
...HAPPY READING...
... :...
... ----------------...
Ctar
"Ah sakit" teriakan itu menggema di seluruh ruangan gelap nan menyeramkan itu, di kala punggung rapuhnya mendapatkan cambukan yang sangat kuat.Dari tadi teriakan Alanaka sungguh menggema di dalam ruangan itu. Tapi ada yang aneh? meskipun Alanaka berteriak kesakitan atau bahkan saat ini penampilannya terlihat menyedihkan, Alanaka tidak menangis sama sekali!.
Cetar
"Sakit"
Cetar
Suara cambukan dan teriakan saling saut-menyaut di dalam ruangan itu. Hingga Bibi Leni yang menunggu di luar ruangan tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata dari tadi.
"Tuhan lindungi Naka" kata-kata itu tidak henti-hentinya Bibi Leni katakan. Tapi yang lebih menyakitkan adalah hanya itu yang dapat dia lakukan.
Cetar
"AH"
Itu adalah cambukan yang terakhir. Rasa cambukan yang lebih sakit dari pada cambukan-cambukan sebelumnya.
Setelah menyelesaikan tugasnya tiba-tiba ponsel yang ada di dalam saku celana pria itu berbunyi, tanpa menunggu lama dia pun mengangkatnya "Ada apa? " pria itu bertanya kepada seseorang yang berada di seberang sana.
" Baik lah aku akan kesana" entah apa yang di katakan seseorang yang di seberang sana, tapi itu mampu membuat pria kejam itu meninggalkan ruangan yang menjadi saksi akan ke kejamannya itu. Meninggalkan Alanaka sendiri di sana yang tak lama kemudian Bibi Leni datang menghampirinya.
"Naka, astaga" Melihat penampilan Alanaka yang lebih menyedihkan dari ekspetasi nya, membuat Bibi Leni terkejut bukan main.
"Keadaan mu sungguh menyedihkan" ucap Bibi Leni. Yah meskipun Bibi Leni tidka berkata seperti itu, Alanaka akan tetap tau saat ini penampilannya sungguh menyedihkan.
"Mari kita keluar dari ruangan ini. Bibi akan mengobati luka mu" setelah mengatakan itu Bibi Leni memapah Alanaka. Dengan satu tangannya merangkul badan Alanaka dan satunya lagi menahan tubuh Alanaka agar tidak terjatuh, karena lemas.
"Duduk lah sebentar sambil menunggu Bibi mengambil kotak obat" Bibi Leni berlalu dari kamar Alanaka. Dia berusaha maklum untuk Alanaka yang dari tadi hanya diam. Bahkan sekarang Alanaka jauh lebih menyedihkan dari pelayan sebelumya yang mendapatkan hukuman seperti Alanaka, jika mereka akan menangis maka Alanaka hanya terdiam. Bukankah itu jauh lebih menyedihkan?.
Tidak ada air mata dan tidak ada keluhan. Sepertinya yang di pikirkan Bibi Leni itu benar, bahwa sekarang Alanaka jauh lebih menyedihkan.
Tidak lama kemudian Bibi Leni datang ke dalam kamar Alanaka dengan sekotak obat di tangannya "Ayo Bibi bantu untuk menelungkup kan badan mu terlebih dahulu" Selesai menelungkup kan badan Alanaka Bibi Leni mulai mengeluarkan satu-persatu obat-obatan yang di butuhkan. Merasa sudah mendapatkannya Bibi Leni meminta Alanaka untuk membuka baju nya agar punggung nya dapat di obati. Alanaka tidak melawan dengan patuh dia membuka bajunya meskipun harus pelan-pelan.
"Jika sakit menangis saja. Tidak usah di pendam, itu akan jauh lebih menyakitkan" ucap Bibi Leni yang merasa mengerti dengan apa yang di rasakan Alanaka. Sebenarnya saat ini Bibi Leni sungguh salut pada Alanaka. Karena dia berhasil menunjukkan sisi kuat nya walaupun hanya berpura-pura.
Suasana hening karena keduanya lebih memilih bungkam. Hingga Bibi Leni selesai dengan tugasnya mengobati Alanaka.
"Terimakasih Bi" ucap Alanaka berterimakasih, meskipun hanya itu yang dia katakan. Tapi itu berhasil membuat Bibi Leni sedikit senang.
"Ya sama-sama. Bibi pergi" Bibi Leni berlalu dari sana tidak lupa menutup pintu.
"Hiks..... hiks..... hiks... " seketika setelah kepergian Bibi Leni Alanaka menangis.
Tangisan yang awalnya terdengar lirih, berubah menjadi tangisan histeris. Dari tadi Alanaka sudah menahan tangisnya dia tak ingin menangis, tapi setelah kepergian Bibi Leni tiba-tiba saja pertahan yang dia bangun runtuh begitu saja. Menjadikannya perempuan yang cengeng, yang sebenarnya sungguh dia benci.
"Hiks... hiks... kenapa? kenapa ini bisa terjadi padaku. Aku salah apa?"
"Hiks... hiks... hiks... Apa kah berbicara dengannya adalah merupakan kesalahan? "
"Aku hanya ingin dekat dengannya!. Meskipun aku tidak mencintai nya. Aku ingin dekat dengannya dan berusaha menerima semuanya"
"Hahaha. Naka hidup mu memang sungguh menyedihkan!! "
"HIKS..... " tangisannya semakin menjadi-jadi, jika ada orang yang mendengarnya mungkin orang itu dapat menilai. Sungguh rapuhnya orang yang menangis itu.
Tiba-tiba dada Alanaka terasa sesak. Dia tak tau itu kenapa itu bisa terjadi. Sampai dia memilih memukuli dadanya berusaha menghilangkan rasa sesak itu.
"Hiks... sakit. Ini semua sakit" dari sekian semua kalimat yang dia katakan dari tadi. Mungkin ini adalah kalimat yang paling menyedihkan. Meskipun terkesan simpel tapi sangat mewakili banyak kata.
... :...
...TO BE CONTINUE ...
...----------------...
⚠Typo bertebaran, akan di revisi jika cerita sudah tamat.
Hm. Si Naka kasihan banget yah.
Kalian kalau jadi Naka bakalan ngapain?
Berpura-pura kuat kayak Naka?
Atau
Memilih menangis dan terlihat rapuh?
SEE YOU NEXT TIME :)