Anti Romantic

Anti Romantic
Makan siang



"Ar"


Raufan yang sedari tadi duduk di sofa di dalam ruangan Argan itu nampak mengerutkan keningnya melihat putra semata wayangnya hanya mondar mandir di depannya dengan wajah gelisah.


Pria itu meremas tangannya seraya berjalan seperti seseorang yang tengah dilanda kecemasan hingga membuat sang ayah dibuat bingung karenanya.


"Ar, duduklah!" titah Raufan


"Yah, tadi Ayah lihat Grey, kan?" Bukannya menuruti perintah sang ayah, Argan malah bertanya yang jawabannya sudah sangat jelas.


Raufan memang melihat Grey tadi karena saat anak dari Deana itu menjatuhkan barang bawaannya dia tepat berada di depannya, tapi karena permintaan Grey sendiri yang tak ingin dikenal sebagai kerabat dari pemilik perusahaan akhirnya Raufan tak bersikap berlebihan.


"Ayah lihat," katanya


"Jadi tadi Ayah lihat dia bawa barang-barang tadi?"


"Iya."


Argan semakin gelisah mendengar jawaban santai dari sang ayah. Sahabat dari Dimas itu berjalan menuju mejanya kemudian duduk dipinggirnya tak berniat untuk mendudukkan diri di tempat yang seharusnya.


Menyadari tingkah aneh dari putranya membuat Raufan menautkan alisnya kemudian berkata. "Apa yang salah?, Ayah lihat itu nggak berat dan juga ada cowok yang membantunya." ucapnya


"Itu dia masalahnya, Yah. Ar perhatiin cowok yang bersama Grey itu sepertinya suka sama dia."


"Lah, bagus dong. Ayah tinggal telpon Papinya Grey buat infoin kalau mereka nggak perlu khawatir tentang anaknya disini karena ada satu orang lagi yang bisa menjaga Grey."


"Apa?" sontak Argan memekik tanpa sadar kemudian mendekati sang Ayah yang terlihat semakin bingung


"Kenapa?" tanya Raufan setelah Argan duduk disampingnya


"Hmm," Argan gelabakan, tindakan reflek yang dia lakukan tadi tanpa sadar telah membuat sang ayah penasaran.


Suami dari Aira itu sekarang telah memandangnya dengan wajah yang cukup dekat padanya seakan sedang mencari jawaban dari ekspresi wajahnya.


Sial, Argan tak bisa mengelak jika sudah ditatap demikian oleh sang ayah. Matanya berkeliling menghindari tatapan curiga dari ayahnya karena semakin lelaki itu menatapnya maka semakin dia tidak akan bisa berkutik. Entah mantra apa yang telah dibaca oleh kedua orang tuanya hingga pria yang notabenenya keras diluar akan bersikap seperti jelly jika berada di dekat orang tuanya.


Argan berdehem setelahnya berdiri sembari merapikan jasnya, dia harus terbebas dari rasa curiga ayahnya sekarang.


"Permisi, Pak"


Raufan menoleh sementara Argan tersenyum lebar ketika Dimas menyembulkan kepalanya di balik pintu, pertolongan yang sangat tepat waktu dari sahabatnya.


Dengan cepat Argan berjalan ke arah pintu kemudian merangkul pundak Dimas sembari kembali kehadapan sang ayah.


"Ayah sama Dimas dulu yah!" ucapnya


"Ar keluar sebentar, mau pesankan Ayah makan siang dan kopi untuk kita di kantin." lanjutnya dan langsung berlari keluar ruangan sebelum ada jawaban dari dua orang yang dia tinggal.


Jika Dimas yang terlihat canggung karena ditinggal berdua dalam satu ruangan bersama bos besar, maka berbeda dengan Raufan, lelaki yang usianya sudah melewati setengah abad itu nampak tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


Selama Argan menjabat sebagai direktur di perusahaan itu, ini adalah yang pertama kalinya Argan akan ke kantin untuk memesan makan siang sendiri dan Raufan tahu itu hanyalah alasan anak itu saja untuk menghindarinya.


"Ayo duduk, Dimas!"


"Apa Argan mulai menyukai kopi?"


***


Tapakan sepatu dari pemilik kaki panjang itu terdengar cepat menelusuri koridor menuju kantin, tangannya sesekali terangkat memastikan putaran jam yang berada dalam bingkai kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ini sudah pukul 13 kurang 20 menit dan sudah seharusnya waktu makan siang berjalan, seperti dugaan Raufan tadi jika ucapan Argan yang ingin ke kantin untuk memesan makan siang itu hanyalah alasan karena setelah kakinya keluar dari ruangan dia langsung menelpon sekretarisnya untuk menyiapkan menu makan siang untuk ayah dan juga sahabatnya yang berada di dalam ruangan, sedangkan dia melanjutkan langkahnya menuju kantin entah untuk hal apa.


Argan membulatkan matanya ketika penglihatannya menangkap interaksi dua orang yang tengah duduk berhadapan disalah satu meja yang berada di ujung ruangan diantara banyaknya meja kosong yang ada di tengah.


Dengan cepat kakinya melangkah menuju meja tersebut setelah sebelumnya sempat memesan makanan yang tak pernah dia makan sebelumnya saat siang hari. Bubur ayam.


"Bisa saya duduk disini?"


Dua orang yang berada di meja itu terlihat mengedarkan pandangannya memastikan jika bos yang tak pernah diduga berada di tempat itu memang bicara padanya.


"Pak Argan makan siang disini?"


Fathir bertanya penasaran saat sebuah mangkok berisikan bubur dengan topping suiran ayam, telur dan kerupuk itu diletakkan di atas meja.


"Iya" jawab Argan singkat, matanya lekat memandang Grey yang ikut dibuat bingung karenanya.


"Biasanya Bapak makan siang bersama Pak Dimas di luar" kata Fathir realistis


Mata Argan yang awalnya tertuju pada Grey langsung berputar ke arah Fathir. Untuk saat ini Argan sendiripun tidak paham bagaimana dia bisa mengambil keputusan untuk mengikuti kakiknya menuju tempat yang baru dua kali dia datangi itu, bahkan lebih tak masuk akal baginya saat melihat apa yang dia pesan sekarang.


"Ada peraturan baru?"


"Apa?"


"Saya rasa disini tidak ada peraturan jika saya tidak diperbolehkan untuk makan siang disini, bukan?!" Argan berucap santai kemudian mendudukkan dirinya di samping Fathir.


Grey yang melihat kelakuan Argan hanya bisa merotasikan bola matanya jengah, sepertinya sebuah kesalahan yang baru dia sadari saat berniat menolong pria itu minggu lalu, karena setelah kejadian itu Grey semakin sering diganggu dengan segala tingkah konyol pria di depannya.


Grey menoleh ke belakang saat samar-samar dia mendengar pekikan tertahan dari orang-orang yang berada di sekelilingnya, sebuah momen langka saat ini terjadi di dalam kantin. Seorang bos dengan segala wibawa dan karismanya tengah duduk bersama dengan dua orang karyawan magang yang baru satu minggu bekerja.


"Ada apa, Grey?"


Fathir yang memperhatikan tingkah tak nyaman Grey pun bersuara. "Lo mau gue pesankan minum lagi?" tanyanya melihat gelas yang Grey pegang hampir habis saat makanannya masih tersisa banyak.


Perhatian yang Fathir tunjukkan pada Grey sontak mengalihkan atensi Argan yang awalnya tengah menikmati makan siang yang ternyata enak untuk menu makan siang yang asal dia pesan itu.


Pria itu menunggu respon yang akan ditunjukkan oleh Grey dan seketika matanya membelalak saat gadis itu mengayunkan kepalanya ke atas dan ke bawah tanda setuju.


"Yah sudah lo tunggu bentar yah." Fathir berdiri kemudian berjalan melewati Grey, namun sebelum benar-benar meninggalkan meja pria itu sempat menyentuh pundak Grey dan itu tak luput dari perhatian pria berwajah bak pangeran di depannya.


"uhuuk,, uhuuk"


"Anda nggak apa-apa, Pak?"


Tak menimpali pertanyaan Fathir, Argan langsung mengambil minuman milik Grey dan menenggaknya hingga tandas.