Alanaka

Alanaka
Alanaka Pingsan



...HAPPY READING...


...:...


...----------------...


"Apakah tidur mu nyenyak Nexlon? " pagi ini Alanaka mendapatkan kesempatan bisa berduaan dengan Nexlon. Jangan berfikir aneh! Hal itu hanya sebatas Alanaka menemani Nexlon sarapan.


"Tidur ku sangat nyenyak. " tanpa diminta Alanaka menjelaskan tentang dirinya sendiri. Sedikit memalukan, tapi bagi Alanaka tidak apa bertingkah memalukan asalkan Nexlon bisa jatuh cinta padanya.


"Apakah sarapannya enak? "


"Jika kau berkehendak aku ingin bisa sarapan bersama dengan mu. " mencuri-curi kesempatan, Alanaka mengatakan keinginannya sebagai kode. Yah... itupun kalau Nexlon peka.


Alanaka memutar bola matanya dengan binggung. Semua topik yang dia keluarkan, terus-menerus musnah dengan ketidak responan yang diberikan Nexlon. Alanaka menjadi binggung ingin mengangkat topik seperti apa. Sedangkan Nexlon hanya acuh sambil menyantap sarapannya dengan tenang.


"Kalau ada orang ngomong tuh dijawab napa." menyindir sepertinya adalah ciri khas Alanaka.


"Nexlon kapan kau akan menyukaiku? " Alanaka bertanya dengan lirih. Namun, perkataannya ini sangat sensitif ditelinga Nexlon, sehingga Nexlon melirik Alanaka dengan sudut matanya.


"Apakah tidak lelah jika diam saja? Aku saja jika diam selama satu menit, sangat ingin rasanya berteriak. " tidak tepat saat ini untuk membicarakan masalah hati, jadi Alanaka mengalihkan perkataannya.


"Oh iya. Perkataan ku yang tadi tidak main-main. Memang aku ingin sekali bisa sarapan bersamamu, ah tidak... lebih tepatnya aku ingin sekali bisa makan bersamamu setiap saat. " membayangkan apa yang dia ucapkan, membuat Alanaka senyum-senyum sendiri.


"Ayolah respon perkataan ku. Sangat tidak enak jika berkata justru tidak mendapat respon. " keluh Alanaka dengan sedikit rengekan.


"Awas saja suatu saat aku akan membalas mu, jika kau sudah jatuh cinta padaku. Agar kau tau bagaimana rasanya berkata, tidak mendapatkan respon! " entah darimana datangnya keberanian Alanaka berkata seperti ini. Yang pasti semoga saja dia tidak mendapatkan hukuman.


" LENI. " teriak Nexlon memanggil Bibi Leni. Dari sekian menit dan detik saat ini terlewati Alanaka berdua bersama Nexlon, baru kali ini Nexlon membuka suara.


"Ya Tuan. "Mendengar teriakan Tuan Mudanya. Bibi Leni kalang kabut menghampiri sang Tuan. Dan disaat sampai didepan sang Tuan, dia membungkukkan tubuhnya penuh hormat.


"Buang semua makanan yang ada disni! " memberikan perintah mutlak tak ingin dibantah, baru setelah itu Nexlon berlalu pergi meninggalkan meja makan. Masih ada banyak hal yang perlu dia lakukan daripada mendengar bacotan wanita sialan! yang ternyata adalah istrinya.


Bibi Leni yang paham maksud sang Tuan, langsung menjalankan sesuai perintah yang telah diberikan. Yang artinya hari ini Alanaka akan kembali tidak mendapatkan jatah makanan.


'Apakah ini hukuman yang diberikan untuk ku? ' sudah tau jawabannya. Tapi menyangkal fakta tersebut, dengan pada dirinya sendiri.


'*Apakah hari ini aku akan kembali tidak makan? '


'Apakah perkataan ku yang tadi menyinggung dirinya*? ' dengan masih banyak pertanyaan di benaknya Alanaka menggeleng-geleng kan kepalanya, seolah mengatakan'itu semua tidak benar' .


"Bibi" Alanaka memanggil Bibi Leni dengan lirih, namun lagi dan lagi dia diacuhkan. Bibi Leni pergi meninggalkan Alanaka sendiri dan melanjutkan pekerjaannya sesuai perintah Nexlon.


Alanaka menundukkan kepalanya dengan lesuh. Membayangkan dirinya akan kembali tidak makan dan membayangkan apakah perkataannya menyinggung Nexlon sehingga dia memberikan perintah kepada Bibi Leni untuk membuang semua makanan sisa. Ah... membayangkan semua itu membuat Alanaka semakin lesuh saja.


Alanaka berlalu pergi dan memilih melalui pekerjaannya, dengan tidak semangat. Bagaimana ingin semangat? Jika hari ini dia kembali tidak mendapatkan jatah makanan!


"Ahhhh..." helaan napas lelah Alanaka, mengawali dirinya sebelum melanjutkan pekerjaannya.


📝📝📝


"Selamat datang Tuan Muda" semua para karyawan yang sedang berkumpul didepan pintu keluar perusak, menunduk hormat kepada Nexlon.


Tidak ada sapaan kembali dari Nexlon atau hanya sekedar anggukan kepala. Nexlon hanya memasang raut wajahnya dingin dan datar, menunjukkan betapa tidak bisanya dirinya disinggung. Langkah kaki penuh percaya diri mengiringi langkah kakinya, dan jangan lupakan dagunya yang terangkat dengan penuh keangkuhan, semakin menambah Poin plus pesona dalam dirinya.


'*Tuhan andaikan aku bisa memilikinya. '


'Aku tau Tuan Muda Argintata tidak akan bisa ku raih. Tapi tidak bisahkah Tuhan? Kau berikan seseorang sepertinya kepadaku? '


'Dia selalu tampan dan mempesona. '


'Aku tau dia hanya bisa dikagumi tanpa bisa dimilikinya'


'Tuan Muda Argintata hanya milik ku*! '


Berbagai batin para karyawan wanita ditujukan untuk Nexlon. Ada yang berharap bisa memiliki, ada yang memilih sadar diri, dan ada yang mengklaim dengan penuh obsesi. Begitu hebatnya pesona seorang Nexlon!


Ting


Lift khusus Direktur perusahaan terbuka. Dan Nexlon masuk kedalamnya, sekretarisnya yang awalnya mengikuti dia dari belakang harus berhenti dan pergi menaiki lift khusus para petinggi perusahaan. Dan kini tinggal lah Nexlon sendiri didalam lift, tidak ada yang berbeda dari raut wajah Nexlon.


Berbeda dengan Nexlon yang berada di lift sendiri. Sekretarisnya menaiki lift bersama tiga orang penting dalam perusahaan.


"Ada apa dengan bahu kiri anda Tuan Alder? " salah satu petinggi perusahaan yang berjenis kelamin perempuan, bertanya pada sekretaris Nexlon yang ternyata bernama Alder.


"Bukan urusan anda! " jawab Alder dengan nada ketus.


Ting


Kebetulan pintu lift terbuka, Alder keluar secara kebetulan dengan sang Tuan. Alder pun mengikuti langkah sang Tuan dari belakang dengan setia.


Wanita yang bertanya itu. Hanya bisa menelan ludah dengan kasar, dalam hatinya dia merasa sedih dan malu.


Saat sudah sampai diruangannya Nexlon duduk dibangku kebesarannya, lalu alisnya terangkat satu sambil menatap Alder.


Paham tentang jadwalnya apa saja. Nexlon mengusir Alder dengan melambaikan tangannya. Alder pun yang paham, membungkukkan tubuhnya sebagai tanda pamit pergi. Dan lalu pergi meninggalkan Nexlon sendiri diruangannya.


📝📝📝


Pekerjaan Alanaka saat ini sedang menggelap barang-barang mewah serta antik milik Nexlon disebuah tempat khusus yang lebih terkesan istimewa.


Dengan penuh kehati-hatian Alanaka menggelapnya. Satu, dua, dan tiga barang masih baik-baik saja. Tapi tidak untuk keempat!


Prank!


Rasa pusing dahsyat yang menyerang kepala Alanaka, membuatnya pecah konsentrasi. Hingga sebuah piala berbahan kaca pecah, dikala menyentuh lantai.


Rasa pusing dahsyat yang menyerang kepalanya, membuat kedua tangan Alanaka memegang kepalanya. Suara pecah dari piala tersebut tidak menjadi fokus Alanaka saat ini. Bahkan serpihan-serpihan kaca tersebut telah terinjak kaki Alanaka.


"Stttss... " Entah sakit pada kepalanya atau kakinya yang terinjak serpihan-serpihan kaca, yang membuat Alanaka meringgis sakit.


"Ah... Sakit! " Alanaka semakin memang kepalanya dengan erat. Sesekali dia akan menggeleng.


"Tidak-tidak ini sakit... "


Tidak tahan pada rasa sakit dikepalanya. Alanaka dengan spontan melangkahkan kakinya, sehingga kakinya semakin menginjak kepingan-kepingan kaca.


"AH..... SAKIT! " Alanaka mengarahkan kepalanya menatap langit-langit mansion. Ini adalah salah satu cara yang dia lakukan untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya, namun ternyata itu tidak mempan.


Tiba-tiba darah segar mengalir dari hidung Alanaka. Yang kemudian darah dari hidungnya bercampur dengan darah luka dari kakinya, darah yang keluar dari hidungnya terbilang deras.


"SAKIT..." tadi kepala, lalu kaki dan yang terakhir hidung. Apakah tidak bisa rasa sakit itu muncul satu persatu tanpa sekali gus? Alanaka tidak sanggup menahan rasa sakit itu semua, hingga Alanaka harus pingsan diatas serpihan-serpihan kaca tersebut.


"ASTAGA." Bibi Leni berteriak hebat. Dirinya menghampiri tubuh Alanaka yang sedang pingsan.


Secara kebetulan Bibi Leni pergi ke lantai dua. Namun, alangkah terkejutnya dia disaat mendapati ada banyak serpihan-serpihan kaca berserakan dilantai dan ada tubuh Alanaka yang tergeletak pingsan diatas serpihan-serpihan kaca tersebut.


Tidak tau mau melakukan apa, karena diserang panik, saat melihat tubuh Alanaka yang pingsan masih mengeluarkan darah dari kaki serta hidungnya. Tapi nama ' Nexlon ' tiba-tiba muncul dipikirkan Bibi Leni. Bibi Leni pun buruh-buruh lari ke lantai satu, saat sampai didepan telfon gengam. Bibi Leni langsung menekan nomor HP Nexlon.


Karena Bibi Leni adalah seorang kepala pelayan di mansion Nexlon, sehingga Bibi Leni dapat mengetahui nomor HP milik Nexlon. Itupun bisa dia dapatkan untuk melaporkan kejadian penting yang terjadi di mansion.


"H-halo Tuan Muda" saat sambungan telfon terhubung. Bibi Leni tidak membuang kesempatan langsung menyampaikan niatnya. Suara Bibi Leni juga terdengar panik.


"T-tuan Alanaka pingsan" heran! Mengapa Bibi Leni tidak menyebut Alanaka nyonya? Karena jawabannya adalah Alanaka bukanlah nyonya sebenarnya. So, Bibi Leni jadi menyebut namanya langsung, lagian itu semua perintah dari Nexlon.


"Saat saya pergi ke lantai dua, saya melihat banyak sekali serpihan-serpihan kaca bertaburan dilantai terlebih ada tubuh Alanaka yang tergeletak diatas serpihan-serpihan kaca tersebut. Darah segar terus mengalir dari kakinya yang terluka, mungkin karena terkena serpihan-serpihan kaca. Dan hidungnya yang ikut mengalirkan darah tanpa henti, saya tidak tau karena apa Tuan. "Bibi Leni menjelaskan dengan rinci.


" Apa yang h-hharus saya lakukan Tuan? Apakah saya harus menelpon dokter Tuan?" Bibi Leni bertanya dengan nada mengandung kekhawatiran.


"Tidak perlu! Biarkan dia seperti itu. "


Duarrr


Perkataan Nexlon barusan bagaikan suara petir yang menyambar ditelinga Bibi Leni.


"M-mmaksudnya Tuan? "


"Tidak usah menolongnya Leni! " akhirnya Nexlon bersuara. Setelah lama diam mendengarkan Bibi Leni berbicara.


"Tuan... " Bibi Leni berkata dengan lirih. Bibi Leni tidak menyangka Tuannya akan seperti ini pada istrinya sendiri, dia tau Tuannya itu kejam! Dan dia tau Tuannya itu membenci istrinya sendiri! Tapi tidak bisahkah....


"Kau tau pasti apa konsekuensinya! "


Tutt...


Sambungan telfon terputus. Bibi Leni terdiam pada keputusan yang disampaikan Tuannya. Kini Bibi Leni dilema ingin memilih apa, Apakah dia harus menolong Alanaka? Atau harus diam mengingat konsekuensi apa yang akan dia dapatkan?


"Berani membantah, maka anak mu akan mati! "


Perkataan Nexlon seketika terngiang-ngiang dipendengaran Bibi Leni. "Maafkan Bibi Naka" berkata seperti ini, sebelum tubuhnya runtuh berlutut dilantai.


...:...


...TO BE CONTINUE...


...----------------...


Ada yang ingin menyampaikan pesan... Pada :


Nexlon...


Alanaka...


...DAN...


Bibi Leni...