Alanaka

Alanaka
Nasehat



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


Flasback


"Pa bagaimana? Apakah Milka sudah di temukan? " pertanyaan ini terlontar dari mulut Belinda. Putri bungsunya Milka saat ini di culik, hingga dari tadi pertanyaan itu tidak henti-hentinya dia tanyakan pada suaminya itu.


"Belum Ma, orang suruhan Papa sedang mencarinya" wajah Brox sama paniknya dengan wajah Belinda, dalam hati dia merasa tidak lah berguna dalam menjaga anaknya.


"Gimana sih orang suruhan kamu Pa. Ini sudah dua jam loh masak tidak ketemu-ketemu"


"Milka di culik Ma!. Orang yang di culik tidak lah mudah untuk di temukan!"


"Tapi ini anak kamu loh. Ayo dong di usahakan biar cepat ketemu, kamu sangat tidak guna saat ini"


Mereka berdua terus berdebat. Seharusnya saat ini mereka harus saling merangkul bukannya malah bertengkar.


"Mama sama Papa kok berantem " pertengkaran kedua orang itu harus berhenti di kala Alanaka kecil menghampiri mereka.


Belinda yang saat ini melihat kedatangan Alanaka, raut wajahnya berubah semakin emosi "HEI!. Ini semua salah mu anak bodoh" tiba-tiba Belinda berkata seperti itu. Memaki Alanaka kecil yang tidak tau apa-apa bahkan Alanaka adalah anaknya.


"Belinda apa yang aku katakan" Brox binggung kenapa istrinya ini berkata seperti itu kepada anak mereka.


"DIA. KARENA DIA MILKA KU DI CULIK Hiks..."


📝📝📝


"Bibi ingin membuat apa? " ucap Alanaka yang kebinggungan melihat Bibi Leni yang berkutat dengan sebuah bubuk-bubuk hitam.


"Bibi ingin membuat kopi"


"Untuk siapa Bibi? "


"Untuk Tuan Muda"


"Wah Tuan? Bibi apakah Naka boleh yang mengantarkannya kepada Tuan"


Bibi Leni diam sejenak. Dia binggung apakah membiarkan Alanaka yang mengantarnya atau tidak?.


"Bibi kenapa? Bibi takut yah Naka melakukan kesalahan" persangkaan buruk mulai meracuni pikiran Alanaka di kala Bibi Leni hanya terdiam sambil berfikir.


"Bukan gitu Naka. Bibi takut Tuan Muda akan marah"


"Tidak. Tuan tidak akan marah Naka akan menjaminnya"


"Baiklah kau boleh mengantarnya. Tapi tunggu dulu setelah Bibi selesai membuat kopinya"


"Baiklah Naka akan menunggu dengan sabar"


"Selesai, antarkan lah Tuan Muda berada di ruangan kerjanya.Oh yah ruang kerja Tuan Muda berada di lantai tiga pintu ruang kerjanya berwarna cokelat,aku memberitahu mu agar kau tidak tersesat" Bibi Leni menyerahkan segelas kopi yang telah di buatnya kepada Alanaka.


"Naka pergi dulu Bibi" Setelah mengatakan itu Alanaka pergi dari dapur, lalu melewati tangga satu-persatu. Sebenarnya di mansion ada sebuah lift agar sampai ke lantai atas atau ke lantai bawah bisa dengan mudah sampai. Tapi lift itu hanya di boleh kan di naiki untuk orang-orang yang penting dalam mansion ini. Jadi Alanaka yang sadar diri memilih untuk tidak menaiki lift.


Akhirnya Alanaka sampai di lantai tiga mansion ini. Dia melewati koridor-koridor yang ada di sana hingga dia mendapati ruangan yang berpintu cokelat, seketika dia mengingat perkataan Bibi Leni.


"Sepertinya ini adalah ruangan kerja Tuan"


Tok


Tok


"Masuk" suara Nexlon saat mengatakan masuk sungguh terdengar menyeramkan bagi Alanaka yang berada di luar. Sampai-sampai bulu-buku halus di tubuhnya naik seketika.


Ceklek


Perlahan tapi pasti begitulah Alanaka membuka pintu berwarna cokelat itu. Hingga tubuh kurusnya berhasil masuk sepenuhnya kedalam ruangan.


"Tuan ini kopi anda" Dengan penuh ke lembutan seakan takut menyinggung orang yang berada di depannya Alanaka menaruh segelas kopi itu di meja tepat di depan Nexlon.


"Jangan terlalu larut dalam pekerjaan, adakalanya tubuh perlu di istirahat kan Tuan"


"Aku bukan ingin menjadi orang yang sok tau. Tapi kenyataan aku mengetahui bahwa anda jarak istirahat" apa yang Alanaka katakan memang lah benar. Dia pernah mendengar bahwa Nexlon adalah seseorang yang gila kerja, jadi tidak ada yang salah bukan? jika Alanaka menasehatinya saat ini.


"Setiap manusia butuh istirahat, apalagi istirahat sebentar dari kenyataan"


"Istirahat sebentar tidak lah buruk akan tetapi itu sangat berharga untuk manusia seperti mu. Tubuh adalah bagian penting dalam diri, jika tubuh mu lelah dan memilih untuk sejenak berhenti adakalanya kau harus menurutinya"


"Beristirahat lah Tuan, saya ijin pamit"


"Selamat malam, semoga Tuan bisa bermimpi indah malam ini" ucap Alanaka dengan membungkukkan tubuhnya setelah selesai lantas pergi dari sana, tapi sebelum itu dia tersenyum untuk salam perpisahan.


Alanaka saat ini sangat lah lega, karena akhirnya niat yang dia pendam dalam beberapa jam akhirnya terlaksana. Tadi siang dia mendengar para pelayan berkata bahwa suaminya itu adalah seseorang yang gila kerja. Jadi saat Bibi Leni membuat kopi sekaligus mengantar kopi untuk suaminya itu dia jadi merasa memiliki kesempatan untuk menyampaikan niatnya ini.


"Bibi kopinya sudah Naka antarkan" ucap Alanaka dengan riang sesaat setelah berada di depannya Bibi Leni.


"Baiklah kau boleh istirahat, karena tidak ada lagi pekerjaan yang perlu di kerjakan, semuanya sudah selesai"


"Benarkah? Baiklah kalau begitu Naka pergi dulu Bibi"


"Selamat malam Bibi, semoga Bibi mimpi indah malam ini"


Dengan penuh keceriaan Alanaka kembali ke kamarnya. Entah lah kenapa dia bisa sangat ceria, tapi yang pasti itu terjadi sesaat dia telah keluar dari ruang kerja Nexlon.


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


⚠Typo bertebaran, cerita akan di revisi jika sudah tamat.


Jangan lupa:


LIKE


KOMEN


SHARE


MASUKIN CERITA INI KE PERPUS KALIAN


SETIA NUNGGUIN AUTHOR UPDATE


JADIKAN CERITA INI FAVORIT KALIAN


OH. Jangan lupa juga follow akun author.


SEE YOU NEXT TIME :)