
Tempat yang luas yang tak memiliki kesan seperti sebuah kantin terpampang nyata di depan mata Grey, dalam diam dia berdecak kagum bagaimana seorang Raufan Dyantara memfalisitasi 200 lebih karyawannya sebaik ini dalam hal makanan yang harus mereka konsumsi selama bekerja di perusahaannya.
Tapi, ada yang tak Grey ketahui jika apa yang dia lihat sekarang adalah hasil dari keinginan Argan yang ingin
memberi pelayanan yang baik untuk para karyawannya, sebab Argan paham bagaimana rasanya menjadi seorang karyawan yang kadang bingung untuk memilih menu makan siang dan tempat yang nyaman disaat waktu istirahat hanya diberi waktu 1 jam.
Perlahan Grey melangkahkan kakinya bersamaan dengan Fathir disampingnya, seperti biasa Grey akan memilih tempat duduk yang berada di sudut ruang dimana tempat itu adalah tempat favorit baginya. Grey mendudukkan dirinya tepat di depan Fathir yang entah kenapa selalu tersenyum padanya.
“Kenapa?”
“Hah?”
“Lo dari tadi senyum lihatin gue,”
“Ah, sorry kalau lo terganggu, gue cuma senang karena ada yang gue kenal di lingkungan yang baru,” Kilah Fathir menutupi kekagumannya pada Grey
“Oh”
Tersenyum dalam hati, benar kata sepupunya Hana bahwa Grey adalah cewek yang susah untuk berteman dan didekati dan benar pula pilihannya memilih perusahaan yang awalnya tak masuk dalam list tempatnya magang untuk bisa memiliki kesempatan kenal dan dekat dengan Grey si cewek yang dijuluki anti romantic di kampusnya.
“Grey, gue nggak tahu makanan kesukaan lo, jadi mungkin lo bisa kasih tahu gue biar gue bisa pesankan,” tawar Fathir setelah berdiri hendak untuk pergi memesan makan siang mereka.
“Kita pesan sama-sama saja, gue belum tahu menunya.” Grey ikut berdiri setelahnya keluar dari selah antara meja dan kursi mengikuti Fathir yang lebih dulu melangkahkan kakinya berlalu.
Tinggal beberapa langkah untuk sampai di tempat yang dituju. Namun, langkah kaki Grey tiba-tiba terhenti saat seseorang tak sengaja menabraknya dan menumpahkan minuman yang cukup panas ke lengannya.
“Aw..” Grey meringis memegangi lengannya yang ketumpahan air panas, sontak keadaan kantin menjadi ribut karena kejadian itu.
“Ya Tuhan, ma-maaf gu-gue nggak sengaja.” Orang itu nampak khawatir serta takut yang menjadi satu. Grey yang merasakan kulitnya yang seakan melepuh itu tak bisa lagi berbicara selain hanya rintihan yang keluar dari mulutnya.
Air matanya pun tak bisa dia bendung, terlalu sakit hingga tak sadar tangannya meremas tangan Fathir yang sudah berdiri disampingnya yang juga ikut khawatir.
Fathir dengan cepat membantu Grey membawa gadis itu ke washtafel untuk membasuh air dingin ke kulit Grey yang sudah memerah.
“Ar, itu dikantin kenapa rame-rame gitu?” Argan berhenti dari pijakannya menoleh kearah yang ditunjuk oleh Dimas yaitu kantin.
Argan dan Dimas baru saja kembali setelah makan siang di luar dan langsung disuguhkan oleh keributan yang terjadi di kantin, merasa penasaran akhirnya Dimas mencegah satu orang yang baru saja keluar dari kantin untuk mendapatkan informasi.
“Roy, ada keributan apa di sana?” Dimas menunjuk suasana kantin
“I-itu Pak, tadi ada anak magang yang ketumpahan kopi panas,” jawab karyawan yang bernama Roy
Argan yang mendengarnya langsung mengintip ke arah kantin, sedikit penasaran mengenai orang yang dimaksud.
“Siapa namanya?”
“Puput”
“Puput yang ketumpahan?”
“Bu-bukan Pak, tapi Puput yang nggak sengaja nabrak anak magang itu terus kopinya tumpah kena si anak magang.” Jelas Roy sedikit gugup berbicara langsung dengan Argan
“Terus anak magang itu siapa namanya?” Ingin rasanya Argan langsung masuk ke dalam kantin untuk memastikan terlebih dia samar-samar mendengar cerita dari para karyawan yang baru saja keluar dari kantin bahwa anak magang itu adalah seorang cewek.
“Semoga tangannya nggak kenapa-kenapa yah, kasian banget mana cantik, manis, putih pula,”
“Lo fikir jajan pasar cantik manis?”
“Yah emang cantik loh dia, kan kasian kalau tangannya ada bekas luka gitu”
Dan menurut Argan dari semua karyawati magang yang baru saja masuk di perusaahaanya Grey adalah cewek yang paling bisa menarik perhatian laki-laki di perusahaannya itu, sejauh ini belum ada lagi yang dia lihat semanis Grey dan itu tak bisa dia pungkiri.
Argan membulatkan matanya saat Roy menyebut nama orang yang dia kenal. “Kalau nggak salah namanya Pink atau Grey yah?, saya lupa pak nama-“
Tanpa mendengar ucapan Roy hingga selesai, Argan langsung berlari masuk ke dalam kantin yang masih sedikit ramai meninggalkan Dimas yang berbicara dengan Roy, perasaan khawatir tiba-tiba muncul di hatinya berharap jika orang yang dimaksud tadi bukanlah Grey, bisa diamuk dia oleh kedua orang tuanya jika sampai mereka tahu anak sahabat mereka terluka di tempat anaknya sendiri.
Lemas, itu yang dirasakan Argan ketika matanya menangkap sosok Grey yang berada dalam rangkulan seorang pria dengan mata yang terpejam menahan perih dilengannya saat kucuran air menyentuh kulitnya yang terluka.
“Tahan yah Grey, kita dinginkan dulu baru kita olesi gel ini.” Fathir meraih sebuah salep yang dibawakan oleh penjaga kantin, dengan telaten dia membasuh lengan Grey sampai suara dari Argan menginterupsi membuatnya secara impulsif menoleh.
“Grey”
Mendengar namanya dipanggil membuat Grey membuka matanya kemudian ikut menoleh.
“Pak Argan?” Fathir dibuat terkejut mendengar nama Grey disebut.
“Serahin dia sama saya, biar saya yang mengurusnya.” Titah Argan sembari meraih tangan Grey yang masih dipegang oleh Fathir.
Kelakuan Argan yang muncul secara tiba-tiba itu langsung membuat orang-orang yang berada disana tercenung merasa tak percaya jika bos mereka berada disana dan bahkan berniat membantu karyawan magang.
“Nggak perlu Pak, biar saya saja yang mengobatinya,” tolak Fathir halus
Argan mendengus lantas menelusupkan tangannya dipinggang Grey yang masih terpaku dengan kelakukannya. “Kamu nggak lihat jam? Ini sudah waktunya kembali kerja,” tekannya
“Ta-tapi Pak”
“Oh Iya, untuk makan siang mu, aku akan menyuruh Pak Didit untuk mengantarkan ke meja mu, jadi hari ini kamu bisa makan sambil kerja.” Tutup Argan kemudian meninggalkan Fathir yang dibuatnya tak bisa membantah lagi.
Segera Argan memapah Grey tak memperdulikan tatapan heran oleh penghuni kantin, dia membawa Grey keluar dari kantin untuk memabawa anak dari Deana itu UKS kantor
"Lo kuat aja kan buat jalan?" tanya Argan pelan tak ingin jika suaranya di dengar oleh orang-orang yang matanya masih fokus melihat mereka.
"Yang luka lengan saya Pak, bukan kaki saya," balas Grey tak kalah pelan.
"Mana tahu lo mau digendong gitu, kayak drama-drama Korea."
"Saya bahkan bisa lari, Pak."
"Ter-"
"Bapak sebenarnya mau bantu saya atau mau buat saya semakin kesakitan?" Gemas Grey berucap, bukannya membawanya untuk cepat diobati, Argan malah memperlambat evakuasi dengan mengajaknya mengobrol .
"Iya-iya, Gue bawa lo lari"
"Eh"