang dikenal dengan segala kesempurnaanya membuat nyali mereka menciut.


"Lo udah dengar belum tentang calon bos kita?" Salah satu mahasiswi berbisik dengan satu temannya yang berada di sampingnya.


Yang diajak bicara langsung mengangguk. "Iya, gue udah pernah dengar katanya dia ganteng banget."  ucapnya dengan kepala mendangak seraya tersenyum membayangkan rupa dari calon bos mereka.


Lawan bicaranya mendelik, "Lo fikir gue keringat dingin begini karena mau lihat kegantengan bos?" sinisnya


"Terus apa dong?"


"Ihzz, Lo ini yah fikirannya cuma tentang ganteng doang yah?"


"Iya lah."


"Kalau ganteng doang tapi pemarahan, mau lo?"


"Nggak masalah, malah yah cowok kalau pemarahan sekalinya bucin itu ngalahain jiwa Hello Kitty loh."


"Belum tahu ajah lo cerita dibalik Hello Kitty."


Bisikan yang terdengar seperti bukan bisikan itu ternyata bukan hanya dilakukan oleh kedua gadis tersebut karena hampir dari semua orang yang berada dalam barisan mahasiswa itu juga melakukan hal yang sama, desas desus mengenai pemimpin dari perusahaan besar itu ternyata mampu menimbulkan tanda tanya besar akan sosok Direktur CoreId Corp dalam benak mereka.


Seorang pemimpin muda yang jarang terkekspos oleh media berita itu nyatanya memiliki reputasi cukup besar dalam dunia bisnis, meski tak banyak yang tahu mengenai paras dari pemimpin muda itu tapi dia cukup disegani sebagai pengusaha muda yang sukses.


"Nggak usah dibayangin, bos kita itu udah ada istrinya bahkan udah punya anak yang usianya jauh diatas kita." Seorang pria berambut klimis menimpali mengatakan sesuai dengan apa yang pernah dia lihat di sebuah majalah bisnis, tak salah dengan apa yang pria itu katakan karena setiap majalah atau berita bisnis yang menampilkan pemilik dari CoreId Corp itu akan memasang foto dari Raufan Dyantara sedangkan Argan Dyantara selaku sang putra hanya akan tercantum namanya.


Dari barisan ke tiga seorang gadis dengan rambut yang diikat rapi terlihat sedikit tak tenang terlebih setelah sekilas mendengar nama pemilik perusahaan dari cerita orang-orang disekitarnya sebelum adanya teguran untuk lebih tenang karena sebentar lagi orang yang ditunggu akan memasuki ballroom.


“Emang siapa nama calon bos kita?”


“Marganya Dyantara”


Tiba-tiba fikiran negatif gadis itu membuncah dibenaknya, sebuah nama yang dia kenal dengan baik jelas-jelas disebutkan dan dilihat beberapa kali sebelum dia benar-benar memasuki perusahaan ini. Tapi, karena ketidak perduliannya dengan sebuah nama dan hanya fokus dan mempelajari citra perusahaan yang akan menjadi tempatnya menambah nilai membuatnya seakan buta dan tuli.


***


“Apa masih ada yang kurang dari penampilan gue?”


Dimas menggeleng kuat tanda sudah tak ada lagi yang harus dikhawatirkan dari penampilan pria yang sudah setengah jam berdiri mematut di depan cermin satu badan itu.


Pria yang memiliki tinggi badan 175cm itu menghela nafas kasar seraya kembali menggeleng tak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya tersebut. “Ar, lo kok aneh sih hari ini?”


Argan membalik tubuh tegapnya menghadap Dimas. “Aneh gimana? Gue cuma mau tampil sempurna di depan para calon karyawan magang di kantor kita." Tukas Argan


“Lo mau coba menarik perhatian mahasiswi-mahasiswi itu?”


“Gue nggak mencoba menarik tapi gue memang sudah menjadi pusat perhatian,” kata Argan pongah sembari memperbaiki simpulan dasinya.


Dimas mendengus, "Selama lo bergabung di perusahaan keluarga lo, gue baru lihat lo mau turun langsung buat ketemu calon karyawan magang. Menurut gue itu aneh, biasanya lo nyerahin urusan seperti ini sama Pak Ryan," tukasnya


"Nggak ada yang aneh, Brother. Gue aja yang baru sadar kalau hal seperti ini seharusnya bisa sesekali gue urusin, biar gue tahu cara orang-orang kepercayaan gue dalam merekrut orang baru," kilah Argan


Pria bersetelan jas berwarna mocca itu kembali memperhatikan penampilannya di cermin tak memperdulikan gerutuan Dimas yang sebenarnya malas untuk menemui calon karyawan magang yang notabenenya masih para bocah menurutnya. Sungguh Dimas adalah pria yang menyukai para wanita berpenampilan dewasa.


Dari pantulan cermin Argan melirik Dimas, sebuah tarikan senyum nampak di sudut bibirnya penuh arti. Argan meraih sebuah botol parfum yang berada di atas rak tempat dimana koleksi parfum yang memang sengaja dia siapkan di ruangan pribadinya, salah satu antisipasi jika mengharuskan dia harus bertemu orang atau client secara mendadak.


"Lo itu sebenarnya mau menggaet siapa sih?" todong Dimas gemas dengan sikap Argan yang tak biasa


"Bacot lo ah!" Argan menarik tangan Dimas untuk keluar dari ruangannya setelah dia rasa persiapannya sudah sempurna. "Mending lo ikut gue, kita sudah dipanggil," lanjutnya


Dimas hanya bisa pasrah mengikuti sahabat sekaligus bosnya itu. Dengan langkah gontai yang terdengar tegas kedua pria dengan tinggi badan yang hanya berbeda 4cm itu akhirnya meyusuri koridor dengan wibawa masing-masing.


Keduanya berjalan bersampingan dengan pesona yang berbeda, nampak menawan dan menarik hingga tak ayal orang-orang yang mereka lewati akan mencuri pandang untuk bisa melihat kedua bos yang parasnya bak seorang idol dari Negeri Ginseng itu.


Keduanya sampai di tempat yang di tuju, Argan tersenyum smirk dan semenit berikutnya wajahnya kembali memasang ekspresi tegas saat pintu mulai terbuka.


Dengan gagahnya Argan dan Dimas melangkah memasuki ruangan, jelas ditelinga Argan terdengar bagaimana pekikan tertahan yang dilakukan oleh puluhan gadis-gadis belia yang kelak akan bekerja selama beberapa bulan di perusahaannya itu.


"Selamat siang semua"