
Bukan Argan namanya jika langsung menuruti keinginan Grey, pria itu bukannya melangkah keluar kamar melainkan berjalan memutari ranjang lantas berhenti setelah berada tepat di samping Grey yang sudah menutup matanya rapat.
Argan yakin seratus persen jika gadis yang tengah berbaring menyamping di atas ranjang dengan bed cover berwarna sea foam itu hanya pura-pura tidur untuk menghindarinya. Dengan pelan Argan menarik selimut Grey hingga sebatas lutut dan benar saja dugaannya gadis itu langsung membuka lebar matanya seraya berusaha menarik kembali selimutnya.
“Lo mau ngapain?” tanya Grey datar
“Bangun!”
“Gue ngantuk mau tidur,”
“Nanti ajah tidurnya, lo ikut gue dulu,” Argan memaksa
“Gue ngantuk,” ucap Grey sembari menarik selimut sampai menutupi kepalanya
Argan berdecak kesal. “Lo mau bangun sendiri atau gue gendong?” ancamnya
Spontan Grey terbangun dengan mata yang membelalak, bukan hal lucu jika dirinya benar-benar digendong oleh putra tunggal Raufan itu, membayangkannya saja tak pernah terlintas dalam fikirannya apalagi sampai hal itu benar-benar terjadi.
“Ar—“
“Ayo..!” Tanpa mau mendengar alasan, Argan segera menarik tangan Grey hingga mau tidak mau gadis itu akhirnya mengikuti Argan secara terseok-seok.
Tak ada yang bisa menolak jika Argan sudah menginginkan, maka dengan berat hati dan pakaian yang tak diganti hanya menggunakan piyama tidur serta rambut yang terurai berantarakan Grey membiarkan dirinya ditarik
oleh pria bertubuh jangkung tersebut.
“Ayah, Bunda, Ar mau keluar sebentar,” pamit Argan kepada kedua orang tuanya sesampainya mereka di ruang tamu
“Mau kemana?” tanya Raufan seraya melirik tangan sang putra yang masih menggenggam tangan anak sahabatnya. “Sama Grey juga?” lanjutnya
“Ini udah malam loh, Ar. Kasihan Grey pasti lagi capek,” Aira menimpali
“Sebentar ajah kok, Bun.”
“Tapi bentar lagi hujan loh diluar,"
"Ar pake mobil kok, Bun."
Raufan dan Aira kompak menghela nafas mendengar jawaban Argan yang ngotot tetap ingin mengajak Grey keluar, bukan tak ingin mengizinkan hanya saja mereka baru saja melihat perkiraan cuaca malam ini yang akan mengalami hujan deras dibeberapa wilayah dan itu membuat mereka sedikit khawatir.
"Bun, jangan khawatir, Grey bakalan aman ditangan Argan," ujar Argan mengerti kekhawatiran kedua orang tuanya
Bukan hanya Kedua paruh baya yang menjadi orang tua Argan yang merasa tenang, tapi Grey pun merasakan hal yang sama terlebih saat Argan berucap pria itu mengangkat tangannya dan menatapnya seraya tersenyum tipis.
"Baiklah." Satu kata yang menjadi jawaban tanda mengizinkan akhirnya Argan dapatkan, dengan senyuman lebar Argan melanjutkan langkahnya dengan tangan yang masih menggenggam tangan mungil Grey sampai ke garasi dimana mobil miliknya dan sang ayah berjejer rapi disana.
Grey diam dan tak lagi bertanya saat pintu mobil ditutup, gadis itu telah duduk tenang di samping Argan yang mengemudi dengan tak kalah tenangnya.
Langit memang nampak menggelap tanpa cahaya dari bintang, awan hitampun telah menutup bulan seutuhnya, namun jalanan masih begitu ramai oleh pengendara maupun yang berjalan kaki.
Grey yang notabenenya pendiam hanya bisa memfokuskan pandangannya pada jalanan diluar selama perjalanan hingga pertanyaan Argan memaksanya menoleh.
"Lo udah lama kenal Fathir?"
"Belum"
"Tapi kelihatan akrab banget." Argan berucap seraya melirik dari ekor matanya menunggu jawaban gadis disampingnya.
"Satu fakultas, dia saudara Hana," jawab Grey singkat
"Hana?"
"Sahabat gue"
"Apa?"
"Nggak apa-apa." Secara impulsif Argan tersenyum lebar menutupi salah tingkahnya saat Grey ternyata masih bisa mendengar ucapannya yang lebih ke gumaman
Perjalanan sekitar dua puluh menit itu akhirnya berhenti ketika mobil yang dikemudikan oleh Argan terparkir di depan sebuah bangunan dengan desain classic modern dengan beberapa display pakaian yang terlihat jelas dari dinding kaca.
Argan turun dari mobil lantas berlari kecil mengelilingi depan mobil kemudian berhenti tepat di samping dan membuka pintu untuk Grey keluar.
"Tunggu apa? ayo keluar!" Argan membungkukkan badannya tatkala orang yang ditunggu tak kunjung keluar dari mobil.
Nampak Grey yang masih diam kebingungan, mencerna pertanyaan yang terlintas dipikirannya, untuk apa dirinya dibawa ke butik malam-malam begini bahkan dalam keadaan hanya menggunakan pakaian tidur.
"Ayo keluar!, lo nggak akan diam di mobil terus kan?"
Ragu namun tetap menuruti keinginan Argan, Grey akhirnya keluar dan mengikuti Argan yang mulai mengayunkan kakinya ke dalam butik.
Grey tahu jika Argan bukanlah orang yang baru pertama kali masuk ke dalam butik ini terlihat dari bagaimana karyawan butik menyapa dan memperlakukannya dengan begitu sopan.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak Argan?" tanya salah satu karyawan cantik bernama Dea
"Bukan saya, tapi dia," jawab Argan sambil menunjuk Grey yang berdiri di belakangnya
Karyawan itu langsung mengintip dari balik bahu Argan yang menutupi Grey kemudian berjalan hingga berada tepat di depan gadis mungil tersebut.
"Adik anda, Pak?"
Argan hanya tersenyum tanpa menjawab yang membuat karyawan tersebut langsung mengangguk paham.
"Jadi, seperti apa yang harus saya siapkan?"
"Tolong pilihkan pakaian kerja yang sesuai dengan usianya," titah Argan seraya mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang tersedia disana
"Berapa usia mu?" Karyawan tersebut beralih kepada Grey sembari menuntunnya memilah pakaian yang menggantung di deretan blouse dan kemeja.
"21 tahun" jawab Grey
"Masih muda banget" batin karyawan itu
Terlalu ramah hingga membuat Grey tak nyaman, beberapa pertanyaan yang diajukan oleh karyawan itu membuat Grey menjerit dalam hati ingin segera keluar dari butik tersebut, obrolan yang memang terkesan wajar hanya saja tak sesuai untuk pribadi Grey yang menyukai ketenangan.
Setelah menjatuhkan pilihan untuk tiga pasang pakaian yang cocok dengannya, akhirnya Grey meninggalkan karyawan tersebut dan berniat menghampiri Argan yang ternyata sudah tak sendiri.
Pria itu sudah ditemani oleh seseorang yang Grey yakini adalah pemilik butik, seorang wanita cantik dan elegan.
"Sudah selesai?" Argan mendongak dan mendapati Grey yang telah kembali dengan satu paper bag ditangannya
Grey mengangguk mengiyakan
"Berapa pasang yang dia pilih?" tanya Argan pada karyawan yang menemani Grey tadi
"Hanya tiga pasang, Pak, dengan total 1.247.000" jelas karyawan tersebut menyebutkan total belanjaan Grey
Argan lantas meraih debit card miliknya yang dibawa oleh karyawan tadi kemudian bertanya kembali. "Lo nggak mau pilih lag--"
"Nggak, gue mau pulang" ucap Grey cepat memotong kalimat Argan hingga pria itu langsung mengatupkan bibirnya.
Tanpa menunggu jawaban Argan, Grey langsung berjalan keluar meninggalkan Argan yang dibuat bingung oleh tingkahnya yang tiba-tiba terlihat kesal.
"Ada apa dengannya?"