Anti Romantic

Anti Romantic
Pertemuan kedua



"Aku usahakan nggak lama, Kak" Ucap Deana seraya meraih tangan sahabat lamanya.


"Ya ampun, De. Lama juga nggak masalah, aku pasti senang ada teman di rumah."


Saat ini Deana sedang berkunjung ke rumah salah satu sahabat lamanya, tidak hanya sendiri tapi juga ditemani suami dan juga anaknya yaitu Grey. Sebenarnya bukan hanya sebatas berkunjung. Namun juga karena ingin menitipkan sang anak pada wanita yang dia panggil kakak itu.


Arum Abyan yang tak lain adalah papa Grey adalah seorang Diplomat dan harus menjalankan tugas sebagai perwakilan diplomatik negara yang akan bertolak ke luar negeri tepatnya di Roma, Italia. dan itu membutuhkan waktu cukup lama untuknya berada disana, bahkan akan membawa serta istri dan juga anak bungsunya yang baru berumur 10 tahun.


Sedangkan untuk Grey, dia sama sekali tidak berminat untuk ikut serta dengan kedua orang tuanya mengingat kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai, dia lebih memilih untuk tetap berada di Indonesia dan menyelesaikan pendidikannya dari pada harus pindah Universitas dan harus beradaptasi lagi dengan orang dan lingkungan baru. Dirinya tak memiliki ketertarikan untuk hal itu.


"Kami tidak bisa membiarkan Grey untuk tinggal sendiri di Indonesia, dia belum pernah kami tinggal lama sebelumnya." Arum menimpali sembari meletakkan cangkir berisi kopi hitam yang sempat dia tenggak kembali ke atas meja.


"Kalian tenang saja, Grey akan kami jaga seperti kalian menjaganya, kami akan menganggap dia sebagai anak gadis kami sendiri" Sahut Raufan, "Malah kami khawatir, kelak kalian datang Grey akan lupa yang mana orang tua kandungnya." Guraunya.


Arum dan Deana tertawa mendengar gurauan Raufan. Keempat paruh baya yang berada dirungan itu adalah sahabat masa kuliah, Arum bersahabat dengan Raufan sedangkan Deana dan Aira adalah sahabat sejak masa SMA. Mereka berpisah saat kedua pasangan itu harus menjalani kehidupan baru di negara yang berbeda.


"Mi.." Grey berbisik pada sang Mami yang berada di sampingnua.


Deana menoleh pada anak gadisnya. "Ada apa, Sayang?" Tanyanya.


"Aku mau ke toilet."


"Mami anter?"


Grey menggeleng, "Nggak perlu, Mi." Katanya, kemudian tatapannya beralih pada wanita yang seumuran dengan Maminya yang duduk di depannya, "Tante, toiletnya dimana yah?" Tanyanya sambil meletakkan tas selempangnya di samping sang Mami.


"Oh, Grey mau ke toilet yah?, sebentar tante panggil bibi aja yah?" Aira langsung memanggil salah satu pekerja rumahnya bernama Minah untuk mengantar Grey.


Grey yang mulai kebelet itu langsung berdiri sesaat setelah wanita yang di panggil Bi Minah itu sampai di depannya, dengan cepat dia meraih tangan wanita itu sembari berucap. "Bi,bisa tolong tunjukkan toiletnya?"


Bi Minah sedikit terkesiap mendapati tangannya yang di pegang oleh gadis manis di depannya, ada rasa kagum yang terlintas di benaknya pada Grey yang sangat sopan dalam berbicara.


"Ayo, Non. Bibi antar"


Grey mulai mengikuti Bi Minah hendak menuntaskan panggilan yang sudah mendesak di bawah sana. Tinggallah ke empat orang tua yang berada di ruangan itu membahas masalah pekerjaan sampai masa kuliah mereka dulu. Kedua pasangan itu terakhir bertemu saat usia Grey 2 tahun dan baru bertemu lagi selama setahun belakangan ini dikarenakan pekerjaan kedua suami tersebut yang memang harus berpindah tempat.


"Assalamualaikum, aku pulaang!" Sebuah suara menginterupsi percakapan mereka, nampak seorang memasuki rumah dengan setelan kantor lengkap, pria itu menenteng tas laptop di tangan kirinya sedangkan jasnya dia sampirkan di lengan kanannya.


Aira menoleh pada asal suara, lengkungan di bibirnya langsung terbentuk kala melihat anak semata wayangnya datang dan menghampirinya, "Baru datang, Sayang?" Sebuah pertanyaan basa-basi yang tanpa dijawab dengan ucapan pun sudah diketahui jawabannya.


"Siapa?" Begitulah yang dia ucapkan.


"Sayang, kamu nggak ingat mereka?" Aira menarik tangan sang anak untuk duduk di samping suaminya.


Pria yang ditanya tadi hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.


"Mereka Om Arum dan Tante Deana, Ar." Sahut Raufan menunjuk dua orang di depannya.


Pria yang dipanggil Ar itu hanya bisa tersenyum canggung sama sekali tak mengingat dua orang di depannya meski sang ayah sudah menyebutkan namanya.


"Maaf Om, tante, Argan nggak ingat. Tapi senang ketemu kalian lagi." Katanya tulus sembari mengulurkan tangannya menyalimi 2 sahabat orang tuanya tersebut.


"Nggak apa-apa kok, wajarlah lupa orang ketemunya pas usia kamu baru 10 tahun dan setelah itu nggak pernah ketemu lagi." Ujar Deana maklum.


Memang tak bisa disalahkan jika seseorang lupa setelah sekian lama tidak bertemu, begitupun dengan Argan yang kala itu masih berusia 10 tahun saat bertemu dengan sahabat orang tuanya apalagi itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kali sebelum mereka bertemu lagi hari ini.


"Fan, anak mu kalah tampan dengan mu." Gurau Arum pada Raufan


"Bukan kalah, tapi lebih tampan. Itu namanya gen ku dengan Aira berhasil." Balas Raufan seraya tertawa.


Orang yang mendengar candaan kedua lelaki paruh baya itu pun ikut tertawa tak terkecuali Argan yang menjadi topik candaan.


"Terima kasih, Bi." Ucap Grey pada Bi Minah setelah dia sampai di ruang tamu.


Gadis berambut coklat gelap itu langsung menjadi bahan perhatian orang-orang yang berada disana. Pandangan Argan lurus mengarah pada Grey hingga gadis manis itu mendudukkan dirinya di samping sang Mami.


"Yah ampun, Grey. Kamu habis ngapain? kok ujung rambut mu sampai basah gini?" Tanya Deana melihat rambut Grey yang basah.


"Grey lupa bawa ikat rambut, Mi. jadi tadi pas cuci muka airnya kena rambut." Jawab Grey, tanpa dia sadari ada pria yang sedari tadi melihatnya.


"Grey butuh handuk nggak?" Aira bersuara hendak berdiri.


Namun dengan cepat Grey menahannya, "Nggak perlu tante, basahnya sedikit ajah kok, paling juga nanti kering sendiri." Tolaknya halus.


Aira kembali mendaratkan pantatnya di sofa yang tadi setengah berdiri, wanita itu tersenyum lembut. "Ah iya, Ar. Kamu masih ingat Grey nggak?" Tanyanya mengacu pada sang anak yang masih fokus dengan pandangannya hingga pria itu sedikit tersentak.


"Iya, Bun. Argan ingat."