Anti Romantic

Anti Romantic
Pindah rumah



Di Bandara Internasional Soekarno – Hatta.


Setelah keputusan menitipkan sang putri kepada kedua sahabatnya, Arum beserta istri dan anak bungsunya langsung menuju tempat keberangkatan. Disini ketiga orang itu berpamitan kepada Raufan dan Aira tak lupa juga dengan Argan.


Deana memeluk erat anak sulungnya setelah sang suami melerai pelukannya terhadap Grey, mengusap pundak sang putri lembut kemudian mencium kedua pipi dan keningnya, tak dapat dia bendung kesedihan untuk meninggalkan Grey tanpa pengawasannya tanpa tahu berapa lama.


“Jaga diri baik-baik yah, sayang.” Deana melerai pelukannya membelai pipi kanan Grey dengan jari telunjuknya.


Grey mengangguk mengiyakan, bibirnya menyunggingkan senyum setipis mungkin bahkan bisa dikatakan hanya tarikan tanpa niat, sesungguhnya Grey berat untuk melihat keberangkatan kedua orang tua dan adiknya, ingin rasanya dia menahan dan merengek untuk tak ditinggal namun urung dia lakukan.


“Kakak jangan kangen Dennis, yah!” Anak laki-laki berumur 10 tahun itu memeluk Grey menempelkan kepalanya pada dada Grey.


“Iya, kakak nggak akan kangen Dennis.” Ucap Grey bohong, sejujurnya dari kedua orang tuanya-Adiknya itulah yang paling berat dia lepas, selama ini mereka tak pernah berpisah. Kadang kedua orang tuanya keluar kota


atau negeri mereka akan ditinggal berdua di rumah dengan para pekerja. Tapi sekarang, Dennis akan ikut pergi mengingat tugas papinya yang tak bisa ditentukan waktu selesainya.


Grey menangkup kedua pipi Dennis hingga bibir anak yang mirip dengannya itu mengerucut lucu. “Jangan nakal disana, jangan bikin mami sama papi kesusahan, sekolah yang pintar!” Pesannya pada adik kesayangannya.


Bocah tampan itu mengangguk sembari mengangkat tangannya menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk tanda OK.  Interaksi kedua kakak beradik itu tak luput dari perhatian orang yang ikut mengantar keluarga Arum tak terkecuali Argan, arah pandangnya mengarah pada gadis berhidung tinggi itu bergantian dengan bocah laki-laki yang memeluknya, entah dulu Deana mengidam apa sampai kedua anaknya memiliki paras


demikian, keduanyanya nampak mengagumkan.


Argan sempat termenung sampai suara Aira menyadarkannya sambil menepuk pundaknya, “Ar, itu loh tante Deana ajak kamu ngomong.” Katanya.


“Ah, iya. Kenapa. Bund?”


Aira menggeleng gemas, “Tante Deana ngomong sama kamu loh!” Ulang Aira, “Malah bengong kayak gitu.”


Argan langsung mengalihkan tatapnya pada Deana seraya tersenyum canggung, “Maaf tante, tadi Ar lagi nggak fokus.” Terangnya, “Tante mau ngomong apa?” Tanyanya kemudian.


“Tante cuma mau ngomong, mungkin ini akan menyusahkan kamu. Tapi, tante harap kamu bisa ikut menjaga Grey.” Pesan Deana penuh harap, sontak Argan langsung melihat pada gadis di belakang Deana yang nampak tak mendengar pembicaraan mereka. Grey sibuk merapikan rambut Dennis.


Argan mengiyakan dan disambut senyum lega oleh wanita yang seumuran dengan bundanya itu.


Grey dengan ekspresi datarnya menatap pesawat yang dinaiki oleh orang tua dan adiknya yang telah lepas landas dari balik dinding kaca Bandara, tak nampak kesedihan apalagi bahagia yang terlukis di wajahnya. Datar sangat datar, bahkan Argan yang melihatnya hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung.


Raufan dan Aira sudah pulang terlebih dahulu untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati oleh Grey nantinya, sedangkan Argan masih menemani Grey di Bandara karena setelah itu Grey akan pulang ke rumahnya mengambil perlengkapannya selama tinggal di rumah sahabat orang tuanya.


Tak ada obrolan selama perjalan yang memakan waktu sekitar satu jam dan itu membuat pria dibalik kemudi itu berasa hanya ditemani oleh gadis tak kasat mata, tangannya terangkat menyalakan radio berniat menghilangkan


hening yang sangat dia tak sukai.


Yah, Argan adalah pria yang tak tahan dengan keheningan, keramaian baginya ada sesuatu yang menyenangkan. Dan sekarang dirinya harus satu mobil dengan gadis seperti Grey yang bertolak belakang dengannya


Lagu dari Ed Sheeran berjudul Shape Of You mengalun indah memenuhi rungu. Jari-jari panjang Argan terketuk di atas setir seraya mulutnya yang ikut bernyanyi menghayati lagu. Baru satu lagu yang terputar tapi dahinya tiba-tiba terlipat dalam saat tak sengaja mendapati gadis yang duduk di sampingnya merogoh sesuatu ke dalam tasnya dan mengeluarkan earphone dan menutup lubang telinganya dengan benda itu.


Argan mendengus sekilas kemudian kembali mengangkat tangannya semakin mengeraskan volume radio tak perduli dengan gadis bernama abu-abu disampingnya suka atau tidak suka. Kenyataanya Grey malah menutup


matanya damai entah dia pura-pura tidak dengar atau memang tidak mendengar kebisingan yang dilakukan oleh Argan.


“Turun!” Grey membuka kedua matanya, pandangannya menyapu pada luar mobil ternyata mereka sudah sampai ke rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama kedua orang tuanya berada diluar.


“Lo bisa bawa barang-barang lo sendiri, kan?” Tanya Argan sembari menurunkan dua koper Grey dari bagasi mobilnya.


Grey tak bersuara hanya mengangguk sebagai jawaban dan itu sukses membuat Argan menggigit pipi dalamnya gemas.


“Gue bisa membawanya.” Seolah paham dengan ekspresi pria di depannya Grey mulai bersuara.


Grey berjalan kearah Argan dimana kedua kopernya berada, menarik satu persatu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada Aira dan Raufan yang menyambut, kedua mata mereka langsung melotot pada Argan yang mengekor di belakang Grey melihat sang putra yang malah dengan santainya berjalan tanpa membantu Grey yang menarik koper dengan terseok-seok.


“Ya Allah Ar, kok kamu tega banget sih nggak bantuin Grey bawa kopernya?” Omel Aira sambil mengambil alih koper yang dibawa oleh gadis berambut wavy itu.


“Bund, dia yang mau.” Kilah Argan


“Bukannya tadi lo yang nanya gue bisa atau tidak bawa ini sendri?”