Anti Romantic

Anti Romantic
Tanggung Jawab



"Kamu suka Grey, bukan?"


satu kalimat dengan akhiran tanda tanya itu masih terngiang di telinga Argan sampai malam, dia menggelengkan kepalanya kasar tatkala ucapan sang ayah selanjutnya ikut menari di rungunya


"Mau nggak Papa lamarkan dia buat kamu?"


Konyol, itu adalah saran paling konyol yang pernah Argan dengar selama hidupnya. Jangan panggil dia Argan Dyantara jika akan langsung menerima usul tidak masuk akal itu.


Ok, Argan mengakui jika selama 3 hari tinggal serumah dengan Grey, dia memang merasa tertarik dengan sikap Gadis yang berbeda 8 tahun dengannya itu, sikap dingin-dingin menggemaskan. Tapi, sejauh ini baginya tertariknya itu bukanlah seperti perasaan seorang lelaki kepada wanita, dia hanya sedikit penasaran. Yah, hanya sedikit. Ingat.


"Ngaco memang." Argan mengusap wajahnya kasar, "Yah kali gue mau dijodohin sama bocah abu-abu itu, emangnya wajah gue ini belum cukup meyakinkan Ayah yah kalau gue bisa dapatkan menantu secepatnya buat dia?" monolognya di depan cermin


"Ar?"


Argan secara impulsif menoleh pada Suara ketukan dari pintu kamarnya itu, matanya berkedip cepat dengan kepala yang dimiringkan mengarahkan telinganya untuk mendengar lebih jelas pemilik suara yang memanggilnya.


"Argan?" suara itu kembali memanggilnya


"Ar, lo di dalam? Bunda suruh lo turun buat makan malam."


Argan terlonjak dari duduknya saat mengetahui pemilik suara itu, suara datar tanpa cengkok yang sangat jelas terdengar bahwa ada ketidak ikhlasan saat harus berbicara. Ah, dasar Abu-abu, sepertinya harus dibawa ke tempat les menyanyi agar suara dan ucapannya sedikit berekspresi.


Grey adalah orang yang memanggilnya dan dia bukan tak ikhlas saat disuruh untuk memanggil Argan melainkan dia memang dalam keadaan setengah malas untuk bersuara. Tapi, karena Bunda yang sudah meminta tolong, maka sebagai seorang tamu dia harus melakukannya dengan ikhlas, bukan?.


Argan dengan cepat berdiri dan berlari hendak membuka pintu saat Grey kembali memanggil.


"Sorry, gue nggak dengar lo manggil tadi" ucap Argan ketika pintu dibuka, nampak tangan Grey mengantung sepertinya dia baru saja akan mengetuk pintu sebelum Argan membukanya.


"Kenapa?" tanya Argan pura-pura tak tahu maksud kedatangan Grey.


"Lo dipanggil sama Bunda buat makan malam," jawab Grey


"Oh, bentar yah gue tadi baru mau ganti celana," Kata Argan sembari menunduk dan mengibaskan boxernya dan reflek juga diikuti oleh Grey yang turut menunduk melihat arah pandang Argan.


Argan tersenyum tipis saat melihat Grey yang langsung membuang muka ke arah samping, merasa lucu dengan Grey yang salah tingkah.


"Mmm, yah udah, kalau sudah selesai nanti lo turun, Bunda sama Ayah sudah nunggu."


"Loh nungguin gue juga, nggak?" goda Argan tersenyum smirk


"Apa?"


"Gue bilang, lo nunggu-"


"Nggak" kata Grey cepat sebelum kalimat Argan selesai setelahnya berbalik meninggalkan Argan yang masih berdiri di depan pintu yang hanya membulatkan mulutnya speechless. Dia kalah lagi.


"Fix gue nggak akan mau dijodohin sama bocah itu," gerutunya sambil kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti celana seperti yang dia katakan tadi.


Grey yang baru beberapa langkah itu hanya bisa memasang wajah datar mendengar perkataan Argan, tapi jauh di dalam hatinya itu cukup membuatnya kepikiran dengan ucapan lelaki itu.


"Argan sudah dipanggil, Grey?"


Suara Raufan langsung mengahadang langkah Grey yang baru saja ingin menarik kursi, gadis itu mengangguk mengiyakan seraya tersentum tipis.


"Yah udah, nggak usah nungguin Argan, kalian makan saja duluan," ucap Aira sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya


Sementara ketiganya sedang menyuap, Argan datang dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya tak ada yang memperhatikan sampai lelaki itu menarik kursi tepat di samping Grey dan membuat Grey menoleh seketika.


Gadis berusia 20 tahun itu hanya menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada makanannya, sama halnya dengan Grey, Argan pun ikut membuang muka masih merasa jengkel dengan kekalahannya tadi. Tanpa mereka sadari bahwa dua orang paruh baya di depannya ikut memperhatikan interaksi mereka.


Argan mempoutkan bibirnya seraya meraih gelas berisi air mineral yang berada di sampingnya dan tak sengaja menyenggol gelas milik Grey hingga tumpah ke dalam piring gadis itu.


"Astaga Ar, kamu apa-apaan sih?" ucap Aira setengah berteriak


Semua orang panik terlebih Argan, lelaki itu langsung berdiri dan mengambil beberapa lembar tissue untuk melap piyama Grey yang juga terkena cipratan air.


"Maaf, maaf, gu-gue nggak sengaja," ucapnya tergugu


"Udah, udah, nggak usah di lap, biar nanti gue ganti baju saja," cegah Grey pada Argan yang ingin menyentuhnya


Grey berdiri dari duduknya kemudian berkata, "Om, Tante, Grey ke kamar yah, kalian lanjut saja makannya." Dia pamit untuk ke kamarnya dan sekarang moodnya benar-benar jelek, bisa dipastikan jika Grey tidak akan kembali ke ruang makan untuk mengisi perutnya untuk sekarang, tapi tak tahu nanti.


Setelah kepergian Grey, Argan langsung dihadiahi tatapan tajam oleh kedua orang tuanya. Aira mencebikkan bibirnya kemudian memukul kepala Argan dengan sendok makan yang dia ambil di tengah meja, sedangkan Raufan langsung menjewer telinganya hingga membuat putra semata wayangnya itu meringis.


"Ya ampun, sakit kali, ihh" keluh Argan mengusap telinganya


"Biarin saja sakit, kamu itu yah kok bisa sih ini tangan nggak bisa diam?" gemas Raufan kembali memukul tangan Argan


"Ar haus, Yah. Ar cuma mau ambil minum tapi nggak sengaja nyenggol minumnya Abu-abu," Kilah Argan


Raufan dan Aira kompak menautkan alisnya bingung seraya berpandangan, setahu mereka di rumah ini tidak ada orang bernama Abu-abu, lantas siapa yang dimaksudnya anaknya ini?.


"Siapa Abu-abu?" tanya Aira penasaran


"Itu yang tadi pergi" jawab Argan acuh


"Ihh, kamu ini yah!" Gemas Aira saat sadar siapa yang dimaksud. "Nama orang bagus bagus seenak jidat kamu ganti," Raufan hanya bisa geleng-geleng kepala kembali duduk di kursinya.


"Benar lah, Bun. Namanya kan Grey dan dalam Bahasa Indonesia Grey itu artinya Abu-abu,"


"Sudah, Bun, nggak usah diladenin, Bunda lanjut saja makannya, nanti selesai makan biar Ar yang nganterin makan ke kamarnya Grey."


"Lah kok, Ar?"


"Tanggung jawab, Ar"