Anti Romantic

Anti Romantic
Hantu tampan



"Kok sendiri turunnya?, Grey mana?"


"Baru selesai mandi, katanya dia sebentar lagi turun." Jawab Argan jujur akan pertanyaan Bundanya tanpa dia sadari mata kedua orang tuanya langsung terbelalak mendengar kalimatnya.


Argan menarik kursi untuk dia duduki belum menyadari pandangan orang tuanya yang terarah padanya, tangannya meraih air minum di samping piring yang masih kosong dan menenggak isinya hingga tandas. Reflek dia terbatuk mendengar pertanyaan sang ayah.


"Kamu nggak ngintip Grey kan, Ar?"


Seakan memiliki fikiran yang sama dengan suaminya Aira malah mengangguk menyetujui pertanyaan Raufan yang semakin meyudutkan sang putra.


"Yang benar aja Ayah sama Bunda curiga sama aku?" Tak terima, Argan langsung berdiri hendak pergi dari sana, namun terhenti ketika melihat Grey yang sudah berdiri di depannya.


"Maaf om, tante, Grey telat." Ucap Grey


"Tidak apa-apa sayang. Ayo duduk!, tante masak kesukaan mu, kata mami kamu - Grey suka udang asam manis yah?"


Aira merangkul Grey untuk duduk di samping kursi Argan seketika membuat pria yang masih berdiri itu mendengus, Raufan yang melihat tingkah sang putra langsung melotot ke arahnya, Argan menyadari itu dan  hanya bisa memutar bola matanya malas. Seperti bocah remaja yang masih sangat ketakutan dengan ancaman sang ayah yang akan menutup semua akses kebahagiannya Argan hanya bisa pasrah kembali duduk dan melupakan tuduhan yang tadi dilayangkan kepadanya.


Menyebalkan.


"Makan yang banyak, Grey!" Ujar Raufan setelah piring anak dari sahabanya itu terisi.


"Iya, om."


lebih dari setengah jam waktu yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan makan malamnya, Grey sedikit membantu bi Minah di dapur meski sudah dilarang oleh Aira tapi dia masih bersikukuh, bagaimana pun dia juga memiliki kesadaran bahwa dia menumpang di rumah ini dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membantu sedikitnya dalam hal bersih-bersih.


Grey mencuci tangannya di washtafel setelah selesai membantu bi Minah kemudian berjalan ke arah kulkas berniat untuk mengambil susu dingin yang dia stok disana, memang menjadi kebiasaan Grey setelah makan malam hendak kembali ke kamar dia akan menyediakan susu dingin untuk dia minum sebelum tidur. tadi dia sempat mengambil beberapa kotak di rumahnya.


Dibukanya lemari es tiga pintu berwarna hitam itu dan mengeluarkan sesuatu yang dia cari setelahnya meraih gelas di sampingnya, sejauh ini tidak ada yang aneh hingga dia tiba-tiba merasa merinding di bagian lehernya. Gadis itu merasa seperti ada yang mengawasinya, dia menoleh ke kanan tapi tak ada orang dan saat dia menoleh ke kiri dia melihat wajah putih dengan senyum menyeringai tipis.


"Aaagghhhhhh..!" Grey memekik ketakutan langsung berjongkok dengan mata yang tertutup rapat.


Ini belum terlalu malam tapi kenapa ada hantu yang berkeliaran. Fikir Grey. memberanikan dia membuka matanya pelan nampak kedua kaki yang menyentuh lantai dengan sendal berbahan kulit. Tapi, kembali dia berteriak saat tiba-tiba wajah putih itu muncul lagi di depan wajahnya. Reflek dia memukulkan gelas itu pada wajah yang membuatnya ketakutan.


"Aww"


Tunggu, hantu bisa meringis kesakitan?.


"Lo mau bunuh gue yah?" Hantu itu mengomel.


"A-Argan?"


Yah, hantu itu adalah Argan yang memakai masker. Pria berbaju kaos oblong itu berdiri menegakkan tubuhnya seraya mengelus dahinya yang tadi dipukul oleh Grey beruntung gadis itu tidak memukulnya menggunakan tenaga ekstra kalau tidak dahinya bukan lagi tergores dengan luka kecil melainkan pecah dan membuatnya geger otak.


"Gila yah, mana ada hantu setampan gue" Argan masih meninggikan suaranya, "Benjol kan gue." Ringisnya dengan tangan yang mengusap dahinya yang mulai membengkak.


Tak terima di bentak Grey langsung menaruh alat pemukulnya tadi ke meja. "Lagian lo ngapain sih muncul di depan gue dengan wajah ditempeli tepung kayak gitu?" Tukasnya.


"Tepung lo bilang? Ini itu masker biar gue tambah ganteng." Masih sempatnya dia membanggakan dirinya ditengah ringisannya.


Wajah Grey datar tak menimpali, tangannya kembali membuka kulkas yang tadi sempat ditutup oleh Argan meraih satu kantong es dan kembali menutup kulkas. "Lo bisa duduk nggak?" Tanyanya yang mengarah pada Argan.


Argan menukikkan alisnya bingung memperhatikan Grey yang malah menarik kursi dan mendudukkan diri disana.


"Lo nggak bisa duduk?" Ulang Grey yang hanya membalik kata.


"Emang lo fikir yang sakit pantat gue?, dahi gue ini yang sakit bukan pantat, yah kali nggak bisa duduk." Argan masih menyerocos namun tak urung dia menarik kursi di samping Grey dan mendudukkan dirinya.


Argan terkesiap tatkala Grey mendekatkan wajahnya, sontak Argan menutup matanya entah apa yang dia fikirkan, Grey menyentuh dahi Argan yang memang muncul benjol karena ulahnya dan membersihkan masker yang sudah retak di sekitar luka pria itu.


"Kotak P3K dimana?"


Pria bermasker itu langsung membuka matanya kikuk merasa bodoh dengan fikirannya sendiri. "Ah, sial. Ngapain gue tutup mata sih?" Batinnya


Argan berdehem sebentar kemudian menunjuk salah satu laci yang berada di dapur dekat dengan kulkas, dia tak perlu bertanya buat apa gadis itu menanyakannya dia tahu pasti untuk mengobati lukanya disebabkan oleh gadis itu sendiri. Grey berdiri dan berjalan menuju tempat yang ditunjuk dan mengambil apa yang dicari kemudian kembali duduk di depan Argan.


"Gue minta maaf, tadi gue reflek mukul lo." Sesal Grey sembari mengompres luka Argan setelahnya menempelkan plester ke dahi pria tersebut.


"Hmm" Jeda Argan, "Yang penting lo udah tanggung jawab buat ngobat-"


"Gue cuma nggak mau tante dan om mengira gue menganiaya anaknya." Potong Grey pada kalimat Argan.


"Lo-"


"Udah" Kembali Grey memotong ucapan Argan. Dia berdiri dan menuang susu ke dalam gelas baru kemudian meninggalkan Argan yang tengah menahan emosi di tempatnya.


"Lihat ajah nanti, sejauh mana lo bakalan diam di dekat gue -- Aww." Omelnya tak sengaja menekan dahinya.