
Langkah kakinya kecil melewati koridor dengan tatap yang kosong, harga dirinya terluka dengan satu kata yang mungkin adalah hal biasa bagi orang lain yang mendengarnya, tapi bagi Grey kata itu terkesan kasar terlebih dia menyadari tatapan pria yang bernama Rey di ruangan meeting tadi.
Ini adalah pertama kalinya dia menggunakan make up dengan tampilan yang lebih dari biasanya karena kesehariannya yang hanya menggunakan make up tipis dengan lip tint yang natural. Seminggu yang lalu dia mendapatkan kiriman dari maminya berupa satu set peralatan make up dan beberapa pasang pakaian kerja.
Awalnya dia tak berniat memakainya karena menurutnya itu terlalu berlebihan, namun dia akhirnya memutuskan untuk mencoba karena menghargai pemberian orang tuanya.
Grey tersentak kaget ketika pundaknya di sentuh bersamaan dengan suara seorang pria menyebut namanya, tangannya dengan pelan mengelus dadanya mencoba untuk mengatur kembali debar jantungnya.
“Ternyata beneran lo.” Nampak Fathir yang tersenyum di sebelahnya dengan tangan yang berada di pundaknya
Grey hanya tersenyum sebagai jawaban membuat alis Fathir menukik bingung. “Gimana meetingnya tadi? Lancar kan?”
“Iya” jawab Grey singkat
Fathir semakin bingung tatkala dia menyadari jika penampilan Grey yang berbeda saat gadis itu meninggalkan ruangan, seingatnya Grey tak menggunakan blazer apapun bahkan yang sekarang gadis itu pakai adalah ukuran
blazer pria terlihat dari tenggelamnya Grey dibalik pakaian itu.
“Grey, in—“
“Thir, kita ke ruangan aja, yuk!” ajak Grey yang sadar akan kemana ucapan pria di sampingnya itu. “Gue masih banyak kerjaan,” lanjutnya
“Ya udah, gue juga masih ada kerjaan,” kata Fathir menyetujui dan mengabaikan rasa penasarannya tadi
Keduanya berjalan melewati koridor yang sesekali disertai oleh cerita Fathir yang membahas sepupunya Maya yang tak lain adalah sahabat Grey, sejauh ini Fathir semakin gencar untuk mendekati Grey meski gadis itu masih terkadang cuek dan tak menghiraukannya.
Grey baru saja sampai di mejanya dan hendak duduk, namun dia urungkan saat Farah menghampirinya sembari bertolak pinggang di depannya. “Enak banget yah jadi lo,” ucap Farah sinis
“Maksud Mbak Farah apa?”
“Lo udah berapa tahun sih disini?” Farah kembali bertanya dengan senyum tipis yang seakan menghina. “Gue dengar lo dari ruangannya Pak Argan, yah?” lanjutnya namun dengan suara yang lebih keras hingga memancing
tatapan orang-orang yang berada dalam ruangan itu.
Tak bisa dielak setelah Farah berucap mulai terdengar bisik-bisik dan tatapan yang menjurus pada Grey terlebih saat Farah kembali bersuara. “Ini bukannya blazer Pak Argan, yah?” katanya seraya menyentuh blazer
yang dikenakan oleh Grey.
Ini bukan situasi yang baik saat harus mengurusi omongan yang tak mendasar dari sang senior, maka dengan berusaha menulikan telinganya Grey dengan pelan melepas blazer itu kemudian menyampirkan di belakang kursinya.
“Maaf Mbak, kalau sudah nggak ada urusan saya akan melanjutkan pekerjaan saya.” Ujarnya yang seketika membuat Farah membulatkan matanya kesal.
Wanita yang memiliki body bak model itu mendengus kemudian mendudukkan dirinya di atas meja Grey. “Lo sudah berani yah? Dikasih apa lo sama Pak Argan sampai kurang ajar sama gue?” bisiknya yang masih bisa di dengar
oleh Fathir yang berada di belakangnya.
“Mbak—“
“Udah Thir.” Cegah Grey saat Fathir bersuara, dia tak ingin jika masalah yang hanya Karena salah paham itu berlanjut, untuk saat ini dia memilih diam sama seperti sebelumnya meski dia merasa sakit hati dengan tuduhan
Farah.
“Grey?”
Sebuah keberuntungan bagi Grey ketika pak Ahmad datang dan memanggilnya hingga membuat Farah terpaksa kembali ke tempatnya meski sebelumnya sempat mengumpat padanya.
“Ada apa Grey? Apa ada masalah?” tanya pak Ahmad khawatir
“Nggak apa-apa, Pak”
“Apa yang Pak Argan bicarakan?”
“Hmm, hanya masalah meeting tadi, Pak Argan meminta saya mengirimkan soft file untuk apa yang saya catat tadi padanya,” jelas Grey bohong
“Bukannya tadi sekretarisnya juga ikut meeting?”
Dia tak akan mungkin mengatakan alasan dia dipanggil ke ruangan Argan terlebih itu adalah hal yang pribadi, akan menjadi sebuah masalah besar jika orang-orang mengetahuinya.
Gadis yang masih berstatus sebagai karyawan magang itu mulai bernafas lega saat semua karyawan mulai disibukkan dengan pekerjaan masing-masing, tak ada lagi bisik-bisik yang menyudutkan dan membuatnya tak nyaman.
Kesibukan itu begitu membantu saat waktu yang ditunggu untuk segera berlalu akhirnya dapat dirasakan dengan cepat, tinggal menghitung menit sampai tiba waktunya untuk melepaskan penat dari segala rutinitas selama 7 jam lamanya.
Grey mulai merapikan perlengkapan di meja dengan tenang ketika Fathir menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang bersama. "Thanks, Thir, tapi gue mau pulang sendiri," tolaknya
Fathir mengangguk paham tak ingin memaksa disaat dia tahu jika suasana hati gadis di depannya sedang tak baik. "Gue nggak tahu masalah apa lo sama Mbak Farah, tapi gue harap kata-kata dia yang cukup kasa tadi nggak akan buat lo kefikiran, Grey." ucap Fathir menenangkan
"Lo pasti sudah tahu bagaimana Gue, Thir" jawab Grey, "Jangan khawatir," lanjutnya sembari mendorong kursinya ke bawah meja
Obrolan kecil terjadi sebelum keduanya berpisah setelah melewati bingkai pintu, Fathir yang ke arah kiri untuk segera pulang sedangkan Grey yang ke arah kanan menuju toilet.
Air itu cukup membuatnya tenang, di depan cermin besar dengan kedua tangan yang berada di bawah kucuran air membuatnya melupakan waktu hingga tak terasa sudah sekitar 10 menit dia berdiri di depan washtafel.
Grey mengangkat kepalanya menatap wajahnya di dalam cermin dan langsung memekik tatkala sebuah wajah yang tak asing baginya sedang menatapnya.
"Sudah?"
"Aarrghhh..."
"Hushttt, diam!! Orang-orang nanti mikir gue ngapa-ngapain lo disini Abu-abu." Gemas Argan menutup mulut Grey yang masih berteriak
Dengan kasar Grey melepas tangan Argan di mulutnya kemudian berucap. "Lagian lo kayak hantu tahu nggak, muncul tiba-tiba kayak gitu?!"
Yah, Argan memang muncul tiba-tiba menurut Grey, tapi tanpa gadis itu sadari bahwa hanya berselang beberapa menit dirinya masuk ke dalam toilet Argan juga masuk ke dalam sana dan dia hanya mematut di pintu sembari memperhatikan Grey yang berdiri di depan cermin seraya melamun.
Argan mulai mendekat dan berdiri tepat di samping Grey kemudian mencondongkan kepalanya diantara tembok hingga menampakkan hanya wajahnya saja yang berada di cermin.
"Lo juga ngapain melamun di toilet begini, hah?" Argan menyisir pandangannya ke sekeliling kemudian mengedikkan sebelah bahunya. "Nggak takut kesambet Lo?" katanya
"Gue yang harusnya nanya, Lo ngapain kesini?" ucap Grey
"Gue mau buang air lah, masa iya gue mau konser" jawab Argan disertai guyonan
Mendengar jawaban dari pria di depannya membuat Grey merotasikan Bola matanya jengah.
"Gue tahu, Ar. Tapi ini kan toilet cew--" Grey menggantung kalimatnya ketika matanya menangkap tulisan yang berada di pintu
"COWOK" kata Argan menekan satu kata untuk melanjutkan kalimat Grey.
"Ah,, Co-cowok?"
Argan mengangguk pelan dengan senyum tipis merasa lucu dengan ekpresi Grey saat ini,
"Iya, To-i-let khu-sus co-wok"
Grey salah tingkah, dengan cepat kakak Dennis itu menarik tissue untuk mengeringkan tangannya kemudian bergegas untuk meninggalkan Argan yang semakin melebarkan senyumnya mengejek.
Karena ingin cepat hilang dari hadapan Argan dan menghindari ejekan dari bosnya itu, Grey tanpa sengaja tersandung oleh kakinya sendiri hingga membuatnya hampir terjatuh, beruntung Argan sigap menarik Grey dan membuat gadis itu reflek mengalungkan tangannya di leher Argan.
Posisi keduanya saat ini semakin membuat Argan tersenyum, matanya fokus menatap mata Grey yang berada di bawahnya.
"Lo tahu nggak, Grey. posisi kayak gini biasanya ada dalam film terus tiba-tiba jat-"
"Jangan kebanyakan nonton romance." ucap Grey datar sembari melepaskan tangannya di leher Argan untuk berdiri tegak.
"Nggak sesuai umur," lanjutnya lantas berlalu meninggalkan Argan yang hanya bisa tercenung ditempatnya.
"Abu-abuuu"