Anti Romantic

Anti Romantic
Dia beda



“Tumben lo pusing gara-gara cewek,”


“Dia beda Dim.”


Sesi curhat dari dua pria dewasa yang sudah berjalan dari satu jam yang lalu itu agaknya tak mendapatkan titik terang, dua gelas kosong sisa


hot chocolate dan dua gelas yang masih penuhpun menjadi tanda jika dua orang itu tidak sebentar berada di daam café tersebut.


Jauh sebelum weekend tiba, Dimas sudah memboking Argan untuk menemaninya menikmati libur kerja setelah beberapa minggu putra dari Raufan itu menolak dikarenakan alasan sibuk atau ingin berdiam diri di rumah.


Dan sekarang, bukannya menikmati liburan seperti biasanya tapi Dimas harus merelakan waktunya untuk mendengar keluh kesah dari seorang Argan.


“Emang siapa sih cewek itu?” Dimas bertanya penasaran pasalnya selama satu jam mendengar Argan bercerita tak sekalipun pria itu menyebutkan nama seorang gadis yang membuatnya menjadi galau.


“Lo nggak kenal sama dia tapi lo tahu.” jawab Argan tanpa minat.


Saat ini Argan belum berniat untuk menceritakan mengenai Grey pada Dimas, selain ingin menghargai keinginan gadis itu untuk tak dikenal


sebagai kerabat dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja, dia juga hanya menganggap jika apa yang dia pusingkan ini bukanlah seperti seseorang yang tengah galau untuk menyenangkan gadis yang dia sukai. Menurutnya dia hanya


berusaha untuk menyenangkan anak dari sahabat orang tuanya.


“Yah kasih tahu kali siapa cewek yang lo suka, mana tahu gue bisa bantu,” ucap Dimas sembari menyeruput hot chocolatenya


Argan mendengus, “Gue nggak suka yah, gue cuma mau nolongin bocah itu,” elaknya


“Ya—yah gue anggap lo nggak suka, tapi gue heran dari tadi lo bilang bocah tapi lo juga yang pusing buat nyenangin anak itu,” balas Dimas, “Biasanya yah bocah atau anak-anak cewek itu paling senang yang namanya boneka dan coklat,” lanjutnya member saran


Bahu Argan merosot, jika saja gadis yang dimaksud memiliki jiwa seperti gadis kebanyakan maka Argan tidak akan kebingungan sendiri. Mendapat titah dari kedua orang tuanya untuk bisa menyenangkan Grey membuatnya menjadi


seperti seorang pacar yang bingung untuk membelikan kado apa yang akan disukai


oleh pacarnya.


“Yah kamu dong Nak yang mikir gimana caranya supaya Grey nggak sedih terus,”


“Ayah nggak mau tahu, selama Grey tinggal di rumah ini dia nggak boleh sedih karena merindukan keluarganya,”


“Itu tugas kamu untuk menjaga dan membuatnya senang baik di rumah ataupun di kantor,”


Kalimat dari kedua orang tuanya itu sampai sekarang masih terus menari di rungunya, sebuah kalimat yang secara tak langsung menjadikannya


sebagai babysitter untuk seorang gadis berusia 21 tahun.


Berawal dari Argan yang kedapatan berada di kamar Grey waktu itu dan terpaksa pria yang memiliki garis wajah hampir sempurna itu harus menceritakan bagaimana kesedihan Grey


selama dia berada di rumah mereka.


Meski tak sering menghampiri Grey yang setiap malam berada di balkon tapi tak jarang Argan melihat gadis itu terdiam dengan wajah yang


ditekuk sedih setelah melakukan panggilan telpon kepada keluarganya.


“Gue kan sudah bilang kalau dia itu beda dari yang lain,” jawab Argan frustasi


“Emang usianya berapa sih?, masih bocah tapi udah banyak milih gimana gedenya.” Dimas nampak menggelengkan kepalanya beberapa kali tak habis fikir seperti apa bocah yang dimaksud oleh sahabat sekaligus bosnya itu.


“21 tahun”


“Uhuk..Uhuk!!” Dimas yang baru saja menenggak minumannya langsung tersedak saat mendengar jawaban Argan. “Sial, itu bukan bocah lagi Ar,


tapi udah pantas dibilang dewasa bahkan sudah bisa dijadikan pacar,” tukasnya


“Menurut gue dia masih bocah.”


“Wajar sih, lo kan sukanya tipe cewek yang dewasa macam tante Monica gitu, hehehe,” sarkas Dimas seraya terkekeh


"Gaya lo, kayak nggak sama ajah lo kayak gue"


Dimas tersenyum miring saat melihat dua orang yang baru saja memasuki cafe, tangannya terangkat ke atas meja kemudian menumpu dagunya.


***


Menunggu adalah pekerjaan yang paling banyak orang tak sukai begitu halnya dengan Grey, saat membuat janji antusiasnya melebihi ketika mendapatkan sebuah discon belanja, tapi saat waktu tiba jam yang biasanya terbuat dari material logam tiba-tiba berubah menjadi karet.


Grey membuang nafas kasar sembari kakinya dia goyangkan di bawah kursi, saat ini anak sulung dari Arum dan Deana itu sedang menunggu Hana yang memintanya untuk bertemu dan berjanji untuk datang tepat waktu.


Tapi sekarang, jam sudah menunjukan pukul 1.45 siang dan itu sudah lewat dua puluh menit dari jam seharusnya mereka bertemu.


Dia sudah menelpon Hana tapi jawaban dari gadis berkacama itu tetap sama dari setengah jam yang lalu yaitu sudah di jalan, entah di jalan mana yang dia maksud hingga setengah jam belum juga sampai.


"Grey"


Sontak Grey mendongak dan mendapati seorang pria dengan tinggi sekitar 175cm telah berdiri menjulang di depannya. "Fathir?"


"Lo udah lama nunggu yah?"


"Hah?"


"Hana nggak ada ngabarin lo?"


Grey nampak bingung, seingatnya Hana tak bicara apapun mengenai Fathir yang akan datang tiba-tiba.


"Hana nggak ada cerita apa-apa, dia cuma janji mau ketemu hari ini dan nggak ada bahas tentang-"


"Gue?"


Grey mengangguk atas pertanyaan Fathir dan membuat pria itu tersenyum. "Gue fikir dia udah izin sama lo kalau dia ngajak gue buat ikut kalian hang out." kata Fathir


Kali ini Grey menggeleng, suasana canggung tiba-tiba dirasakan oleh Fathir atas respon yang dia dapat dari Grey, dalam hati dia berharap agar sepupunya itu cepat datang.


"Sorry, sorry, gue telat." Hana datang dengan suara yang ngos-ngosan, keringat yang menetes dipelipisnya sudah menjadi bukti jika gadis berponi itu memang dikejar waktu.


"Syukurlah lo udah datang" ucap Fathir sembari mengelus punggung Hana sepupunya.


"Kenapa?, lo nungguin Gue?"


"Bukan gue tapi Grey"


Hana menyengir paksa merasa bersalah karena membuat sahabatnya itu menunggu. "Sorry yah sayang ku udah buat lo nunggu lama," katanya


Bukannya menjawab, Grey malah melotot pada Hana sembari melirik ke arah Fathir meminta penjelasan mengapa di waktu yang seharusnya hanya ada mereka tiba-tiba ada Fathir yang juga turut ikut.


"Maaf Grey, sebenarnya tadi malam gue itu tiba-tiba dikabari sama nyokap kalau ada acara pagi ini, jadi gue minta tolong sama sepupu gue buat nemenin lo biar lo nggak kecewa karena janji kita batal, setidaknya sampe gue datang." jelas Hana tak enak.


"Kan lo bisa chat gue" bisik Grey gemas


"Sorry"


Mengerti dengan ketidak nyamanan Grey membuat Fathir semakin merasa canggung, ditelannya salivahnya kasar setelahnya dia berkata. "Yah udah Han, lo kan udah datang jadi mungkin gue balik ajah."


"Thir, gabung aja," ucal Grey ketika Fathir hendak berbalik.


"Hah?"


"Lo udah nyampe sini, lebih baik lo ikut bareng kita," ujar Grey yang diangguki Hana antusias


"Nggak apa-apa?"


"Kita cuma mau makan siang bareng aja kok"


Mendengar jawaban dari Grey membuat garis bibir Fathir tertarik. "Yah udah gue yang traktir," seru Fathir semangat


"Berangkat pake mobil lo juga yah?"


"Iya"