Alanaka

Alanaka
Bibi Leni Berubah



Hari entah kenapa ***Senja pengen cepat up. Mungkin Senja lagi rindu sama readers :).


Kalau readers ada yang rindu gak sama Senja?


Semoga ada. Amin***...


... HAPPY READING...


... : ...


...----------------...


"Bibi berubah" ucapan Alanaka barusan berhasil memberhentikan langkah kaki Bibi Leni yang ingin keluar dari dapur.


Saat Tuan Muda selesai sarapan atau bisa kita sebut Nexlon, tugas Alanaka selanjutnya adalah membersihkan meja makan. Namun saat Alanaka ingin menyimpan piring kotor didapur, Bibi Leni juga berada didapur. Entah kenapa dengan terburu-buru Bibi Leni ingin pergi dari dapur saat dia menyadari kedatangan Alanaka didapur.


"Bibi berubah" Alanaka mengulangi perkataannya, karena perkataannya sama sekali tidak direspon Bibi Leni.


"Maksudnya? " Bibi Leni bertanya seolah dia tidak tau apa yang dimaksud Alanaka.


"Kenapa Bibi berubah? " Sebetulnya Alanaka tau, saat ini Bibi Leni pura-pura tidak tau apa yang dia maksud. Namun Alanaka berusaha untuk menghargai Bibi Leni dengan tidak bertanya.


"Saya tidak mengerti! " Bibi Leni berkata dengan nada tegas. Tapi ada yang aneh! Yaps.. Bibi Leni mengubah kosakatanya dalam berbicara kepada Alanaka, sedikit formal. Sangat berbeda sekali dengan Bibi Leni yang Alanaka anggap sebagai teman. Bahkan Bibi Leni yang saat ini sama dengan Bibi Leni yang Alanaka kenal saat baru pertama kali memasuki mansion milik Nexlon.


"Bibi bukan lagi Bibi Leni yang Naka kenal" Alanaka berucap dengan nada sendu, bahkan raut wajahnya ikut serta mendukung.


"Saya tidak berubah! " ucap Bibi Leni degan tegas. Dalam perkataannya mengandung makna 'dia itu masih sama! '.


"Bibi berubah! Bibi Leni yang Naka kenal adalah Bibi Leni yang selalu berbicara lembut pada Naka bukan tegas! Bibi Leni yang Naka kenal, selalu peduli sama Naka... Hahh Dan Bibi Leni yang Naka kenal tidak pernah acuh pada Naka" Masih dengan nada serta raut wajah sendu Alanaka berucap.


"Kenapa? Kenapa Bibi berubah? Apakah Naka ada berbuat salah pada Bibi, sehingga Bibi berubah? Jika ada Naka mohon, maafkan Naka Bibi" Mata jernih Alanaka seketika berkaca-kaca.


Alanaka adalah sosok yang kuat. Bahkan ketika dihina atau disiksa pun, dia sudah mati rasa dan dia tidak ingin terlihat menyedihkan didepan orang yang berhasil memberikannya salah satu penderitaan. Namun, dengan fakta bahwa teman pertamanya atau Bibi Leni ingin menjauh darinya. Berhasil membuat Alanaka rasanya ingin menangis.


"Bibi adalah teman pertama Naka. Ah... Naka salah, Bibi lebih tepatnya sahabat pertama Naka. Karena dari dulu sampai sekarang Naka tidak pernah punya teman atau bahkan tidak pernah punya sahabat, namun saat Naka bertemu Bibi semuanya berubah. Bibi selalu ada untuk Naka dan berhasil membuka Naka bahagia" kini Alanaka sadar bahwa Bibi Leni lebih dari teman baginya.


"Bibi Naka selalu sendiri, Naka selalu saja dilupakan. Bahkan karena sendiri Naka menyimpulkan tidak perlu ada orang lain dihidup Naka, karena ternyata sendiri juga menyenangkan. Tapi semenjak Naka bertemu Bibi, Naka akhirnya tau sendiri itu tidak enak, sendiri itu tidak menyenangkan, dan sendiri itu berhasil membuat Naka menjadi orang yang paling menyedihkan... " satu tetes air mata meluncur melalui sudut mata menuju pipi Alanaka.


Kini Alanaka terlihat rapuh. Tadinya air mata satu tetes jatuh, sekarang bertambah berpuluh-puluh air mata. Tidak kuat melanjutkan ucapannya Alanaka terdiam sejenak. Merasa dirinya sudah bisa berbicara, Alanaka berucap. " Hiks.. Bibi Naka tidak suka Bibi berubah, Naka tidak suka ketika Bibi mulai menjauh dari Naka. Sudah satu minggu semuanya berlangsung awalnya Naka mengira Bibi sedang ada masalah, sehingga tidak ingin berbicara pada Naka. Namun setelah seminggu berlalu, apalagi saat Naka datang ke dapur tadi lalu Bibi berniat ingin pergi. Naka mulai paham hiks... N-naka mulai paham b-bahwa Bibi ingin menjauh dari Naka hiks... " .


"Naka salah apa Bibi? Naka salah apa pada Bibi?! " Alanaka tidak ingin menyalahkan Bibi Leni atas menjauhnya Bibi Leni tiba-tiba darinya. Mungkin dia ada salah, sehingga Bibi Leni memutuskan hal seperti itu. Jadi menurutnya lebih baik bukan jika dia bertanya salah apa? Agar dia bisa berubah dan membuat Bibi Leni tidak marah lagi padanya.


Sudah tidak kuat berasa disana lagi, apalagi ketika telinganya mendengar tangisan Alanaka sudah pecah. Bibi Leni memutuskan berlalu dari sana, tidak peduli pada Alanaka yang masih menangis, tidak peduli pada Alanaka yang masih membutuhkan jawabannya, dan tidak peduli pada Alanaka yang masih binggung tentang apa yang telah terjadi sehingga bisa seperti ini. Yang jelas satu! Bibi Leni tidak ingin mengingat dan melihat semua kesedihan Alanaka.


"B-bibi... " Alanaka berucap lirih sambil menatap rapuh punggung tua Bibi Leni yang berlalu meninggalkannya.


"Bibi setidaknya jawab dulu pertanyaan Naka baru pergi" masih sama Alanaka berucap dengan lirih. Sebetulnya Alanaka ingin memberhentikan langkah kaki Bibi Leni, namun bibirnya tidak sanggup untuk mengatakan 'Bibi tunggu'.


Dengan segala kerapuhannya Alanaka menundukan kepalanya dalam, air mata masih turun membasahi pipi kurusnya.


Jauh dari tempat Alanaka berdiri dan Bibi Leni. Ada seseorang yang dari tadi menyaksikan pembicaraan mereka. 'Seperti yang kuduga orang itu sangat menyukai penderitaan mu! ' Satu sudut bibir seseorang itu terangkat, menciptakan senyum miring yang terkesan mengandung makna.


📝📝📝


"Sayang.... Kau sangat tampan" Nayla berucap dengan nada girang, dikala matanya menatap sang kekasih keluar dari lift dengan stelan jas mewahnya dan rambut yang tertata rapih. Hingga menciptakan ketampanan surgawi.


"Kau berhasil membuatku terpesona sayang" ucap Nayla dengan tersenyum manis. Tampilan Nayla saat ini tidak kalah dengan Nexlon. Nayla dengan riasan wajah natural, dress mewah yang menampilkan lekuk tubuhnya, serta beberapa barang mewah yang melekat pada tubuhnya. Sangat serasi bukan?!.


Nexlon hanya berekspresi datar. Namun tangannya menggandeng tangan Nayla untuk berjalan keluar dari mansionnya. Beberapa pelayan serta bodyguard berpapasan dengan pasangan serasi itu, para pelayan serta bodyguard yang berpapasan dengan sang Tuan Muda serta calon Nyonya baru mereka, membungkuk tubuh penuh hormat. Dan didalam hati mereka, mereka berdecak akan kekaguman pada keserasian sang Tuan Muda dengan calon Nyonya baru mereka.


Kenapa mereka berfikir Nayla merupakan calon Nyonya baru mereka? Yah karena selama mereka bekerja dimansion sang Tuan Muda. Hanya Nayla yang pertama bertamu ke mansion sang Tuan Muda, bahkan tangan mereka beberapa kali bergandengan. Apalagi coba yang membuktikan jika mereka tidak memiliki hubungan? Bahkan istri sang Tuan Mudanya sendiri diperlakukan sebagai pelayan dan pekerja sama seperti mereka. Jadi wajar bukan jika mereka berfikir seperti itu?.


Nexlon dan Nayla berpakaian mewah serta berpenampilan menawan. Karena saat ini mereka akan menghadiri sebuah acara dan yang paling terpenting acara tersebut adalah acara spesial.


Untuk Alanaka? Sebenarnya Alanaka ikut menyaksikan kemesraan Nexlon dan Nayla yang sedang bergandengan tangan. Jauh dalam lubuk hatinya Alanaka ingin sekali berada diposisi Nayla. 'Aku berharap bisa berada diposisi itu suatu hari nanti' Keinginan sederhana. Yang mungkin bisa terjadi atau justru sebaliknya tidak terjadi. Tapi semoga saja sang Pencipta mendengar keinginan Alanaka, dan ingin mewujudkan keinginan sederhana Alanaka.


... :...


... TO BE CONTINUE...


...----------------...


***Udah sampai sini dulu yah readers... :(


Semoga readers suka*** ;)