
... HAPPY READING...
... : ...
...----------------...
Apakah kalian masih ingat ruangan terkutuk? Jika iya! Maka disitulah saat ini Alanaka berada.
Mata yang tadinya tertutup kian akhirnya terbuka. Matanya menyipit disaat silau redup dari lampu menusuk pandangannya. Meskipun sudah bangun Alanaka terdiam, dirinya berusaha mencerna tentang apa yang telah terjadi.
Detik terus berdetak, hingga terciptalah menit, keadaan Alanaka masih sama. Dia terdiam dan matanya memandang kosong, mungkin nyawanya saat ini sedang tersangkut diruangan hampa.
Merasa semua tubuhnya sakit akibat rebahan dilantai yang dingin atau sebaliknya karena siksaan berupa cambukan diberikan ke tubuhnya. Alanaka bangkit dari posisi rebahannya dan terduduk dilantai dingin itu.
"Stttttss" ringgis Alanaka lirih, semua tubuhnya terasa sakit dan pegal.
Mata Alanaka memandang setiap sudut dengan lekat, tubuhnya dia sadarkan di dinding yang dingin. Wajah pucatnya sangat kontras dengan bibir pucatnya.
"Hah... " Alanaka menghela napas dengan pelan, dia sekarang sadar dimana dia berada. Di ruangan yang baginya adalah sebuah neraka tanpa pintu keluar.
Alanaka memiringkan kepalanya di dinding, matanya dengan perlahan dia tutup. Dan tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Alanaka menelan ludah dengan sangat kasar hingga terdengar sedikit suaranya memecahkan keheningan, membasahi bibir pucatnya, dan satu sudut bibirnya tersenyum miring.
"Hahahaha" tersenyum miring dengan sedikit terkekeh, Alanaka memainkan ekspresinya dengan baik.
"Hi my self. Are you ok? " Alanaka berucap dengan nada datar untuk dirinya. Tidak lama setelah berkata seperti itu bibirnya yang tersenyum miring berubah menjadi senyum miris.
Saat ini Alanaka terlihat sangat hebat memainkan ekspresinya. Dari datar, kekosongan, dan berakhir miris. Apakah ada yang bisa sehebat Alanaka dalam memainkan peran ekspresi?.
"Hiks... hiks... Aku lelah!" air mata yang awalnya jatuh setetes ke pipi Alanaka, kini jatuh kembali dengan tak terhitung jumlahnya ke pipi Alanaka. Yah... Dia menangis untuk mewakili dari semua rasa sakit yang dia derita.
Tidak salahkan jika dia menangis? Tidak salahkan tangisannya itu mewakili semua rasa sakit yang dia derita? Wajar bukan! Karena dia itu manusia biasa, manusiawi biasa yang bisa lemah dan yang bisa kuat.
Alanaka terus-menerus menangis, tidak ada henti dan tidak ada jeda dalam tangisan rasa sakitnya. Biarlah Alanaka sampai puas dengan tangisannya. Kini ruangan terkutuk itu menjadi saksi bisu akan semua kelemahan yang saat ini Alanaka rasakan.
Alanaka menatap kosong pada ruangan hampa didepannya. Kantong matanya sembab, matanya memerah, dan bibirnya pucat kering. Dia bagaikan mayat hidup yang sangat menyedihkan.
"Apakah aku harus menyerah? " Alanaka bertanya lirih pada dirinya.
"KENAPA? KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKU? " saking lelahnya pada semua penderitaan yang terjadi dalam hidupnya. Alanaka berteriak, dia ingin hatinya bisa lega, walaupun itu sedikit.
"KENAPA SEMUA PENDERITAAN SELALU DATANG PADA HIDUPKU?... "
"... APA AKU TIDAK BISA BAHAGIA?! SEDIKIT SAJA PUN KEBAHAGIAAN TIDAK BISA? "
"Atau s-ssatu saja kebahagiaan. Apakah tidak bisa? " setetes air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
Meskipun Alanaka sudah lelah untuk menangis. Dia ingin tersenyum, dia ingin bahagia tanpa harus ada air mata dan penderitaan. Tapi itu tidak lah mungkin terjadi!.
"Kapan aku bisa bahagia? "
"Kapan aku tidak lagi merasakan penderitaan?" Biarlah kali ini semua rasa sakit yang dia tanggung, yang dia derita. Dapat dia keluarkan melalui segala keluh kesah yang dengan mengeluh belum tentu selesai. Namun bisa membuat hati lega.
"Tuhan Naka lelah!... "
"Kapan ini semua bisa berhenti Tuhan? " kali ini Alanaka memutuskan untuk mengeluh kepada Tuhannya. Dia berharap semua keluhannya akan terjawab oleh Tuhannya.
"... Naka memang belum mencintai Nexlon. Tapi Naka sangat sayang padanya dan sangat menghormatinya sebagai seorang suami. Tapi kenapa! Nexlon tidak menghargai Naka sebagai seorang istri Tuhan? " Air mata Alanaka kembali hadir mengalahkan setetes air mata yang sempat jatuh kembali ke pipinya.
"Wajar kan Tuhan jika seorang manusia biasa mengeluh? Wajar kan Tuhan jika Naka pernah berfikir untuk menyerah? Naka tau bahkan sangat tau. Jika mengatasnamakan manusia itu salah padahal itu adalah keinginan hati Naka sendiri. Naka egois kan Tuhan?! "
"NAKA LELAH TUHAN! " Alanaka frustasi. Dia berteriak diruang terkutuk nan hampa itu. Ruangan yang berhasil menjadi saksi bisu bahwa dia itu lemah.
"Sekali itu sama Mama dan Papa. Sekarang sama Nexlon yang jelas-jelas adalah suamiku. Apakah jalan hidup ku serumit ini? "
"Kapan kebahagiaan akan menghampiriku? "
"AAA.. AKU LELAH " dengan segala ke frustasinya Alanaka berteriak, lalu mengacak-acak rambutnya. Dan kepalanya dia jedut kan ke dinding terus-menerus hingga mengeluarkan darah.
"AKU INGIN MENYERAH! Hiks... hiks... hiks.. " Tangis Alanaka dengan histeris, berbeda dengan tangisan pertamanya yang hanya pecah tanpa ke frustasian.
"KAPAN? KAPAN? KEBAHAGIAAN AKAN DATANG? "
"SELALU SEPERTI INI! MENDERITA DAN MENDERITA!! "
"AKU INI MANUSIA BIASA. YANG INGIN BAHAGIA TANPA MERASAKAN SAKIT!! " Wajar bukan Alanaka berkata seperti itu. Karena dia hanya ingin bahagia dan karena dia ingin berhenti dari rasa sakit.
"A-Aaku egois bukan? " Kali ini Alanaka berkata dengan lirih bukan teriak.
Tiba-tiba pandang Alanaka memburam, dia tidak tau apa penyebabnya. Tapi satu yang pasti dirinya seakan mengantuk hingga perlahan tapi pasti matanya tertutup, seiring kesadarannya menghilang. Mungkin itu adalah efek segala rasa sakit yang dia rasakan atau rasa lelah yang menyerangnya.
Menurut kalian rasa sakit yang diderita Alanaka. Apakah wajar atau justru sebaliknya tidak wajar? Dan juga. Apakah menurut kalian wajar jika Alanaka lelah dan berfikir untuk menyerah?.
Dia hanyalah manusia biasa yang bisa lelah, yang bisa merasakan sakit, dan yang bisa berfikir untuk menyerah.
Mungkin bersembunyi dari kata Manusia biasa bukan lah hal yang bagus. Karena sebenarnya itu adalah keegoisannya. Apakah kalian berfikir seperti itu? Tapi jujur kali ini Alanaka sangat lelah pada semua hal yang telah dia lalui dan dia jalani. Hanya saja saat ini adalah puncak dari habisnya kesabaran Alanaka pada semua hal yang berhasil membuatnya untuk menyerah.
... :...
... ***TO BE CONTINUE...
...----------------...
Hai para pembaca 🖖
Senja udah lama gak update. Kalian pada rindu gak sama cerita ini?
Senja sih berharap kalian rindu 😌
Oh iya selain udah lama gak update. Senja rindu loh sama spam komen kalian. Dan spam like kalian. Jadi... ehm.. bisa dong readers tersayang.
Senja yakin kalian pasti suka kan mendukung cerita ini. Dan kalian berharap cerita ini terkenal. Iya gak? Semoga iya 😌.
Oh iya kalian ada gak sih yang punya instagram gitu? Atau akun sosmed lainnya. Seperti tiktok, facebook, dll. Senja cuma nanyak doang kok, mana tau kita bisa saling follow. Yang mau di follow dan mem follow, readers bisa memberitahukan. Tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Karena Senja tidak maksa.
Yang udah sampai sini dulu episode cerita dan sapa-sapanya. Doakan juga yah Senja bisa rajin update 😅.
Babay... Readers...... 🖖***