
...HAPPY READING...
...:...
...----------------...
Pagi Alanaka di awali dengan bekerja di mansion besar milik Nexlon.
Menurutnya tidak ada yang istimewa dari paginya, bahkan untuk hari-harinya. Entah itu dulu ataupun sekarang.
Saat ini seperti biasanya, Alanaka sedang berbaur dengan pelayan lain menyediakan beberapa hidangan yang di masak koki untuk di sajikan di meja makan, agar dapat di nikmati Nexlon sebagai sarapan.
Tidak lama setelah selesai menyajikan beberapa hidangan ke meja makan, sang Tuan rumah pun turun dengan setelan jas yang semakin membuat dirinya mempesona Alanaka saja sampai pangling melihatnya seperti itu.
Sebetulnya Alanaka binggung Nexlon itu bekerja sebagai apa, dan jika menebak Alanaka memiliki pendapat bahwa Nexlon adalah seorang karyawan penting dalam perusahaan. Tapi entahlah pendapatnya itu benar atau tidak, karena dia hanya menebak saja.
Nexlon duduk diam di meja makan, dia tidak menyentuh satupun makanan yang tersaji. Jika diperhatikan sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
'Sepertinya Nexlon sedang menunggu seseorang ' batin Alanaka berkata.
"Sayang maaf aku telat" secara kebetulan, seorang wanita yang merupakan kekasih baru Nexlon baru datang. Mungkin orang yang di tunggu Nexlon adalah kekasihnya.
Alanaka beserta pelayan-pelayan yang ikut serta berada di dekat meja makan, menunggu mana tau ada yang dibutuhkan Tuan Mudanya. Cukup terkejut melihat seorang wanita yang memanggil sayang ke Tuan Muda mereka.
Para pelayan yang tidak kebagian tugas menjamu tamu semalam cukup terkejut bahkan terheran-heran, sehingga pikiran mereka di paksa untuk berfikir. Apakah wanita itu adalah kekasih Tuan Muda? Namun untuk pelayan yang kebagian tugas menjamu tamu semalam, hanya terkejut sedikit dan persepsi mereka semalam semakin di kuatkan bahwa wanita itu adalah kekasih Tuan Mudanya.
"Tidak masalah aku menunggu mu" ucap Nexlon menenangkan kekasihnya yang merasa bersalah itu.
Alanaka jadi iri, wanita itu hanya berbicara sekali Nexlon langsung menyautinya. Jika itu dia! mungkin Nexlon tidak akan berlaku adil.
'Ternyata dia menunggu wanita ini' miris! Satu kata yang dapat mewakili rasa sakit Alanaka.
"Terimakasih. Sebagai hadiahnya aku telah memasakkan makanan kesukaan mu. Ini! Semoga kamu menyukainya" ucap Nayla, nama kekasih baru Nexlon itu.
Nayla menghidangkan nasi goreng sederhana dan memberikannya kepada Nexlon, nasi goreng itu sederhana namun dapat menggiurkan orang-orang yang melihatnya.
'Wah ternyata Nexlon menyukai nasi goreng, aku kira orang kaya sepertinya tidak mau memakan nasi goreng. Ah aku lagi-lagi iri pada wanita itu, dia saja yang baru menjadi kekasih sudah tau makanan kesukaan Nexlon. Kalau aku! sudah dua bulan menikah dengan Nexlon, namun satupun aku belum mengetahui makanan kesukaannya'
"Huntung aku mengingat perkataan mu sekali itu, jika kamu menyukai makanan ini. Dan secara kebetulan kamu mengajak ku untuk sarapan bersama, jadi aku berfikir untuk memasaknya makanan ini untuk mu" ucap Nayla yang entah kenapa menurut Alanaka itu adalah sindiran untuknya.
'Apa wanita itu menyindir ku? ' batin Alanaka kepedean.
"Apa masakan ku enak? " tanya Nayla dengan antusias.
"Sangat enak" ucap Nexlon dengan wajah yang datar, sangat tidak cocok bukan dengan apa yang dia katakan.
"Wah sungguh?! Aku jadi senang, aku kira masakan ku tidak enak apalagi ini untuk pertama kalinya aku memasakkan makanan untuk mu. Tapi syukur lah kamu menyukainya" ucap Nayla dengan senang hingga senyum manis tak luput dari wajah cantiknya.
Kedua pasangan kekasih saling menikmati waktu kebersamaan mereka. Yang lagi dan lagi membuat Alanaka panas sendiri melihatnya.
"Wanita itu sangat cocok bukan dengan Tuan Muda" ucap seorang pelayan kepada pelayan lainnya. Pelayan ini bebas mengatakan seperti ini karena mereka telah berada di dapur, tempat seharusnya seorang pelayan.
"Husss...Kau tak boleh berkata seperti itu, ada istri Tuan Muda di sini" tegur teman pelayan itu.
"Apa yang ku katakan itu kan benar!, Lagian istri Tuan Muda itu menjadi pelayan seperti kita. Jadi apa bedanya dia dengan kita?! Sama bukan! Bahkan aku rasa wanita itu lebih rendah daripada kita. Kasihan... Dia menjadi pelayan di rumah suaminya sendiri" ucap pelayan itu dengan mulut tajamnya itu.
"Apa yang aku katakan benar. Tapi apa kau tak takut jika wanita itu istrinya Tuan Muda mendengar apa yang kau katakan? " ucap teman pelayan itu, dia tak memungkiri apa yang di katakan temannya itu salah. Dan justru apa yang di katakan temannya ini benar.
"Tidak! Untuk apa aku takut!! " ucap pelayan itu dengan penuh keberanian.
"Darimana kau tau bahwa Tuan Muda membencinya? "
"Ayolah kawan kau tak usah pura-pura tak tau! Ingat! Suami mana yang mau istrinya menjadi pelayan dirumahnya sendiri? Kecuali suaminya itu membenci istrinya! " apa yang dikatakan pelayan itu memang benar.
"Daripada membahas ini. Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan! "
"Kau tak seru! " kesal pelayan itu pada temannya.
Tanpa dua orang pelayan itu sadari, daritadi Alanaka mendengar dan menyaksikan bagaimana ekspresi mereka dan perkataan mereka. Jika di tanya, apa dua tak sakit hati? Maka jawabannya dia sakit hati!.
Sebenarnya dia ingin menghampiri kedua pelayan itu apalagi pelayan yang bermulut tajam itu. Namun kesadarannya mengingatkannya bahwa apa yang pelayan itu katakan semuanya adalah benar tanpa pengecualian.
Untuk kali ini sepertinya Alanaka harus menelan pil pahit penuh kesabaran.
đđđ
Di sebuah ruangan terdapat seorang pria yang menatap keluar jendela balkon dan ada seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakang pria itu.
"Permisi Tuan Muda. Ada apa anda memanggil saya? " tanya wanita paruh baya itu dengan hati-hati takut menyinggung pria yang ada didepannya ini.
Jika diperhatikan teliti tubuh wanita itu sedikit gemetar, akibat aura menyeramkan dari pria didepannya ini.
Pria itu membalikan tubuhnya, sehingga sekarang dia berhadapan dengan wanita paruh baya yang dia panggil untuk menemuinya.
"Jauhi dia!... "
"... Jangan anggap keberadaannya ada! "
Mendengar perkataan pria didepannya ini wanita paruh baya itu binggung, apa yang sebenarnya yang dimaksud pria ini.
"Saya tahu kamu mengerti siapa yang dimaksud! " setelah mengatakan itu pria itu mengkode wanita paruh baya ini untuk pergi keluar dari ruangannya.
Wanita itu yang paham apa yang dimaksud pria didepannya ini , lantas membungkuk kan badannya lalu berlalu dari ruangan itu.
Saat berada di depan ruangan wanita itu kembali berfikir siapa yang di maksud Tuan Mudanya ini, hingga nama seseorang terlintas di benaknya.
'Apakah yang dimaksud adalah engkau? Hah... sungguh malang nasib mu nak'
...:...
...TO BE CONTINUE...
...----------------...
Author udh jarang up yah?
Maaf yah âšī¸
Ini tidak di sengaja, seperti yang author kasih tau sekali itu. Author udah sering kehabisan ide.
Oh ya menurut kalian ceritanya ini membosankan?
Atau menyenangkan ?
Gak papa jawabnya yang sesuai isi hati kalian aja, karena menurut author itu adalah hak kalian.