
Beberapa tanda silang nampak menghiasi setiap angka yang tercetak di kertas fancy import hingga berakhir di angka 15 dengan bulatan merah yang tebal, angka 15 yang Grey tandai di sebuah kalender meja itu sebagai
pelampiasan kekesalannya akan hari ini, dia tak mempunyai pilihan untuk itu selain diam karena memang tubuhnya tak memiliki niat lebih untuk emosi demikian, Grey masih belum bisa melupakan kejadian di kantor tadi siang.
Sikap anak dari Arum itupun tak ayal menjadi perhatian penghuni rumah, Grey yang memang dikenal tak banyak ngomong itu masih kadang menimpali obrolan saat diajak bergurau ketika makan malam, tapi berbeda dengan sekarang, gadis itu hanya diam entah apa yang dia fikirkan hingga selesainya jamuan makan malam Grey langsung pamit ke kamar setelah sempat membantu bi Minah membersihkan meja.
Gadis berusia 21 tahun itu memindahkan kalender yang berada dipangkuannya ke atas meja di sampingnya dengan cepat ketika dia mendengar namanya dipanggil berulang kali, dia yang sedang berada di balkon saat itu bergegas berdiri dan berlari ke dalam kamar hendak membuka pintunya yang mungkin sebentar lagi akan mengomel karena teriakan orang yang berada di depannya.
Nampak wajah rupawan dengan rambut yang menutupi dahi hingga ke bawah alis memenuhi pandangan Grey. Wajah Argan tepat berada di depannya saat pintu baru saja terbuka, pria itu tanpa aba-aba langsung membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Grey.
“Lo nggak apa-apa kan?” pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Argan dengan suara yang lembut
Grey terpaku diam masih melihat mata pria di depannya hingga dia tersentak saat Argan melambaikan tangannya di depan wajahnya. “Lo nggak buat macam-macam kan di dalam?” tanya Argan kembali seraya mencondongkan wajahnya menyisir ruangan pribadi Grey tersebut.
“Maksud lo apa?” Grey memiringkan tubuhnya memberi jarak ketika Argan berusaha masuk ke dalam kamarnya kemudian mengikuti pria itu dari belakang.
Argan yang baru beberapa kali melangkah itu langsung berhenti lantas membalik tubuhnya menghadap Grey. Dia diam meneliti wajah anak dari sahabat orang tuanya itu kemudian tangannya terangkat menyentuh kedua pundak Grey pelan.
“Lo lagi sedih?”
Dilayangkan pertanyaan demikian membuat Grey langsung memalingkan wajahnya, tak bisa dipungkiri secuek-cueknya Grey dia tetaplah seorang gadis yang memiliki hati yang begitu lembut, dan sekuat-kuatnya dia memendam masalah dia tetaplah sorang gadis yang lemah.
Argan tersenyum menyadari ekspresi Grey yang berusaha menghindarinya. “Paket dari tante Deana?” ucapnya kemudian
Sigap Grey mengangguk mengiyakan, dia berjalan menuju ranjangnya kemudian duduk disana dan diikuti oleh Argan yang memilih duduk di samping Grey diantara dua kotak paket yang berada di tengah keduanya.
“Ini kiriman dari mami,” kata Grey mengambil salah satu blouse berwarna putih dalam kotak
“Bagus”
“Apa?”
“Gue nggak meragukan selera fashion tante Deana, selalu modis dan berkelas,” terang Argan jujur
“Bukannya lo nggak suka?”
Argan mendongakkan wajahnya menatap Grey lantas tersenyum tipis. “Karena itu lo sedih?” godanya yang membuat bibir Grey mencebik dengan bola mata yang dirotasikan malas.
Dalam hati Argan hanya bisa tertawa lucu, sangat menggembirakan menurutnya saat berhasil membuat gadis di depannya itu
menampilkan berbagai ekspresi selain datar terlebih ekspresi malu seperti saat ini.
“Emang kapan gue bilang nggak suka?”
“Tadi siang,” jawab Grey
“Gue nggak bilang nggak suka kok,”
“Tapi, lo—“
"Jadi menurut lo gue memang nggak cocok pake ini?"
Argan menarik nafas singkat sebelum berucap lembut. "Menurut lo, Pak Rey memilih type wanita seperti apa?"
Itu bukanlah jawaban yang diharapkan oleh Grey atas pertanyaannya, meski demikian dia tetap berusaha mengingat bagaimana perangai pria yang dimaksud oleh orang di depannya itu.
Diam sembari melihat ke atas, Grey sesekali mengulang nama yang dimaksud untuk membantunya membaca bagaimana karakter pria yang sempat membuatnya risih tadi siang.
"Gue rasa, Pak Rey adalah tipikal pria yang menyukai wanita dewasa dengan penampilan seksi dan mewah," ucapnya, "Maybe," sambungnya sembari mengangkat sebelah bahunya ragu dengan apa yang dia katakan.
Argan yang berada di depannya hanya tertawa tipis kemudian menimpali. "Lo tahu persis bagaimana watak pria seperti dia,"
"Gue cuma menebak, Ar"
"Iya gue tahu," kata Argan seraya membongkar kembali isi kotak dan mengeluarkan lipstik dengan merk yang Argan tahu betul berapa kisaran harganya karena bundanya juga mengoleksi demikian. "Dan menurut lo, kenapa dia bisa memperhatikan lo seperti tadi siang?"
Grey diam tak langsung menjawab, ada beberapa alasan yang ada dalam fikirannya dan itu membuatnya malu untuk mengatakannya di depan Argan.
"Ok, gue yang jawab dari sisi pria dewasa seperti dia." Argan berucap saat menyadari ketidak nyamanan Grey atas pertanyaannya.
"Itu karena lo dengan makeup kayak tadi membuat lo kelihatan lebih dewasa, dengan cara lo menjelaskan materi ngebuat lo terlihat sangat berkelas, dan dengan pakaian yang lo pakai tadi udah buat lo terlihat sek--"
"Ar, STOP!!" Grey reflek membekap mulut Argan sehingga kalimat pria itu terpotong.
Dia seketika merasa malu dengan setiap kata yang diucapkan oleh Argan yang menggambarkan dirinya tadi siang.
"Kenapa? gue masih mau jabarin beberapa alasan lagi loh," goda Argan melepas tangan kecil Grey yang menyentuh bibirnya
"U-udah, Ar. Gue udah tahu, nggak usah dilanjutin lagi," putus Grey menutupi salah tingkahnya
"Apa ini gue kasih ke orang ajah?" gumamnya seraya menyimpan barang-berang yang sempat dikeluarkan Argan kembali ke dalam kotak.
Wajahnya nampak sedih saat mengatakan itu membuat Argan menjadi tak enak hati. "Pemberian orang itu nggak boleh diberikan ke orang lain juga, Grey," ucapnya sambil mengambil kotak kosong membantu Grey memasukkan alat-alat yang dia bongkar tadi. "Apa lagi ini dari orang tua lo," sambungnya
Argan menelengkan kepalanya mengintip wajah Grey yang menunduk. "Lo nggak akan selamanya ada diusia 21 tahun, Grey. Lo bisa nyimpan barang-barang ini sampai lo siap untuk memakainya."
Grey menghela nafasnya kasar kemudian berdiri dan berjalan menuju lemari tempat dia menyimpan barang-barangnya selama hampir dua bulan lamanya.
Setelah semua barangnya tersimpan rapi, gadis itu kembali ke ranjang dimana Argan masih duduk disana sembari memfokuskan pandangannya pada lemari kaca dengan tinggi sekita 2 meter yang berada di samping meja rias, lemari yang menyimpan setelan kerja yang sering digunakan oleh Grey.
Arah pandang Argan beralih ke Grey ketika gadis itu kembali duduk di sampingnya kemudian merangkak naik ke atas ranjang lantas memasukkan kakinya di bawah selimut.
"Gue mau tidur, lo bisa keluar kan?"
Argan speechless dengan perubahan ekstrem dari sifat gadis di depannya, hanya berselang beberapa menit gadis itu kembali ke mode datarnya yang membuat Argan membatin.
"Tante Deana dulu ngidam apa sih?"