Anti Romantic

Anti Romantic
Gadis abu-abu



Seorang gadis dengan setelan baju kaos berwarna putih longgar dan celana jeans berjalan santai melewati koridor tanpa melihat penampakan orang-orang yang melihatnya kiri dan kanan. Rambut wavy coklat gelapnya dia gulung ke atas sampai membentuk sebuah cepolan dan menyisakan anak rambutnya yang tergerai manis di dahinya.


Memang tidak terlalu cantik tapi kata manis adalah kata yang lebih sempurna untuk menggambarkan parasnya, tinggi badan 162cm dengan berat badan 55kg itu adalah ukuran yang cukup ideal untuk gadis seumurannya.


Bukan hanya fisik yang menjadi daya tariknya tapi juga karena kepripadian yang terlalu menutup diri, introvert dan anti romantic itu lah dua kata yang menjadi gelarnya selama hampir 3 tahun menjalani masa kuliah di Universitas tersebut. Meski dikenal sebagai gadis yang tak mempan rayuan tapi itu bukanlah menjadi penghalang bagi cowok yang juga di kenal sebagai buaya bekedok pria tampan nan menggoda di kampus itu.


Masih tersisa beberapa langkah sampai pada tempat yang seharusnya dia tuju. Namun kakinya tiba-tiba berhenti ketika seorang gadis dengan tinggi dibawah telinganya itu berdiri tepat di depannya.


“Grey..!” Pekik gadis berkaca mata bulat itu.


“Hampir aja mulut gue berbusa gara-gara manggil lo dari tadi.” Lanjutnya mengomel, kakinya dihentakkan manja diselingi bibir yang mengerucut.


"Lo itu kemana aja sih? Gue cari hampir satu jam sampe sakit kaki gue nyusurin kampus ujung ke ujung, sekarang ketemu orangnya malah kayak orang tuli dipanggil-panggil nggak noleh-noleh!" Dia masih menggerutu hingga suaranya naik satu oktaf dan harus sesekali menarik nafas untuk bisa melanjutkan kalimatnya.


Gadis yang tengah dihadang itu bergeming, tangannya dia angkat menyentuh telinganya menarik penyumpal yang dari tadi menempel disana, matanya lurus menatap gadis di depannya yang masih setia dengan bibir monyongnya.


Hanya satu kata yang keluar dari bibir berwarna nude pink miliknya, satu kata yang mampu membuat gadis di depannya menganga dengan bibir berkedut lirih.


"Apa?"


Ah, ingin sekali gadis berponi Dora itu menjambak rambut gadis cantik di depannya. Tapi, tidak, dia masih sayang hidupnya, dia tidak akan melakukan hal itu kepada gadis manis nan menyebalkan yang sudah menjadi belahan jiwanya selama hampir tiga tahun dia berada di kampus itu, gadis yang selalu menemaninya meski hanya duduk diam tanpa minat menimpali kisah hidupnya saat bercerita.


Gadis yang tingginya 152 cm itu menghembuskan nafasnya kasar kemudian meraih tangan si gadis manis incaran buaya berkepala hitam itu untuk dia bawa kepada orang yang yang menyuruhnya mencari gadis bernama Abu-abu itu, ralat, maksudnya Grey Diovanka Binti Arum Bin Deana.


"Masuk!" Titahnya sesaat setelah tangannya melepas genggamannga pada pergelangan tangan Grey.


Grey melipat dahinya bingung melihat dia dibawa ke salah satu tempat yang jarang mahasiswa datangi kecuali untuk sesuatu yang penting dan mendesak. Saat ini Grey berdiri tepat di depan pintu berwarna coklat dengan sebuah tulisan "Ruangan Dekan" yang menempel disana.


"Hana?"


"Hmm"


"Ngapain Dekan cari gue?" Tanya Grey penasaran.


Gadis bernama Hana mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu gue, lo masuk aja sono! mana tau lo mau dilulusin tanpa harus buat skripsian." Ucapnya asal.


Tak menggubris guyonan Hana, Grey memutar knop pintu setelah sebelumnya mengetuk pintu 3 kali dan mendengar suara yang berkata "Masuk" dari dalam sana.


"Permisi, Pak. Anda mencari saya?" Tanya Grey sopan masih berdiri di depan pintu.


"Ah, Iya, Grey, Saya ingin membahas sesuatu dengan mu" Ucap lelaki berumur lebih dari setengah abad yang menjabat sebagai Dekan itu.


***


"Undangan seminar?"


"Iya, Pak. Itu adalah undangan dari Universitas Pak Argan, mereka meminta untuk anda bersedia menghadiri seminar itu dan menjadi salah satu Narasumbernya." Jelas Alam, pria yang sudah bekerja hampir empat tahun di perusahan CoreId Corp sebagai Asisten Direktur yang bernama Argan Dyantara.


Pria bernama Argan mengangguk seraya meletakkan kembali undangan diatas meja. "Kapan?" Tanyanya.


"Pekan ini" Jawab Alam singkat.


"Kabari mereka, saya hanya bisa menghadiri acara itu tidak lebih dari satu jam!" Titah Argan yang langsung di angguki oleh Alam.


Dengan cepat Alam keluar ruangan Argam hendak merealisasikan permintaan bosnya dan meninggalkan Argan yang kembali duduk seraya menyandarkan punggungnya pada kursi beroda miliknya.


Sayang, maaf sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita. Gue transfer yah, ini sebagai tanda rasa bersalah gue.


Pesan terkirim, Argan tersenyum tipis membaca pesan yang dia kirim kepada kekasihnya. Akhirnya dia memiliki alasan untuk mengindari wanita yang baru menjadi kekasihnya selama 3 bulan itu.


3 bulan, itu adalah waktu yang cukup lama bagi Argan Dyantara dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita, biasanya dia hanya bertahan kurang dari dua bulan dalam hubungan pacaran. Bukan cepat bosan, hanya saja terkadang ketidak cocokan akan cepat terlihat saat dua orang yang menjalin hubungan terlalu sering bertemu. Itu menurutnya sendiri.


Pria dengan paras bak Idol Korea itu kembali meletakkan ponselnya, wajahnya menengadah menatap langit-langit ruangan yang bercat abu gelap itu dengan sesekali menghela nafas panjang.


"Membosankan banget perjalanan hidup gue" Monolognya.


"Bangun, makan, kerja, jalan sama pacar, pulang, tidur lagi. Gitu aja terus rutinitas gue setiap hari." Gerutunya entah pada siapa.


"Makanya cari istri, biar ada aktifitas lain." Argan hampir terjatuh dari kursi saking kagetnya dengan suara yang tiba-tiba menginterupsinya.


"Sialan, lo!" Katanya reflek melempar kertas yang ada di mejanya pada orang yang mengagetkannya tadi. "Lo nggak punya tangan apa buat ketuk dulu tuh pintu sebelum masuk?" Omelnya.


Yang diomelin hanya menyengir bak kuda tanpa tahu dosa, "Maaf" Singkatnya.


"Lo dapat undangan juga?" Tanya pria yang memakai kemeja berwarna biru itu


"Emang lo di undang?" Bukannya menjawab, Argan malah balik bertanya.


"Iya kali gue nggak di undang, pengusaha kayak gue ini bisa jadi Narasumber yang menginspirasi untuk junior-junior di kampus" Ucap pria bernama Dimas itu.


Argan hanya tersenyum tak menimpali, pria yang memiliki pupil mata berwarna coklat itu berdiri dan mendekati Dimas setelahnya berbisik tepat di telinga pria yang sudah menjadi sahabatnya tersebut.


"Ayo, kita hadiri seminar itu dan tebar pesona disana. Mana tau ada yang bisa kita jadikan pacar selanjutnya." Ucapnya tersenyum smirk.


Dimas terkekeh pelan, sudah mengira jika sang sahabat pasti sudah wanti-wanti untuk mencari alasan untuk memutuskan pacar keempatnya selama kurang dari satu tahun itu.


"Putus lagi. Lo?"


"Udah gue kirim transferan, tenang ajah"